GPNesia.com – Mantan juara dunia MotoGP, Alex Criville, menilai bahwa Ducati tengah berada dalam situasi sulit di ajang MotoGP karena mereka tidak lagi mampu menentukan motor mana yang benar-benar menjadi “terbaik” di lintasan.
Situasi ini muncul di tengah perubahan besar yang terjadi pada jajaran Desmosedici dalam beberapa musim terakhir, terutama sejak hadirnya GP25 yang dinilai mengalami kemunduran dibanding pendahulunya.
Ducati sejatinya masih menjadi kekuatan dominan dalam beberapa tahun terakhir.
Pabrikan asal Italia itu bahkan mencatatkan performa luar biasa dengan Desmosedici GP24 yang disebut-sebut sebagai motor MotoGP terbaik yang pernah mereka produksi.
Motor tersebut berhasil mengantarkan kemenangan dalam 16 dari total 20 balapan, sebuah catatan yang menegaskan superioritas mereka di lintasan.
Namun, keadaan berubah ketika GP25 diperkenalkan. Alih-alih melanjutkan dominasi, motor terbaru itu justru menghadirkan berbagai masalah bagi para pembalap.
Hanya Marc Marquez yang disebut mampu beradaptasi dengan baik, sementara pembalap lain justru kesulitan menemukan rasa nyaman di atas motor tersebut.
Pecco Bagnaia menjadi salah satu yang paling vokal mengeluhkan kurangnya feeling terhadap GP25.
Hal serupa juga dirasakan oleh Fabio Di Giannantonio, sementara para pembalap yang masih menggunakan GP24 terlihat jauh lebih stabil dan nyaman dalam bersaing.
Situasi ini kemudian semakin kompleks ketika Franco Morbidelli juga mulai menghadapi masalah serupa seperti Bagnaia di musim berjalan.
Di tengah kondisi tersebut, Ducati dinilai kesulitan untuk mengulangi kesuksesan besar yang mereka raih dengan GP24.
Bahkan pada musim 2026, kemenangan pertama Ducati justru datang dari Alex Marquez di Jerez, bukan dari pembalap utama pabrikan.
Sementara itu, Aprilia mulai menunjukkan diri sebagai salah satu tim paling kompetitif di kelas utama.
Marc Marquez sendiri hingga saat ini belum mampu meraih podium pada balapan hari Minggu sepanjang musim, yang sebagian besar dikaitkan dengan kondisi fisiknya yang belum sepenuhnya pulih.
Namun, sorotan tidak hanya tertuju pada faktor kebugaran sang juara dunia delapan kali tersebut, tetapi juga pada motor Ducati yang dianggap tidak lagi konsisten seperti sebelumnya.
Dalam pandangan Alex Criville, situasi ini mencerminkan adanya krisis arah pengembangan di dalam tubuh Ducati. Ia menilai bahwa ketidakpastian mengenai spesifikasi motor terbaik menjadi salah satu faktor utama yang menghambat performa para pembalap.
Melalui pernyataannya kepada Mundo Deportivo, Alex Criville menjelaskan, “Marc Márquez sedang kesulitan. Jelas dia memiliki keterbatasan fisik yang mencegahnya merasa sepenuhnya nyaman, jadi kita akan lihat apakah dia mendapatkan kembali kepekaannya terhadap sepeda, mobilitas yang lebih baik, dan kekuatan yang lebih besar di anggota tubuhnya itu.”
Ia juga menambahkan bahwa kondisi Marquez diperparah oleh minimnya persiapan pramusim serta inkonsistensi Ducati saat ini.
“Ditambah lagi fakta bahwa dia hampir tidak menjalani uji coba pramusim, bahwa Ducati tidak lagi memiliki konsistensi yang sama seperti sebelumnya, dan muncul keraguan tentang versi motor mana yang terbaik,” lanjutnya.
Dalam perkembangan lain, Alex Marquez menyebut bahwa seluruh pembalap Ducati menghadapi masalah yang serupa dengan motor GP26, terutama ketika memasuki tikungan.
Karakteristik motor tersebut dinilai menyulitkan para rider untuk mempertahankan stabilitas saat pengereman dan masuk apex.
Perkembangan teknis Ducati pun disebut mengalami kemunduran sejak era GP24, yang sebelumnya sangat dominan.
Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan besar di paddock: apakah Ducati perlu kembali ke konsep dasar GP24 yang terbukti sangat sukses, atau terus mengembangkan arah baru yang belum tentu memberikan hasil lebih baik.
Menariknya, Pecco Bagnaia bahkan mengklaim bahwa dirinya akan mampu memenangkan balapan jika masih menggunakan GP24 pada musim 2026, mengingat ia masih kesulitan menemukan feeling ideal pada GP26.
Meski demikian, Marc Marquez menegaskan bahwa GP26 sebenarnya merupakan motor yang lebih baik dibanding GP24.
Hal ini diperkuat oleh kemenangan Alex Marquez di Jerez, di mana ia mencatatkan waktu tujuh detik lebih cepat dibandingkan performa tahun sebelumnya.
Menurut kubu Ducati, ini menjadi bukti bahwa potensi GP26 masih sangat besar jika dapat dioptimalkan dengan tepat.
Di sisi lain, Alex Marquez menegaskan bahwa pendekatan tim seharusnya tetap fokus pada pengembangan ke depan, bukan kembali ke spesifikasi lama.
Ia menilai bahwa meskipun GP24 sangat sukses, perkembangan teknologi harus terus bergerak maju agar Ducati tetap kompetitif di masa depan.
Dalam dinamika yang semakin kompleks ini, nama Alex Criville kembali menjadi sorotan karena analisisnya dianggap mencerminkan kekhawatiran banyak pihak terhadap arah pengembangan Ducati.
Ia menilai bahwa tanpa kejelasan filosofi teknis, Ducati berisiko kehilangan stabilitas yang selama ini menjadi kekuatan utama mereka.
Dengan berbagai masalah yang muncul di GP25 dan perdebatan seputar GP24 serta GP26, Ducati kini berada di persimpangan penting dalam perjalanan mereka di MotoGP.
Keputusan teknis yang diambil dalam waktu dekat akan sangat menentukan apakah mereka dapat kembali ke puncak dominasi atau justru semakin tertinggal dari para rival yang semakin kompetitif.







