GPNesia.com – Kabar duka datang dari dunia olahraga internasional. Alex Zanardi, mantan pembalap Formula 1 yang kemudian menjelma menjadi legenda Paralimpiade dengan torehan empat medali emas, meninggal dunia pada usia 59 tahun. Kabar wafatnya dikonfirmasi langsung oleh pihak keluarga melalui pernyataan resmi.
Alex Zanardi tidak lagi terlihat di hadapan publik sejak mengalami kecelakaan lalu lintas serius pada Juni 2020. Saat itu, ia tengah mengendarai sepeda tangan di jalanan Italia, negara kelahirannya, ketika bertabrakan dengan sebuah truk.
Insiden tersebut menyebabkan cedera wajah parah yang memaksanya menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Ia dirawat hingga Desember 2021 sebelum akhirnya diperbolehkan pulang untuk melanjutkan proses rehabilitasi di rumah. Sejak saat itu, Zanardi tidak pernah muncul di depan umum.
Perjalanan karier Alex Zanardi di dunia balap dimulai dari Formula 1, di mana ia berpartisipasi dalam 41 grand prix bersama tim Jordan, Minardi, Lotus, dan Williams dalam rentang waktu 1991 hingga 1999.
Setelah sempat meninggalkan F1 pada 1994 dan beralih ke Amerika Serikat, ia mencatatkan kesuksesan besar di ajang CART bersama Chip Ganassi.
Ia meraih gelar juara dua kali, termasuk musim 1998 yang sangat dominan dengan tujuh kemenangan dari 19 balapan serta delapan podium tambahan, mengalahkan Jimmy Vasser dalam perebutan gelar.
Kesuksesan tersebut membawanya kembali ke Formula 1 pada 1999 bersama Williams. Namun, kembalinya tidak berjalan sesuai harapan.
Ia gagal meraih poin sepanjang musim dan tidak masuk klasemen pembalap setelah mengalami 10 kali gagal finis dari total 16 balapan.
Hasil terbaiknya hanya posisi ketujuh di Monza, di saat hanya enam pembalap teratas yang berhak mendapatkan poin.
Setelah absen dari dunia balap pada tahun 2000, Zanardi kembali ke ajang CART bersama Mo Nunn Racing. Namun, tragedi besar terjadi pada 15 September 2001 di Lausitzring, Jerman.
Dalam sebuah kecelakaan hebat, mobilnya kehilangan kendali saat keluar dari pit dan masuk ke lintasan oval sebelum ditabrak oleh Alex Tagliani dengan kecepatan sekitar 200 mph.
Kecelakaan tersebut menyebabkan Zanardi kehilangan kedua kakinya, kehilangan sekitar 75 persen volume darah, serta mengalami patah panggul dan koma yang diinduksi secara medis.
Ia akhirnya sadar pada 20 September dan dipulangkan ke Italia pada 30 Oktober untuk menjalani rehabilitasi panjang.
Semangat juangnya luar biasa, bahkan pada 2003 ia kembali ke lintasan untuk menyelesaikan 13 lap terakhir yang belum sempat ia tuntaskan dalam balapan yang berujung kecelakaan tersebut.
Meski mengalami cedera berat, Alex Zanardi tidak berhenti berkompetisi. Ia kembali ke dunia balap melalui ajang mobil touring dan bahkan ikut serta dalam balapan ketahanan Daytona 24 Jam 2019 dengan mobil BMW M8 yang telah dimodifikasi khusus.
Pada 2006, ia juga sempat mengendarai mobil BMW Sauber F1 di Valencia, Spanyol.
Di luar balap mobil, Zanardi menemukan panggilan baru dalam balap sepeda tangan. Ia tampil mengesankan dengan finis keempat di Maraton Kota New York 2007 serta meraih kemenangan di Roma pada 2010.
Puncak prestasinya hadir di Paralimpiade London 2012, saat ia mempersembahkan dua medali emas untuk Italia di kelas H4, masing-masing pada uji waktu jalan raya dan balapan jalan individu.
Ia kembali berjaya di Paralimpiade Rio 2016 dengan dua medali emas di nomor uji waktu H5 dan estafet tim campuran H2-5.
Selain itu, Zanardi juga meraih medali perak di kedua edisi Paralimpiade tersebut serta mengoleksi total 12 medali emas di Kejuaraan Dunia, menegaskan statusnya sebagai salah satu atlet Paralimpiade paling sukses.
Dalam pernyataan yang dirilis melalui media sosial, keluarga menyampaikan duka mendalam atas kepergian Alex Zanardi.
Mereka menyebut bahwa Zanardi meninggal dunia dengan damai pada malam 1 Mei, dikelilingi oleh cinta dari keluarga terdekat.
Pihak keluarga juga mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan serta meminta privasi selama masa berkabung. Informasi mengenai prosesi pemakaman akan diumumkan kemudian.
Kepergian Alex Zanardi meninggalkan jejak mendalam, tidak hanya di dunia balap tetapi juga dalam olahraga difabel.
Kisah hidupnya menjadi simbol ketangguhan, keberanian, dan semangat pantang menyerah yang menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia.







