GPNesia.com – Cal Crutchlow tidak menyepelekan sama sekali tantangan besar yang ia hadapi saat harus kembali turun ke lintasan MotoGP setelah hampir tiga tahun absen dari balapan kelas utama tersebut.
Comeback tak terduga ini terjadi ketika ia dipanggil kembali oleh mantan timnya, LCR Honda, untuk menggantikan pembalap cedera Johann Zarco pada ajang MotoGP Italia 2026 di Sirkuit Mugello.
Crutchlow sendiri telah resmi pensiun dari balapan penuh waktu sejak akhir musim 2020. Setelah itu, ia lebih banyak berperan sebagai pembalap penguji Yamaha serta sesekali tampil sebagai wildcard atau pengganti darurat.
Namun, sejak kontraknya bersama Yamaha berakhir, ia belum lagi mengendarai motor MotoGP hingga akhirnya panggilan dari LCR datang secara mendadak.
Pembalap asal Inggris berusia 40 tahun itu mengakui bahwa keputusan untuk kembali tidak datang dengan mudah.
Bahkan pada awalnya, ia sempat menolak tawaran tersebut karena merasa sudah terlalu lama tidak merasakan kecepatan motor prototipe MotoGP secara langsung.
Ia menceritakan bahwa kabar kecelakaan yang menimpa Zarco di Barcelona menjadi titik awal perubahan situasi. Setelah kejadian tersebut, ia dan tim mengirimkan doa terbaik agar sang pembalap segera pulih.
Namun tak lama berselang, manajemen LCR yang dipimpin oleh Lucio Cecchinello langsung menghubunginya untuk menawarkan kursi kosong tersebut.
“Awalnya saya menolak karena sudah lama sekali tidak naik motor,” begitu kurang lebih gambaran keraguan yang ia sampaikan dalam wawancara bersama MotoGP.com.
Situasi berubah ketika ia berbicara dengan keluarga di rumah, termasuk percakapan dengan istrinya yang mendorongnya untuk mempertimbangkan kembali kesempatan tersebut.
Dari obrolan itu, keputusan mulai bergeser. Meski ia mengakui ada banyak alasan untuk tidak mengambil risiko, pada akhirnya ia mengatakan “ya” dan berkomitmen penuh.
Ia bahkan menyebut bahwa ini bisa menjadi tantangan paling berat dalam hidupnya sebagai pebalap profesional.
Cal Crutchlow menegaskan bahwa adaptasi kembali ke MotoGP bukan hal sederhana. Ia belum berada dalam kondisi “racing fit” meskipun secara fisik tetap bugar.
Menurutnya, kecepatan dan ritme balap tidak bisa langsung kembali hanya dengan latihan kebugaran biasa, melainkan harus dibangun ulang dari setiap sesi di atas motor.
Target utamanya pun tidak muluk-muluk. Ia tidak menaruh ekspektasi untuk bisa bersaing dengan para pembalap aktif lainnya. Fokusnya hanya pada peningkatan konsistensi dan pemulihan feeling terhadap motor di setiap sesi latihan dan balapan.
Sirkuit Mugello yang dikenal teknis dan menuntut fisik tinggi menjadi tantangan tambahan. Ia menyebut trek tersebut sebagai salah satu yang paling sulit di kalender MotoGP, bahkan untuk pembalap yang berada dalam kondisi puncak sekalipun.
Menjelang balapan, ia juga sempat menjalani uji coba pribadi di Misano pada hari Rabu menggunakan Honda RC213V.
Dalam sesi tersebut, ia menilai bahwa meskipun ada perubahan pada aerodinamika dan perangkat elektronik, karakter dasar motor masih terasa familiar baginya.
Misano World Circuit Marco Simoncelli menjadi lokasi penting untuk mengembalikan adaptasi awalnya, terutama dalam memahami kembali prosedur start dan sistem perangkat balap modern yang kini sedikit berbeda dibandingkan era terakhirnya.
Ia juga mengakui bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal kecepatan, melainkan kenyamanan posisi tubuh di atas motor.
Setelah sekian lama tidak balapan, ia merasakan perubahan signifikan pada ergonomi, termasuk posisi setang dan postur berkendara yang perlu penyesuaian ulang.
Meski demikian, tidak ada tekanan besar yang dibebankan kepadanya maupun tim. Situasi ini dianggap sebagai kesempatan tanpa ekspektasi berlebihan, sehingga ia bisa fokus menikmati proses adaptasi kembali ke lintasan.
Dalam pernyataan yang sama, Cal Crutchlow juga menegaskan bahwa ia tidak akan kembali membalap untuk tim lain selain LCR Honda.
Ikatan emosional yang telah terjalin selama tujuh tahun bersama tim tersebut menjadi alasan utama ia menerima tawaran ini.
Ia bahkan menyebut LCR sebagai tempat di mana ia meraih kemenangan MotoGP dan menyimpan banyak kenangan penting dalam kariernya. Karena itu, ketika panggilan datang, ia merasa tidak ada alasan kuat untuk menolaknya.
Meski menyebut momen ini bisa dianggap seperti “kisah dongeng”, ia tetap realistis dengan kondisi yang ada.
Baginya, yang terpenting adalah melihat bagaimana performanya berkembang sepanjang akhir pekan balapan di Mugello, tanpa tekanan hasil akhir yang berlebihan.
