GPNesia.com – Jim Redman menilai Marc Marquez bukan sekadar pembalap cepat, melainkan fenomena yang mengubah cara pandang dunia balap motor terhadap risiko, kecelakaan, dan batas kemampuan manusia di lintasan MotoGP.
Legenda balap motor yang kini telah berusia 94 tahun itu awalnya meragukan masa depan Marquez di ajang Grand Prix. Penilaian tersebut muncul karena gaya balap pembalap Spanyol itu yang kerap berujung insiden di lintasan. Namun, seiring waktu, pandangannya berubah drastis setelah mengamati lebih dekat kemampuan unik sang juara dunia tujuh kali tersebut.
Awal karier dan risiko besar yang membentuk Marquez
Sebelum menjadi dominator di MotoGP, Marquez mengalami salah satu momen paling berbahaya dalam kariernya pada musim 2011 ketika masih berlaga di kelas Moto2. Kecelakaan parah di GP Malaysia sempat mengancam masa depannya sebagai pembalap profesional. Insiden itu bahkan menyebabkan gangguan penglihatan ganda yang membuatnya harus menepi selama kurang lebih lima bulan.
Namun, alih-alih mengakhiri kariernya, Marquez justru bangkit. Ia berhasil merebut gelar juara dunia pada 2012, yang kemudian membuka jalan menuju kelas tertinggi MotoGP.
Sejak naik ke MotoGP, catatan statistiknya menunjukkan sisi ekstrem dari gaya balapnya: 32 kali gagal finis (DNF) dalam 210 kali start. Selain itu, antara awal 2020 hingga akhir 2023, ia juga harus absen dalam 30 balapan akibat komplikasi cedera serius pada lengannya.
Perubahan pandangan Jim Redman
Dalam sebuah wawancara dengan MARCA, Jim Redman mengakui bahwa pada awalnya ia melihat Marquez sebagai pembalap yang terlalu berani dan berisiko tinggi. Ia bahkan sempat menganggap pembalap tersebut tidak akan bertahan lama di level tertinggi.
Namun, penilaiannya berubah setelah menyaksikan pola balap Marquez di beberapa sirkuit, terutama Sachsenring dan Circuit of the Americas (COTA) di Austin—dua lintasan yang menjadi “ladang kemenangan” Marquez dengan total 15 kemenangan di kelas utama.
Redman menggambarkan bagaimana Marquez tampak selalu berada di ambang kecelakaan, tetapi tetap mampu mengendalikan situasi dengan cara yang tidak biasa.
Ia mengungkapkan bahwa pada awalnya dirinya berpikir Marquez hanyalah seorang pembalap yang akan sering jatuh. Dalam pandangan generasi balapnya, pembalap dengan tingkat insiden setinggi itu biasanya tidak memiliki karier panjang. Namun, asumsi tersebut terbantahkan oleh konsistensi Marquez yang justru mampu kembali lebih kuat setiap kali mengalami kecelakaan.
Menurut Redman, di Sachsenring Marquez berulang kali memasuki tikungan dengan kecepatan tinggi hingga ban depan kehilangan cengkeraman. Situasi yang bagi pembalap lain berarti kecelakaan, justru menjadi ruang bagi Marquez untuk menunjukkan insting luar biasa dalam mengendalikan motor yang hampir terjatuh di setiap putaran.
Hal serupa juga terlihat di COTA. Di lintasan tersebut, motor Marquez sering tampak tidak stabil: ban aus, bagian belakang tergelincir, hingga bagian depan kehilangan kendali. Namun, ia tetap menyerang tanpa mengurangi intensitas balapan.
“Berkendara di luar batas manusia”
Jim Redman kemudian menyimpulkan bahwa Marquez bukan sekadar pembalap agresif, melainkan sosok yang secara sadar menjadikan risiko sebagai bagian dari gaya balapnya. Ia menilai bahwa kecelakaan yang dialami Marquez bukanlah kegagalan, melainkan “harga” dari cara balap yang melampaui batas normal.
Dalam refleksinya, Redman menyebut bahwa ia telah melihat banyak pembalap hebat sepanjang hidupnya, tetapi Marquez memiliki karakter berbeda. Ia bukan hanya mendekati batas kemampuan motor dan manusia, tetapi seolah hidup di dalamnya.
Ia juga menegaskan bahwa Marquez kembali setiap kali jatuh, sesuatu yang menurutnya jarang terjadi dalam sejarah balap motor modern.
Status legenda dan perbandingan sejarah
Kini, Marquez telah mengoleksi tujuh gelar juara dunia MotoGP. Ia berpotensi menyamai rekor Giacomo Agostini dengan delapan gelar kelas utama, sekaligus melampaui rekor Valentino Rossi jika kembali meraih gelar tambahan.
Meski demikian, ia masih menghadapi persaingan ketat. Setelah tiga seri awal musim berjalan, Marquez tertinggal 36 poin dari Marco Bezzecchi dalam klasemen sementara.
Di usia yang sudah sangat senior, Jim Redman menilai bahwa diskusi tentang “pembalap terhebat sepanjang masa” selalu melibatkan nama-nama besar dalam sejarah. Namun, menurutnya, Marquez telah mengubah definisi kehebatan itu sendiri—bukan hanya soal menang atau bertahan, tetapi tentang kemampuan mengendalikan risiko ekstrem secara berulang.
Penilaian akhir seorang legenda
Pada akhirnya, Jim Redman menyimpulkan bahwa Marquez telah memaksa dirinya untuk meninjau ulang semua standar yang ia kenal sepanjang kariernya di dunia balap.
“Sepanjang hidup saya, saya mengira kehebatan adalah tentang bertahan di batas aman. Tapi Marquez membuat saya berpikir ulang,” demikian esensi pandangannya.
Dalam refleksi panjang itu, Jim Redman menyebut bahwa dari semua pembalap hebat yang pernah ia saksikan, hanya ada satu yang benar-benar menonjol sebagai yang terbaik dalam pandangannya: sosok yang mampu menjadikan hal yang tampak mustahil menjadi sesuatu yang rutin dilakukan di lintasan MotoGP.
Baca berita terbaru hari ini seputar MotoGP, Moto2, Moto3, F1 dan Otomotif di GPNesia.com melalui Google News + Facebook
