Gino Borsoi: Yamaha V4 Hambat Toprak di Debut MotoGP 2026

Avatar photo
Pramac Yamaha Gino Borsoi

GPNesia.com – Manajer tim Pramac, Gino Borsoi, secara terbuka mengakui bahwa motor Yamaha YZR-M1 bermesin V4 saat ini belum mampu memberi ruang bagi Toprak Razgatlioglu untuk menunjukkan kecepatan terbaiknya di ajang MotoGP, terutama sejak debut pembalap asal Turki itu pada musim 2026.

Yamaha sebelumnya berhasil meyakinkan Razgatlioglu untuk meninggalkan Kejuaraan Dunia Superbike (WSBK) pada musim ini, setelah ia menerima kontrak pabrikan berdurasi dua tahun untuk bergabung bersama tim Pramac di bawah naungan Yamaha.

Kepindahan yang diharapkan menjadi langkah besar dalam kariernya justru belum menghasilkan perkembangan signifikan, seiring dengan performa pabrikan Jepang tersebut yang tengah mengalami masa sulit setelah mengganti mesin empat silinder segaris menjadi konfigurasi V4.

Dalam empat seri awal musim, Yamaha tercatat menjadi konstruktor dengan perolehan poin terendah, hanya mengumpulkan 14 poin.

Situasi ini juga tercermin pada klasemen tim, di mana Yamaha dan Pramac menempati posisi terbawah. Bahkan Pramac baru mengantongi satu poin yang seluruhnya berasal dari Razgatlioglu.

Pembalap bernomor start tersebut baru berhasil mengamankan poin pertamanya di MotoGP saat finis di posisi ke-15 pada Grand Prix Amerika Serikat di seri ketiga.

Sementara itu, Fabio Quartararo menjadi pembalap Yamaha dengan posisi tertinggi di klasemen pembalap, berada di urutan ke-16 dengan 11 poin. Alex Rins menyusul di posisi ke-19 dengan tiga poin, masih lebih baik dibandingkan Razgatlioglu maupun Jack Miller.

Baik Razgatlioglu maupun Quartararo diketahui masih kesulitan beradaptasi dengan Yamaha V4 yang baru. Bahkan dalam balapan di Spanyol, Razgatlioglu sempat melontarkan rasa frustrasinya setelah finis di posisi ke-19 di Jerez, tertinggal 6,980 detik dari Miller yang berada di posisi ke-18. Ia mengaku kelelahan akibat terus berjuang dengan masalah pengereman mesin yang belum kunjung teratasi.

Menanggapi situasi tersebut, Gino Borsoi memahami kekecewaan sang pembalap yang sebelumnya merupakan juara dunia Superbike tiga kali pada 2025 sebelum naik kelas ke MotoGP.

Ia menegaskan bahwa tim Pramac saat ini tidak memiliki perangkat yang cukup kompetitif untuk memungkinkan Razgatlioglu maupun Miller bertarung secara optimal dengan Yamaha M1 terbaru.

“Dia ingin membuktikan bahwa dirinya cepat, tetapi sejauh ini belum berhasil karena beberapa alasan,” ujar Borsoi dalam kutipan yang dikutip dari Motosprint. “Pertama karena kurangnya pengalaman, dan kedua karena motor yang memang belum memungkinkan itu terjadi.”

Menurut Gino Borsoi, wajar jika seorang juara dunia seperti Razgatlioglu tidak menerima hasil buruk begitu saja setelah dominasinya di WSBK.

Ia juga menambahkan bahwa situasi serupa dialami rekan setimnya, Jack Miller, yang saat ini tidak memiliki motor yang bisa benar-benar bersaing di papan tengah maupun depan.

“Setelah meraih tiga gelar dunia, tentu sulit bagi dia untuk menerima ketertinggalan. Dia pembalap yang sangat bagus, banyak orang lain pasti sudah lebih dulu kehilangan kesabaran,” lanjut Borsoi. “Hal yang sama berlaku untuk Jack, saat ini kami belum bisa memberikan senjata yang tepat untuk bertarung.”

Selain faktor teknis motor, Borsoi juga menyoroti kesulitan adaptasi Razgatlioglu terhadap ban Michelin, yang berbeda jauh dengan ban Pirelli yang digunakan saat ia berlaga di WSBK.

Namun ia tetap menilai bahwa masalah utama tetap berada pada sistem pengereman mesin yang belum selaras dengan gaya balap sang pembalap.

“Masalah terbesar Toprak adalah memahami karakter ban,” jelas Gino Borsoi.

“Dia kesulitan besar saat mencoba menghentikan motor. Dia menyadari tidak bisa mengerem sesuai keinginannya, lalu muncul masalah pada engine braking. Saat ini motor yang mengendalikan dia, bukan sebaliknya.”

Borsoi menambahkan bahwa terdapat momen tertentu di mana Razgatlioglu justru mulai menemukan ritme, terutama di akhir balapan Jerez, ketika ia mencatat kecepatan lebih baik dibandingkan saat menggunakan ban baru. Hal itu menunjukkan adanya potensi, meski belum stabil.

“Kalibrasi engine braking belum sesuai dengan gaya berkendaranya. MotoGP sangat kompleks dibandingkan Superbike, dengan ribuan pengaturan elektronik yang harus disesuaikan,” tambahnya.

Di sisi lain, hanya pembalap wildcard Yamaha, Augusto Fernandez, yang finis di belakang Razgatlioglu pada GP Spanyol. Ia menyelesaikan balapan di posisi ke-20 dengan selisih 20,466 detik.

Sementara itu, Fabio Quartararo menjadi satu-satunya pembalap Yamaha yang berhasil mencetak poin di seri tersebut dengan finis ke-14.

Kondisi ini memperlihatkan tantangan besar yang masih harus dihadapi Yamaha dalam mengembangkan M1 V4 agar lebih kompetitif di lintasan MotoGP, sekaligus memberi kesempatan bagi para pembalapnya untuk benar-benar menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

Add as preferred source on Google

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain GPNesia.com.