GPNesia.com – Nasib pembalap muda Italia, Guido Pini, yang dikenal sebagai rival dari Veda Ega Pratama, mengalami perubahan yang sangat kontras dalam waktu singkat pada gelaran Moto3 Spanyol 2026.
Setelah sebelumnya tampil gemilang di seri Amerika Serikat dengan kemenangan bersejarah, Pini justru harus menghadapi akhir pekan yang penuh kekecewaan di Sirkuit Jerez, Spanyol.
Pada seri Amerika Serikat, Guido Pini tampil bak pahlawan. Ia berhasil mengamankan kemenangan perdana sekaligus menjadi podium tertinggi pertamanya bersama motor Honda.
Hasil tersebut sempat membuat namanya semakin diperhitungkan di ajang Moto3 musim 2026, terutama karena performanya yang stabil dan agresif sepanjang balapan.
Namun, situasi berbalik drastis ketika Moto3 Spanyol 2026 digelar pada 24–26 April 2026. Sejak sesi kualifikasi, Pini sudah mengalami kesulitan besar.
Ia hanya mampu menempatkan diri di posisi start ke-21, yang membuat peluangnya untuk bersaing di barisan depan menjadi sangat terbatas sejak awal.
Memasuki balapan utama di Jerez, pembalap Leopard Racing itu tetap berupaya bangkit. Ia mencoba menyalip satu per satu lawan meski kondisi trek dan persaingan sangat ketat.
Perlahan, Guido Pini sempat memperbaiki posisinya dan berhasil menembus zona poin. Namun, harapan itu tidak bertahan lama.
Nasib buruk menimpa Pini ketika balapan memasuki putaran ke-7. Saat mencoba menekan untuk mengejar rombongan depan, ia justru mengalami kecelakaan di tikungan 9.
Insiden tersebut membuatnya tidak dapat melanjutkan balapan hingga garis finis.
Dalam keterangannya setelah balapan, pembalap asal Italia itu mengakui bahwa pekan di Jerez memang menjadi salah satu yang paling sulit dalam kariernya sejauh ini.
Ia menjelaskan bahwa sejak awal akhir pekan, dirinya dan tim sudah kesulitan menemukan ritme yang tepat.
“Sejak awal, ini menjadi pekan yang sangat berat,” ungkap Guido Pini menggambarkan kondisinya.
Ia menambahkan bahwa meskipun sempat mencoba bertahan dan memperbaiki posisi secara bertahap, tantangan yang dihadapi terlalu besar.
Bahkan ketika sudah mendekati posisi 15 besar, tekanan untuk mengejar kelompok depan justru berujung petaka.
“Saya sudah berusaha naik posisi dan mengejar rombongan terdepan, tetapi saya akhirnya terjatuh di tikungan 9. Itu memang titik yang cukup menyulitkan saya sepanjang akhir pekan,” lanjutnya.
Pini juga menjelaskan bahwa kecelakaan tersebut terjadi karena dirinya melakukan pengereman sedikit terlambat dari biasanya. Situasi itu membuat motornya kehilangan kendali saat memasuki tikungan.
“Yang jelas, kami sudah mencoba semua yang kami bisa,” ujar Guido Pini menutup penjelasannya dengan nada kecewa.
Di sisi lain, rekan setimnya di Leopard Racing, Adrián Fernández, justru tampil sangat berbeda.
Pembalap asal Spanyol tersebut berhasil mengamankan podium kedua di hadapan publik sendiri.
Hasil itu menjadi pencapaian penting bagi Fernández setelah awal musim yang kurang konsisten.
Fernández mengaku sangat bahagia bisa meraih hasil maksimal di kandang sendiri. Menurutnya, podium di Jerez terasa sangat spesial karena menjadi titik balik setelah tiga seri pembuka yang tidak berjalan sesuai harapan.
“Meraih podium di depan penggemar sendiri benar-benar luar biasa,” kata Fernández.
Ia juga menegaskan bahwa meskipun sempat memimpin jalannya balapan dan berusaha menekan, ia harus mengakui keunggulan pembalap lain yang tampil lebih cepat di momen tertentu.
“Balapan di lap terakhir benar-benar kacau, tapi kami tetap tenang sampai akhirnya bisa membawa pulang podium penting ini,” tambahnya.
Kontras hasil antara Fernández dan Guido Pini di Moto3 Spanyol 2026 ini menjadi sorotan tersendiri. Jika satu pembalap mampu merayakan podium di kandang sendiri, maka pembalap lainnya justru harus pulang lebih awal akibat kecelakaan yang mengakhiri perjuangannya di lintasan Jerez.
