GPNesia.com – Pembalap Moto3 asal Indonesia, Veda Ega Pratama, terus mencuri perhatian di paddock Honda Team Asia berkat gaya balapnya yang dinilai tak biasa. Di lingkungan tim, ia bahkan mendapat julukan unik yang mencerminkan karakter berkendaranya di lintasan.
Rekan-rekan setimnya menyebut Veda dengan sebutan “Travis Pastrana Moto3”. Julukan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan menggambarkan gaya balapnya yang agresif, penuh keberanian, dan cenderung mengambil risiko tinggi dalam setiap kesempatan.
Pengamat sekaligus komentator MotoGP, Matteo Guerinoni, menjelaskan bahwa julukan tersebut merujuk pada sosok Travis Pastrana, legenda motocross yang dikenal luas sebagai stuntman ekstrem. Menurut Matteo, karakter Pastrana identik dengan aksi nekat dan tanpa rasa takut, baik di lintasan motocross maupun reli.
“Kalau orang Moto X pasti tahu. Travis Pastrana itu terkenal dengan aksi-aksi nekatnya, seperti berkendara tanpa rasa takut, baik di motocross maupun rally, seolah tidak ada hari esok,” ujar Matteo dalam Podcast MSGP YouTube sebagaimana dilansir GPNesia.com, Minggu 3 Mei 2026.
Label tersebut secara tidak langsung menggambarkan bagaimana Veda tampil di lintasan. Ia dikenal berani mengambil racing line ekstrem serta melakukan manuver yang jarang dipilih pembalap lain. Gaya ini membuatnya tampil menonjol di tengah ketatnya persaingan Moto3 yang terkenal dengan selisih waktu sangat tipis.
Aksi-aksi ekstrem Veda Ega Pratama juga banyak beredar di berbagai platform video. Dalam rekaman tersebut terlihat jelas bagaimana ia mampu mengendalikan motor dalam situasi sulit, sekaligus mempertontonkan keberanian yang menjadi ciri khasnya.
Performa pembalap muda Indonesia ini dalam beberapa seri terakhir memang menunjukkan peningkatan signifikan. Ia kerap melakukan overtaking di tikungan sulit, bahkan mampu merangsek dari posisi belakang ke barisan depan. Kepercayaan tim terhadapnya juga terlihat dari peran penting yang diberikan dalam strategi balapan.
Beberapa fakta memperkuat julukan tersebut. Selain sering menyalip di area sempit, Veda juga mampu mencatatkan peningkatan posisi secara drastis dalam satu balapan. Hal ini menjadikannya salah satu pembalap yang patut diperhitungkan di kelas Moto3 bersama Honda Team Asia.
“Gaya ini membuatnya menonjol di tengah persaingan ketat Moto3 yang terkenal dengan selisih waktu tipis antar pembalap,” kata Matteo menambahkan.
Di sisi lain, salah satu anggota Honda Team Asia mengungkapkan bahwa julukan tersebut bukan sekadar candaan. Ada rasa kagum terhadap keberanian Veda, namun juga disertai kekhawatiran. Pasalnya, gaya balap agresif seperti itu memiliki risiko tinggi, berada di batas tipis antara keberhasilan dan kecelakaan.
Dalam dunia balap, agresivitas memang sering menjadi pembeda. Namun, tanpa kontrol yang tepat, pendekatan tersebut bisa berujung pada insiden yang merugikan pembalap maupun tim.
Memasuki kalender balap Mei 2026, Veda Ega Pratama akan menghadapi tantangan besar. Setelah tampil di Spanyol, ia dijadwalkan menjalani tiga seri beruntun di Eropa dalam waktu kurang dari satu bulan bersama Honda Team Asia.
Rangkaian balapan tersebut meliputi GP Prancis di Sirkuit Bugatti Le Mans pada 10 Mei 2026, GP Catalunya di Sirkuit Barcelona-Catalunya pada 17 Mei 2026, serta GP Italia di Sirkuit Mugello pada 31 Mei 2026.
Musim 2026 menjadi fase penting dalam karier Veda. Dari empat seri awal Moto3, ia telah mengoleksi 37 poin dan menempati posisi keenam klasemen sementara. Capaian ini menunjukkan perkembangan signifikan dibandingkan musim sebelumnya.
Tiga balapan di bulan Mei akan menjadi ujian fisik dan mental bagi pembalap muda tersebut. Di sisi lain, momen ini juga menjadi peluang emas untuk meningkatkan posisi di klasemen sekaligus membuktikan konsistensinya di level internasional.
Dengan gaya balap khas yang berani dan penuh determinasi, Veda Ega Pratama kini tidak hanya membawa nama Indonesia, tetapi juga memperkuat identitas Honda Team Asia di ajang Moto3 dunia.
