Max Verstappen dan Isack Hadjar Keluhkan RB22 di Sprint GP Kanada 2026

Max Verstappen dan Isack Hadjar Keluhkan RB22 di Sprint GP Kanada 2026
FOTO: FORMULA1.COM

GPNesia.com – Performa Red Bull RB22 kembali menjadi sorotan menjelang Sprint Grand Prix Kanada 2026 setelah dua pembalapnya, Max Verstappen dan Isack Hadjar, sama-sama mengeluhkan kondisi mobil saat menjalani Kualifikasi Sprint di Sirkuit Gilles Villeneuve, Montreal.

Situasi tersebut membuat keduanya harus memulai balapan Sprint 23 lap dari baris keempat grid pada Sabtu.

Max Verstappen tampil kurang kompetitif dibanding para rival utama dari Mercedes, McLaren, dan Ferrari. Juara dunia itu bahkan tertinggal lebih dari setengah detik dari George Russell yang sukses merebut pole position Sprint.

Hasil tersebut memperlihatkan bahwa Red Bull masih menghadapi persoalan serius dalam menemukan setelan terbaik RB22 di lintasan Kanada yang terkenal bergelombang.

Dalam keterangannya usai sesi, Max Verstappen mengaku tidak nyaman dengan perilaku mobil sepanjang putaran cepat.

Ia menyebut kendala terbesar muncul ketika mobil melintasi bagian trek yang tidak rata, sehingga memengaruhi kontrol dan konsistensinya saat memacu kecepatan.

“Saya tidak terkejut dengan hasil ini. Perasaan saya di dalam mobil memang tidak terlalu bagus dan saya sangat kesulitan mengendalikan mobil ketika melewati trek yang bergelombang,” ujar Verstappen.

Pembalap asal Belanda itu juga mengungkapkan masalah yang cukup tidak biasa ketika mengemudi. Menurutnya, getaran dan pantulan mobil membuat pijakan kakinya tidak stabil saat menginjak pedal.

“Saya tidak bisa menjejakkan kaki dengan kuat. Kaki saya bahkan sempat terlepas dari pedal. Itu membuat saya kesulitan menjaga konsistensi dan hal tersebut harus kami selidiki lebih lanjut,” katanya.

Meski kecewa dengan hasil Kualifikasi Sprint, Max Verstappen menegaskan tim masih memiliki pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan sebelum sesi kualifikasi utama Grand Prix Kanada berlangsung. Ia berharap ada peningkatan performa agar Red Bull dapat bersaing lebih baik.

“Hasil ini memang tidak bagus. Untuk Sprint kami harus menerima kenyataannya, tetapi masih ada beberapa hal yang perlu dipahami dan mudah-mudahan situasinya bisa sedikit lebih baik saat kualifikasi utama,” lanjutnya.

Sementara itu, Isack Hadjar mengaku sedikit lebih puas karena mampu memangkas selisih waktu dengan Verstappen dibandingkan saat tampil di Miami.

Pembalap muda tersebut sebelumnya mengalami kesulitan membangun ritme karena minim penggunaan ban lunak pada sesi latihan bebas tunggal.

Hadjar menjelaskan bahwa pada FP1 dirinya bahkan tidak sempat mencatatkan waktu menggunakan kompon lunak, sehingga referensinya sangat terbatas ketika memasuki sesi Sprint Qualifying.

“Di FP1 saya bahkan tidak mendapatkan catatan waktu menggunakan ban lunak, jadi referensi saya cukup buruk dan saya harus membangun kecepatan secara perlahan,” kata Hadjar.

Ia menambahkan bahwa performanya mulai membaik ketika memasuki SQ3. Meski demikian, ia mengakui masih ada persoalan besar pada mobil yang membuat dirinya dan Verstappen belum menemukan rasa percaya diri penuh di lintasan.

“Akhirnya saya mendapatkan sensasi yang cukup baik di SQ3 dengan ban lunak. Saya senang dengan lap terakhir itu dan jarak waktu dengan rekan setim saya juga lebih dekat dibandingkan di Miami, jadi ini cukup melegakan. Namun saat ini kami berdua memang belum merasakan sensasi yang baik di dalam mobil,” ujarnya.

Keluhan Hadjar sejalan dengan apa yang dirasakan Verstappen. Menurutnya, karakteristik Sirkuit Gilles Villeneuve yang dipenuhi permukaan bergelombang dan kebutuhan untuk agresif melibas trotoar menjadi tantangan besar bagi Red Bull RB22.

“Kami benar-benar kesulitan dengan pantulan mobil dan kondisi trek yang tidak ideal. Kami kehilangan banyak waktu di sana. Bahkan ketika tingkat cengkeramannya bagus, kami tetap tidak bisa memanfaatkannya secara maksimal,” tutur Hadjar.

Masalah tersebut menjadi sinyal bahwa Red Bull masih harus bekerja keras menemukan solusi teknis agar dapat kembali bersaing di barisan depan.

Dengan Mercedes, McLaren, dan Ferrari menunjukkan peningkatan performa yang signifikan, tekanan terhadap tim asal Austria itu diperkirakan akan semakin besar sepanjang akhir pekan Grand Prix Kanada 2026.

Exit mobile version