GPNesia.com – Veda Ega Pratama menilai motor Honda Moto3 unggul di lintasan lurus berkat aerodinamika, namun kurang optimal di tikungan sempit.
Setiap motor yang digunakan dalam ajang balap grand prix memiliki karakteristik teknis yang tidak sama.
Ada yang dirancang lebih agresif saat memasuki tikungan, sementara lainnya lebih optimal ketika melaju di lintasan lurus dengan kecepatan tinggi.
Hal tersebut juga dirasakan pebalap Honda Team Asia di kelas Moto3, Veda Ega Pratama yang menilai bahwa motor Honda memiliki karakter kompetitif pada kondisi sirkuit tertentu.
Dalam penuturannya di Jakarta, Selasa (9/6/2026), Veda Ega Pratama menjelaskan bahwa motor balap Honda memiliki keunggulan utama pada aspek aerodinamika yang mendukung pencapaian kecepatan maksimal di trek lurus.
Karakter ini membuat motor Honda mampu bersaing kuat di lintasan yang menuntut top speed tinggi.
“Karena memang Honda, motor speknya lebih aerodinamis. Selain itu, di lintasan biasanya top speed motor Honda juga paling tinggi,” ujarnya.
Namun demikian, ia juga tidak menutup mata terhadap keterbatasan yang masih dimiliki motornya.
Menurut Veda Ega Pratama, salah satu tantangan terbesar terletak pada performa di tikungan sempit yang belum seoptimal beberapa motor pesaing di kelas Moto3.
“Cuma ya kekurangannya di tikungan yang sempit,” tambahnya.
Kondisi tersebut membuat tim harus bekerja lebih detail dalam mengatur setelan motor atau setup agar performa tetap stabil di berbagai karakter sirkuit.
Dalam balap Moto3, penyesuaian teknis menjadi faktor penting karena setiap lintasan memiliki tuntutan berbeda, baik dari sisi pengereman, akselerasi, hingga stabilitas saat menikung.
Motor Honda dinilai lebih cocok digunakan pada sirkuit bertipe mengalir atau flowing circuit, yakni lintasan dengan kombinasi tikungan cepat yang tersambung serta trek lurus yang cukup panjang.
Pada jenis sirkuit seperti ini, keunggulan aerodinamika dan kecepatan puncak dapat dimaksimalkan secara optimal.
Berdasarkan pengalamannya selama berkompetisi di Moto3, Veda Ega Pratama menyebut Sirkuit Catalunya di Barcelona, Spanyol, atau Montmelo sebagai salah satu lintasan yang paling sesuai dengan karakter motor Honda.
“Menurut saya ya Montmelo, Montmelo itu cocok,” ungkapnya.
Selain faktor motor, pemahaman terhadap karakter setiap sirkuit juga menjadi bagian penting dalam strategi balap. Secara umum, lintasan dalam kejuaraan dunia dapat dibedakan menjadi beberapa tipe berdasarkan karakteristik teknisnya.
Kategori pertama adalah sirkuit kencang atau fast flowing circuit. Jenis ini memiliki banyak tikungan cepat yang saling terhubung sehingga pebalap dapat menjaga kecepatan tinggi dalam waktu lama.
Contoh sirkuit dalam kategori ini antara lain Catalunya di Spanyol, Phillip Island di Australia, Silverstone di Inggris, serta Mugello di Italia. Pada lintasan seperti ini, stabilitas motor, aerodinamika, dan kemampuan menikung menjadi faktor utama.
Kategori kedua adalah sirkuit stop and go, yang ditandai dengan kombinasi lintasan lurus panjang dan tikungan tajam seperti hairpin.
Dalam kondisi ini, pebalap harus melakukan pengereman keras sebelum kembali berakselerasi.
Contoh sirkuit tipe ini meliputi Red Bull Ring di Austria, Motegi di Jepang, dan Buriram di Thailand. Di sini, akselerasi, kekuatan mesin, serta sistem pengereman sangat menentukan hasil balapan.
Kategori ketiga adalah sirkuit campuran yang menghadirkan kombinasi tikungan cepat, tikungan lambat, serta trek lurus panjang.
Karakter ini menuntut motor dengan keseimbangan performa di semua aspek. Beberapa contoh sirkuit campuran adalah Sepang di Malaysia, Circuit of the Americas (COTA) di Amerika Serikat, serta Lusail di Qatar.
Di tengah kompleksitas karakter lintasan tersebut, pengembangan motor menjadi faktor yang tidak kalah penting. Honda Team Asia sendiri menggunakan Honda NSF250RW sebagai motor utama di kelas Moto3.
Motor ini merupakan pengembangan lanjutan dari NSF250R yang pertama kali diperkenalkan pada 2012 sebagai pengganti RS125R bermesin dua-tak.
Secara spesifikasi, Honda NSF250RW memiliki panjang 1.809 mm, lebar 560 mm, tinggi 1.037 mm, jarak sumbu roda 1.219 mm, serta ground clearance 107 mm. Motor ini dibekali mesin satu silinder empat langkah DOHC berpendingin cairan dengan kapasitas 249,3 cc.
Mesin tersebut mampu menghasilkan tenaga maksimum sekitar 35,5 kW atau setara 47,6 daya kuda pada 13.000 rpm.
Untuk mendukung performa di lintasan, rangka menggunakan sasis aluminium twin tube yang ringan namun tetap rigid.
Selain itu, tangki bahan bakar berbahan aluminium dengan kapasitas 11 liter dirancang ramping guna menjaga distribusi bobot tetap optimal.
Dalam perspektif teknis dan pengalaman balap, Veda Ega Pratama menegaskan bahwa pemahaman terhadap karakter motor dan sirkuit menjadi kunci untuk bersaing di level Moto3.
Kombinasi antara keunggulan aerodinamika Honda dan penyesuaian setup yang tepat akan sangat menentukan hasil di setiap seri balapan.
