GPNesia.com – Performa Yamaha di ajang Grand Prix Spanyol kembali menjadi sorotan tajam setelah hasil buruk yang didapatkan di lintasan.
Pembalap andalan mereka, Fabio Quartararo, mengaku tidak melihat adanya perkembangan berarti dari tim pabrikan Jepang tersebut usai menjalani balapan yang ia sebut sebagai salah satu akhir pekan paling berat musim ini.
Juara dunia MotoGP 2021 itu harus puas finis di posisi ke-14 pada balapan utama, sebuah hasil yang tidak memberikan kepuasan meskipun masih menghasilkan poin.
Sebelumnya, pada sesi kualifikasi hari Sabtu, ia kembali gagal menembus Q2 setelah terhenti di Q1 untuk ketiga kalinya dalam empat seri terakhir.
Ia hanya mampu mengamankan posisi start ke-17, tertinggal bahkan dari pembalap wildcard Augusto Fernandez dalam kondisi lintasan yang sulit, meski tetap menjadi yang tercepat di antara seluruh pembalap penuh Yamaha.
Pada Sprint Race, performanya sedikit lebih baik dengan finis di posisi ketujuh. Namun, gambaran sebenarnya dari kekuatan Yamaha terlihat jelas saat balapan utama berlangsung dalam kondisi kering penuh. Di sana, kesenjangan performa dengan para rival kembali terbuka lebar.
Dalam klasemen konstruktor, Yamaha masih tertahan di posisi kelima dengan hanya mengumpulkan 14 poin, tertinggal 25 poin dari Honda yang berada di atas mereka.
Kondisi ini mempertegas bahwa pabrikan garpu tala tersebut masih belum menemukan arah pengembangan yang efektif sepanjang musim berjalan.
Dalam wawancara bersama sejumlah media termasuk GPOne, Fabio Quartararo menegaskan bahwa dirinya tidak melihat adanya satu pun aspek yang bisa disebut sebagai keunggulan Yamaha musim ini.
Ia menilai berbagai solusi yang dicoba tim justru sering memunculkan persoalan baru tanpa menyelesaikan masalah utama.
Menurutnya, ia sudah memaksimalkan kemampuan yang dimiliki dari motor saat ini, namun hasil di lintasan menunjukkan penurunan signifikan dibanding musim sebelumnya.
Ia bahkan membandingkan situasi tahun lalu ketika masih mampu finis di posisi kedua pada seri yang sama, sementara tahun ini ia tertinggal hampir 30 detik dari pemenang.
“Sulit untuk menemukan area yang bisa saya katakan kami kuat. Grip, tenaga, pengereman, hingga akselerasi semuanya terasa bermasalah. Tidak ada bagian yang membuat saya nyaman,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Ia menambahkan bahwa setiap kali satu masalah berhasil sedikit diperbaiki, masalah lain justru muncul di sektor berbeda. Situasi tersebut membuat pengembangan motor terasa tidak pernah benar-benar menuju arah positif.
Pada seri sebelumnya di Austin, kelemahan Yamaha sangat terlihat di lintasan lurus panjang, di mana para pembalapnya kesulitan mempertahankan posisi.
Namun, Fabio Quartararo menilai masalah tim bukan hanya pada kecepatan puncak, melainkan juga kurangnya performa di tikungan yang membuat mereka tertinggal di hampir semua sektor.
Motor baru Yamaha dengan mesin V4 yang masih dalam tahap awal pengembangan disebut belum mampu memberikan solusi instan.
Meski begitu, para pembalap pabrikan tampak semakin frustrasi dengan kondisi yang ada, meskipun tim terus meminta kesabaran dalam proses pengembangan.
Dalam pernyataannya, Fabio Quartararo juga mengungkapkan bahwa ia tidak lagi merasakan kesenangan penuh saat mengendarai motor saat ini.
Ia menyebut bahwa tujuan utamanya kini adalah mencoba menemukan kembali rasa percaya diri dan kegembiraan dalam berkendara.
“Saya tidak sedang menikmati situasi ini. Yang saya inginkan hanya bisa kembali merasakan kesenangan saat berada di atas motor,” ujarnya.
Di tengah kondisi sulit tersebut, ia masih memiliki satu harapan kecil untuk bangkit di seri kandangnya yang akan berlangsung dua pekan mendatang.
Namun, ia juga mengakui bahwa peluang untuk mengulang performa pole position seperti musim lalu hampir mustahil terjadi tanpa perubahan besar yang bersifat luar biasa.
Dengan situasi yang terus stagnan, masa depan Yamaha kembali menjadi bahan perdebatan di paddock MotoGP. Apalagi, performa yang tidak kunjung membaik membuat tekanan terhadap tim semakin besar, baik dari pembalap maupun pengamat balap dunia.
