Axel Bassani Gagal Finis di Balaton Usai Masalah Teknis

Avatar photo
Axel Bassani Gagal Finis di Balaton Usai Masalah Teknis
Axel Bassani Gagal Finis di Balaton Usai Masalah Teknis.

GPNesia.com – Putaran Balaton menjadi akhir pekan yang pahit bagi Axel Bassani. Pembalap Bimota tersebut terpaksa mengakhiri Balapan 2 lebih awal setelah mengalami kendala teknis serius pada motornya, sehingga tidak mampu melanjutkan lomba sejak lap-lap awal.

Hasil ini jelas jauh dari ekspektasi, mengingat Axel Bassani sebelumnya berharap dapat tampil kompetitif di lintasan tersebut. Namun, kendala pada sistem pengereman membuatnya tidak punya pilihan selain mundur demi keselamatan.

Saat diwawancarai seusai balapan, pembalap asal Veneto itu menjelaskan penyebab utama insiden yang dialaminya. Ia mengungkapkan bahwa cakram rem depan mengalami masalah serius yang berdampak langsung pada performa motor.

“Cakram rem depan saya bengkok. Bahkan saat putaran pemanasan, bagian depan motor saya terkunci di Tikungan 5 karena getarannya yang hebat. Saya tetap mencoba melaju dua lap, tapi praktis mustahil balapan dalam kondisi seperti itu. Itu akan berbahaya baik bagi saya maupun pembalap lain. Mengapa ini terjadi? Katanya rem sangat cepat panas di lintasan ini dan kadang-kadang bengkok saat mendingin,” jelasnya.

Situasi ini menambah daftar tantangan yang dihadapi Axel Bassani dalam beberapa waktu terakhir. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kondisi sulit seperti ini bukanlah hal baru dalam perjalanan kariernya.

Ia mengakui bahwa menjaga motivasi menjadi tantangan terbesar ketika hasil buruk datang berturut-turut. “Yang paling sulit adalah tetap termotivasi: satu akhir pekan yang buruk bisa terjadi, tapi ketika mulai lebih dari satu, sulit untuk tetap tenang dan termotivasi 100%. Tapi kita terus maju: lakukan pekerjaanmu dan momen-momen terbaik akan datang,” ujarnya.

Pembalap asal Feltre tersebut kini mulai mengalihkan fokus ke seri berikutnya yang akan digelar di Most. Ia menyadari bahwa lintasan tersebut juga tidak mudah, namun tetap optimistis bisa memperbaiki performa.

“Most akan menjadi lintasan sulit lainnya. Kita mulai dengan tenang dan lihat bagaimana situasinya. Faktanya, kecepatan saya tidak buruk, karena saya selalu berputar lebih kurang seperti Alex. Masalahnya, di kualifikasi kita tidak pernah berhasil dan sering salah strategi. Kita akan berusaha memperbaiki hal ini, karena jika bisa start di 10 besar, balapan akan menjadi cukup menarik,” tambahnya.

Selain kendala teknis, ia juga menyoroti keterbatasan motor KB998 yang digunakannya. Menurutnya, salah satu masalah utama adalah kesulitan saat pengereman yang berdampak pada performa keluar tikungan.

“Menghentikan motor sangat sulit, kami terlalu melayang. Akibatnya, kami melaju buruk dan keluar tikungan dengan buruk. Ini adalah batasan yang kami miliki dan kami berusaha menyesuaikan diri sebisa mungkin,” ungkapnya.

Di sisi lain, masa depan pembalap Italia ini bersama Bimota masih menjadi tanda tanya. Tim disebut memiliki keinginan untuk memperpanjang kontraknya, namun keputusan belum akan diambil dalam waktu dekat.

“Kami akan membicarakannya dengan tenang dan tanpa terburu-buru. Mereka akan melakukan evaluasi mereka dan saya akan melakukan evaluasi saya untuk masa depan saya. Apa yang saya inginkan? Ada banyak hal yang saya inginkan. Saya sudah memintanya kepada Sinterklas, tapi dia tidak pernah memberikannya kepada saya,” ujarnya sambil bercanda.

Sementara itu, dominasi Ducati di klasemen Kejuaraan Dunia Superbike juga menjadi sorotan. Dengan delapan motor mereka berada di sepuluh besar, persaingan terlihat semakin berat bagi tim lain.

Meski demikian, ia memilih untuk melihat situasi ini secara objektif. “Hari ini ada delapan Ducati di sepuluh besar, tapi apa yang bisa kamu katakan kepada mereka? Saya berpendapat bahwa jika seseorang bekerja lebih keras dan lebih baik dari kamu, lebih berkomitmen, memiliki lebih banyak teknisi, dan lebih banyak motor di lintasan, lalu mengalahkanmu, kamu hanya bisa mengeluh sampai batas tertentu. Jika tidak, kamu malah akan menghalangi hal positif, yaitu pengembangan dan usaha yang mereka lakukan. Menghentikan orang lain selalu terlalu mudah,” tegasnya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa fokus utamanya adalah memperbaiki performa diri sendiri dan tim, daripada mencari alasan dari luar.

Add as preferred source on Google

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain GPNesia.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *