Aston Martin Benar-Benar Hancur, Prediksi Will Buxton Soal Masa Depan Tim

Aston Martin

GPNesia.com – Komentator Formula 1 Will Buxton melontarkan pandangan keras mengenai masa depan tim Aston Martin, dengan menyebut bahwa kondisi jangka panjang tim tersebut bisa berada dalam situasi “benar-benar hancur”.

Ia bahkan mempertanyakan siapa sosok yang bersedia mengambil alih tanggung jawab sebagai kepala tim di tengah situasi yang dinilainya penuh ketidakpastian.

Pernyataan itu muncul setelah rangkaian drama pada akhir Maret yang melibatkan Jonathan Wheatley. Saat itu, Wheatley dikabarkan meninggalkan Audi secara mendadak di tengah spekulasi bahwa ia akan bergabung dengan Aston Martin sebagai kepala tim baru.

Posisi tersebut disebut-sebut berkaitan dengan peran yang saat ini berada dalam struktur kepemimpinan yang juga melibatkan Adrian Newey di tim berbasis Silverstone tersebut.

Meski pihak Aston Martin telah membantah rumor pergantian tersebut dan menyebutnya sebagai spekulasi, isu yang berkembang menyebut bahwa penataan ulang struktur itu bisa membuat Newey kembali fokus pada aspek teknis, sementara posisi kepala tim tetap menjadi jabatan yang diperebutkan dan penuh tekanan.

Dalam podcast Up to Speed, Buxton mengaku sempat mendiskusikan isu tersebut dalam lingkaran kecilnya.

Ia mempertanyakan logika di balik seseorang yang mau menerima pekerjaan tersebut, karena menurutnya siapa pun yang mengambil peran itu akan menghadapi risiko kegagalan dalam satu hingga dua tahun pertama akibat kondisi tim yang belum stabil.

Seperti GPNesia kutip dari laporan Crash, ia juga membandingkan situasi yang dihadapi Aston Martin dengan pengalaman McLaren saat bekerja sama dengan Honda pada era 2015.

Menurutnya, kerja sama tersebut merupakan salah satu contoh kegagalan besar dalam Formula 1 modern yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki sebelum akhirnya menghasilkan kemenangan kembali.

Sebagai perbandingan, McLaren baru mampu kembali meraih kemenangan Grand Prix beberapa tahun setelah periode sulit tersebut, sementara Honda sendiri baru benar-benar menemukan kembali performa kompetitifnya setelah bergabung dengan tim berbeda di kemudian hari.

Buxton menilai bahwa jika seseorang saat ini mengambil alih kepemimpinan di Aston Martin, maka mereka harus siap menghadapi kemungkinan bahwa perbaikan signifikan mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat, bahkan bisa berlanjut hingga akhir dekade ini.

Lebih lanjut, ia menggambarkan bahwa proyek mesin Honda di masa lalu sebagai gambaran betapa sulitnya membangun kembali daya saing di Formula 1 modern, terutama ketika perubahan regulasi dan kompleksitas teknis semakin tinggi.

Saat ini, Aston Martin disebut tengah menargetkan peningkatan besar melalui regulasi baru pada unit daya dan sasis yang diharapkan membuka peluang kompetitif lebih luas.

Namun kenyataannya, performa tim justru belum menunjukkan peningkatan signifikan dan bahkan masih kesulitan bersaing dengan tim pendatang baru seperti Cadillac, sembari menghadapi masalah keandalan yang terus berulang.

Situasi semakin rumit karena era pembatasan anggaran atau cost cap yang diberlakukan sejak 2021 membuat tim tidak lagi bisa mengandalkan pengeluaran besar untuk menyelesaikan masalah secara instan. Kondisi ini menuntut strategi jangka panjang yang lebih presisi dan terukur.

Buxton juga menyinggung pandangan pemilik tim bahwa meski memiliki sumber daya finansial besar, regulasi saat ini membatasi fleksibilitas belanja.

Ia menekankan bahwa keberhasilan kini lebih bergantung pada sistem kerja, arah pengembangan, dan konsistensi manajemen, bukan sekadar kekuatan finansial.

Pada akhirnya, ia mempertanyakan kembali siapa yang benar-benar bersedia mengambil posisi puncak di Aston Martin, mengingat tekanan besar, risiko jangka panjang, serta ketidakpastian dalam mencapai target kemenangan di masa depan yang masih sangat jauh.

Baca berita terbaru hari ini seputar MotoGP, Moto2, Moto3, F1 dan Otomotif di GPNesia.com melalui Google News + Facebook

Exit mobile version