GPNesia.com – Davide Brivio akhirnya buka suara mengenai percakapan penting yang pernah ia lakukan dengan Suzuki terkait peluang merekrut Valentino Rossi.
Dalam pengakuannya, Davide Brivio menjelaskan bahwa rencana tersebut sempat menjadi pembahasan serius, namun tidak pernah terwujud karena sejumlah kendala krusial.
Valentino Rossi dikenal sebagai salah satu talenta terbesar dalam sejarah MotoGP.
Namun, memasuki fase akhir kariernya, ia sempat mengalami frustrasi, terutama saat memperkuat Ducati pada musim 2011.
Performa tim yang tidak sesuai ekspektasi membuat Rossi kesulitan bersaing di papan atas.
Sebagai pembalap dengan standar tinggi, Rossi tidak puas dengan hasil yang ia raih bersama Ducati.
Selama dua musim membela tim tersebut, ia gagal meraih satu pun kemenangan, sebuah catatan yang jauh dari reputasinya sebagai juara dunia.
Situasi itu membuatnya mulai mempertimbangkan opsi lain untuk melanjutkan kariernya.
Memasuki tahun 2013, Rossi активно mencari kursi baru. Pada momen inilah Suzuki mendekati Davide Brivio untuk membantu membuka komunikasi dengan sang pembalap.
Davide Brivio mengungkap bahwa pabrikan Jepang itu ingin merekrut Rossi untuk musim 2014, ketika mereka berencana kembali ke MotoGP setelah sempat mundur.
Dalam wawancara dengan Moto.it, Davide Brivio menjelaskan kronologi pendekatan tersebut. Ia menyebut bahwa Suzuki sebenarnya sudah menunjukkan minat, namun waktu menjadi kendala utama.
“Bukan di akhir kariernya. Ada momen ketika Suzuki pensiun di akhir tahun 2011. Kemudian mereka ingin kembali, dan akhirnya itu terjadi,” ujar Brivio.
Ia menambahkan bahwa dirinya memang dihubungi untuk menjajaki kemungkinan tersebut, mengingat saat itu ia bekerja dekat dengan Rossi dan masih terikat kontrak dengan Ducati untuk periode 2011-2012.
“Suzuki menghubungi saya untuk menanyakan apakah Valentino tertarik untuk balapan bersama mereka. Saya sedang bekerja sama dengan Valentino, dan kami memiliki kontrak 2011-12 dengan Ducati,” lanjut Davide Brivio.
Namun, Rossi memiliki rencana berbeda. Ia membutuhkan kepastian untuk musim 2013 dan tidak ingin menunggu hingga 2014. Hal ini menjadi titik krusial yang membuat negosiasi tidak berlanjut.
“Dia sedang mencari kursi di tahun 2013. Dia tidak bisa menunggu sampai 2014. Jadi dia bilang tidak, kita tidak bisa menunggu sampai 2014. Tapi kemudian, jujur saja, pada saat itu, Suzuki bukanlah motor yang benar-benar Anda inginkan…” jelas Davide Brivio.
Selain faktor waktu, performa Suzuki yang belum terbukti saat itu juga menjadi pertimbangan besar bagi Rossi. Meski ada komunikasi lanjutan, peluang tersebut akhirnya tidak berkembang menjadi kesepakatan.
“Namun Suzuki menghubungi saya untuk melihat apakah Valentino, yang mengetahui bahwa dia sedikit kecewa dengan Ducati, berkata, ‘Mungkin, kami bisa menawarkannya.’ Ada beberapa kontak mengenai hal ini,” tambah Davide Brivio.
Karena Suzuki bukan pilihan ideal, Rossi akhirnya memutuskan kembali ke Yamaha, tim yang telah memberinya kesuksesan terbesar sepanjang karier. Bersama Yamaha, ia melanjutkan perjalanan selama tujuh tahun berikutnya.
Meski tidak lagi berada di puncak performa seperti masa jayanya, Rossi tetap berusaha mengulang kesuksesan masa lalu. Ia bahkan menunda masa pensiun demi mencoba kembali kompetitif, meskipun hasilnya tidak sesuai harapan.
Kepulangannya ke Yamaha pada akhirnya menjadi penutup karier yang lebih emosional dibanding kompetitif. Namun demikian, kisah yang diungkap Davide Brivio ini menunjukkan bahwa jalur karier Rossi bisa saja berbeda jika keputusan dan waktu berpihak lain.
