Scott Redding Soroti Dominasi Spanyol dan Italia di MotoGP

Scott Redding

GPNesia.com – Dominasi pembalap asal Spanyol dan Italia dalam ajang MotoGP kembali menjadi sorotan setelah pernyataan kritis dari pembalap Inggris, Scott Redding.

Ia menilai bahwa meskipun Liberty Media berupaya menciptakan susunan grid yang lebih merata secara global, kenyataannya dua negara Eropa selatan itu masih menjadi pusat kekuatan utama dalam kompetisi balap motor paling bergengsi di dunia tersebut.

Dalam komposisi pembalap musim ini, Spanyol tercatat memiliki sekitar sembilan wakil, sementara Italia menyusul dengan enam pembalap di kelas utama.

Kondisi ini menunjukkan kesenjangan signifikan dibanding negara lain yang hanya memiliki satu atau dua perwakilan, seperti Brasil, Afrika Selatan, hingga Turki.

Di sisi lain, Inggris menjadi salah satu negara besar yang tidak memiliki pembalap di kelas utama sejak kepergian Cal Crutchlow pada akhir musim 2020.

Scott Redding menilai kondisi tersebut bukan terjadi tanpa alasan, melainkan berkaitan erat dengan ekosistem finansial dan pengembangan pembalap di negara-negara dominan tersebut.

Ia menyebut Spanyol dan Italia sebagai “pusat gravitasi” MotoGP, baik dari sisi pendanaan, fasilitas, maupun jalur karier pembalap muda.

Menurut pandangannya, pembalap dari negara tersebut memiliki keuntungan besar karena akses terhadap sponsor, tim, dan fasilitas latihan yang lebih baik.

Hal ini membuat mereka lebih cepat berkembang dan lebih mudah masuk ke tim pabrikan dibandingkan pembalap dari negara lain yang harus berjuang lebih keras sejak level awal.

Dalam refleksinya, Scott Redding juga menyinggung perubahan regulasi yang terjadi pada era debut Marc Marquez di MotoGP.

Ia mengingat bahwa sebelumnya terdapat kebijakan tidak tertulis maupun aturan yang mendorong pembalap debutan untuk terlebih dahulu menghabiskan satu hingga dua musim di tim satelit sebelum dipromosikan ke tim pabrikan.

Namun, aturan atau kebiasaan tersebut berubah ketika Marquez langsung bergabung dengan tim Repsol Honda pada awal kariernya di kelas utama.

Perubahan pola tersebut, menurutnya, turut memengaruhi struktur persaingan di MotoGP modern. Pembalap berbakat kini dapat langsung masuk ke tim besar tanpa melalui proses bertahap yang sebelumnya dianggap penting untuk pengembangan kemampuan.

Lebih lanjut, Scott Redding menyoroti bahwa ketimpangan tidak hanya terjadi dalam hal kesempatan di lintasan, tetapi juga dalam aspek ekonomi.

Ia menekankan bahwa banyak pembalap non-Spanyol dan non-Italia harus mengeluarkan biaya tambahan untuk berlatih di negara tersebut karena pusat pelatihan terbaik berada di sana. Situasi ini membuat mereka harus “bermain di kandang lawan” bahkan sebelum balapan dimulai.

Ia juga menambahkan bahwa perbedaan pendapatan antar pembalap cukup mencolok, terutama bagi mereka yang berada di tim satelit.

Bayaran yang diterima sering kali jauh lebih kecil dibandingkan pembalap dari negara dominan, sementara tuntutan untuk tetap kompetitif sangat tinggi.

Dalam analisisnya, Scott Redding menyinggung contoh pembalap seperti Alex Rins. Ia mempertanyakan keputusan-keputusan karier yang diambil, termasuk kesempatan membela tim pabrikan meski performanya dinilai tidak selalu stabil akibat cedera dan inkonsistensi.

Namun ia juga mengakui bahwa faktor kebangsaan dan koneksi dalam dunia balap bisa menjadi salah satu elemen yang memengaruhi peluang seorang pembalap untuk mendapatkan kursi di tim besar.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud merendahkan kemampuan para pembalap Spanyol maupun Italia.

Menurutnya, mereka tetap merupakan bagian penting dari kualitas tinggi MotoGP saat ini. Namun ia menilai sistem yang ada telah membuat kompetisi menjadi kurang seimbang bagi pembalap dari negara lain.

Pada akhirnya, Scott Redding menyimpulkan bahwa menjadi pembalap asal Inggris dalam situasi seperti sekarang bukanlah hal yang mudah.

Ia menilai kurangnya representasi Inggris di MotoGP dan Moto2 merupakan fenomena yang cukup mengkhawatirkan, mengingat sejarah panjang negara tersebut dalam dunia balap motor.

Pernyataan ini kembali membuka diskusi mengenai pemerataan kesempatan dalam MotoGP, terutama terkait jalur pembinaan pembalap muda dan distribusi peluang menuju tim pabrikan yang selama ini dinilai masih berat sebelah.

Baca berita terbaru hari ini seputar MotoGP, Moto2, Moto3, F1 dan Otomotif di GPNesia.com melalui Google News + Facebook

Exit mobile version