GPNesia.com – Grand Prix Kanada 2026 dipastikan menjadi seri penutup yang masuk dalam periode penilaian pertama kebijakan teknis FIA yang dikenal sebagai ADUO.
Awalnya, badan pengatur Formula 1 tersebut merancang sistem evaluasi dalam empat blok, masing-masing berisi enam akhir pekan balapan.
Namun, struktur itu akhirnya direvisi setelah pembatalan Grand Prix Timur Tengah pada April, yang memaksa FIA menyesuaikan kembali kalender dan mekanisme penilaian agar tetap relevan dengan jumlah balapan yang tersisa.
Dalam skema regulasi ini, pabrikan mesin yang tertinggal antara 2 hingga 4 persen dari performa mesin pembakaran internal (ICE) terbaik di grid akan memperoleh satu peningkatan tambahan untuk musim berjalan serta satu lagi untuk musim berikutnya.
Tidak hanya itu, mereka juga mendapatkan kenaikan alokasi anggaran pengembangan sebesar 3,0 juta dolar AS.
Sementara itu, jika defisit performa melebihi 4 persen, maka insentif yang diberikan meningkat menjadi dua peningkatan per musim serta tambahan dana pengembangan sebesar 4,65 juta dolar AS.
Menjelang keputusan final FIA, tensi di paddock sudah lebih dulu memanas. Sejumlah komentar dari tokoh penting tim menunjukkan adanya manuver politik tidak resmi.
Toto Wolff menilai bahwa ADUO seharusnya tidak menjadi “mekanisme lompatan” performa dan berpendapat bahwa hanya Honda yang benar-benar membutuhkan ruang peningkatan tambahan.
Di sisi lain, Charles Leclerc menyoroti bahwa Ferrari bahkan masih tertinggal dari Red Bull Ford dalam hal tenaga murni mesin pembakaran internal.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana hampir semua pihak mencoba memposisikan diri sebagai pihak yang kurang diuntungkan.
Namun, FIA menegaskan bahwa seluruh penilaian hanya berbasis data teknis, bukan pada opini publik atau pernyataan yang beredar di media.
Mengutip laporan Motorsport.com, ketika ditanya mengenai sejauh mana ia mengikuti komentar terkait unit daya Red Bull dan kebijakan ADUO, bos tim Laurent Mekies menanggapi dengan nada santai.
Ia menilai diskusi yang berkembang di paddock justru mencerminkan dinamika normal dalam persaingan Formula 1, meski ia enggan terlibat dalam spekulasi.
Mekies kemudian menekankan bahwa pencapaian Red Bull Ford Powertrains sebagai pendatang baru di era mesin baru sudah merupakan prestasi tersendiri.
Menurutnya, kemampuan mereka untuk bersaing di grid, setelah sebelumnya berada di posisi tertinggal dari Red Bull Racing beberapa tahun lalu, adalah lompatan besar yang patut diapresiasi.
Namun demikian, ia tidak menempatkan mesin Red Bull di posisi teratas dalam hierarki performa saat ini. Ia menilai bahwa Mercedes berada di puncak dalam hal performa powertrain secara keseluruhan, dan keunggulan tersebut berdampak signifikan karena mencakup banyak mobil di grid.
Di belakang Mercedes, lanjutnya, terdapat kelompok yang berisi Ferrari, Audi, serta Red Bull Ford sendiri. Kelompok ini dinilai memiliki jarak yang konsisten terhadap pemimpin dalam hal performa unit daya.
Dalam pandangan Red Bull, selisih dengan Mercedes diperkirakan lebih dari 2 persen, yang berarti kelompok tersebut berpotensi masuk dalam kategori penerima manfaat kebijakan teknis FIA.
Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan FIA yang akan menentukan selisih aktual dan implikasinya.
Direktur Ford Performance, Mark Rushbrook, menekankan bahwa interpretasi data sangat bergantung pada kondisi lintasan dan variabel teknis lain, sehingga ia mendorong agar FIA mempertimbangkan faktor tersebut.
Di sisi lain, Direktur Balap Mobil Single-Seater FIA, Nikolas Tombazis, menjelaskan bahwa setelah diskusi dengan seluruh tim dan pabrikan, prosedur penilaian memang sengaja dibuat sederhana.
Data akan dianalisis apa adanya tanpa menerapkan metode koreksi tambahan yang dianggap dapat memperumit proses evaluasi.
Dalam pernyataannya, Mekies juga sependapat dengan Wolff bahwa Honda merupakan pabrikan yang paling membutuhkan konsesi teknis.
Meski begitu, Honda sendiri memilih untuk tidak memberikan komentar spekulatif terkait posisi mereka dalam perhitungan tersebut.
Ia menambahkan bahwa pergerakan performa Honda dari belakang grid juga menjadi salah satu variabel yang diperhitungkan secara tidak langsung dalam dinamika kompetisi.
“Kami membaca arah perkembangan mereka dari belakang,” demikian pandangan Mekies, seraya menegaskan bahwa hasil akhirnya tetap bergantung pada perhitungan resmi FIA.
FIA sendiri telah menyatakan bahwa kepastian terkait hasil evaluasi akan diumumkan paling lambat dua minggu setelah Grand Prix Kanada 2026.
Artinya, keputusan tersebut akan keluar sebelum Formula 1 memasuki seri di Monaco, yang menjadi pembuka rangkaian balapan Eropa pada musim tersebut.
Dengan semakin dekatnya pengumuman resmi, kebijakan ADUO kini menjadi salah satu faktor teknis paling berpengaruh yang tidak hanya menentukan arah pengembangan mesin, tetapi juga berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan antar tim di musim berjalan.
