GP Nesia – Balapan MotoGP Catalunya 2026 yang berlangsung di Sirkuit Barcelona akhir pekan lalu menjadi salah satu Grand Prix paling kacau sepanjang musim ini.
POIN PENTING
- MotoGP Catalunya 2026 berlangsung kacau dengan tiga kali start, dua red flag, banyak crash, serta beberapa pembalap mengalami cedera, sebelum akhirnya dimenangkan Fabio Di Giannantonio pada start ketiga.
- Jorge Lorenzo menyoroti sejumlah insiden besar, termasuk kecelakaan Alex Marquez, Pedro Acosta, serta tabrakan Zarco–Marini–Bagnaia, dan menilai beberapa momen nyaris berakibat fatal namun masih beruntung tidak lebih parah.
- Lorenzo juga mengkritik manuver agresif Raul Fernandez terhadap Jorge Martin serta menyoroti tingginya risiko di Sirkuit Barcelona, terutama pada awal balapan, yang menurutnya perlu pengurangan kecepatan untuk meningkatkan keselamatan.
Legenda balap Jorge Lorenzo mencoba mengurai berbagai insiden besar yang terjadi, mulai dari tiga kali start, dua red flag, hingga sejumlah crash keras yang melibatkan banyak pembalap serta insiden kontroversial di lintasan.
Balapan penuh insiden: tiga start dan dua red flag
Grand Prix Barcelona kali ini harus diulang hingga tiga kali akibat serangkaian kecelakaan besar yang memaksa balapan dihentikan dua kali melalui red flag.
Situasi semakin memburuk dengan adanya beberapa pembalap yang mengalami cedera serta banyak manuver salip-menyalip yang diperdebatkan.
Pada akhirnya, balapan yang sah pada start ketiga berhasil dimenangkan oleh Fabio Di Giannantonio. Menariknya, kemenangan tersebut terjadi setelah ia sebelumnya sempat terjatuh akibat tersenggol ban depan Alex Marquez yang terlepas di lintasan.
Analisis Jorge Lorenzo terhadap insiden Alex Marquez dan Acosta
Dalam penjelasannya, Jorge Lorenzo menyoroti momen ketika Pedro Acosta mengangkat tangan sebagai tanda motornya mengalami masalah teknis.
Kondisi itu membuat Alex Marquez yang berada tepat di belakangnya tidak memiliki ruang untuk menghindar.
“Alex tidak punya waktu untuk bereaksi karena penurunan kecepatan KTM terjadi sangat tiba-tiba. Sasis motor tampaknya sudah mengalami kerusakan. Dia berusaha memiringkan tubuhnya untuk menghindari benturan ke dinding. Ban, suspensi, dan berbagai komponen lain terlepas. Beruntung salah satu ban hanya sedikit mengenai Di Giannantonio,” ungkap Lorenzo.
Melihat kecelakaan keras tersebut, Jorge Lorenzo mengaku benar-benar terkejut hingga kehilangan kata-kata.
“Saya seperti membeku. Membayangkan jika kita berada di posisi keluarga Alex atau timnya, lebih baik tidak terburu-buru berkomentar,” ujarnya.
Crash Zarco, Marini, dan Bagnaia yang berujung cedera
Insiden besar juga terjadi pada start kedua ketika Johann Zarco bersenggolan dengan Luca Marini saat melakukan pengereman di tikungan pertama, yang kemudian menyeret Pecco Bagnaia hingga terjatuh bersama.
Menurut Jorge Lorenzo, Zarco masih dalam proses menyesuaikan titik pengereman saat kecelakaan terjadi. Hal itu membuat kontak tidak terhindarkan hingga tubuhnya tersangkut pada motor Bagnaia.
“Zarco masih mencari momen tepat untuk mengerem, melepas, lalu mengerem lagi. Saat masuk gravel, tubuhnya terpental dan di situ cedera terjadi. Padahal tanpa insiden itu, dia bisa bersaing di barisan depan karena kecepatannya lebih baik dari beberapa pembalap di depannya,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa Zarco dan Alex Marquez beruntung tidak mengalami cedera lebih parah.
“Kita harus bersyukur atas keberuntungan mereka. Jika melihat dari gambar atau video, dampaknya bisa jauh lebih buruk,” tambahnya.
Kritik terhadap manuver Raul Fernandez
Sorotan lain datang dari manuver Raul Fernandez terhadap Jorge Martin pada start ketiga, yang membuat sang juara dunia MotoGP 2024 gagal finis.
Jorge Lorenzo menilai aksi tersebut tidak dilakukan dengan timing yang tepat.
“Raul sebenarnya tidak melakukan overtake dengan benar. Dia tidak memberi Martin kesempatan untuk meluruskan motor atau memperbaiki posisi. Perbedaan antara overtake yang bersih dan yang layak penalti ada pada waktu kedatangan di tikungan. Jika datang terlambat saat pembalap lain sudah miring, di situlah masalah muncul,” tegasnya.
Ia juga mengakui bahwa dirinya pernah melakukan gaya balap agresif serupa di masa lalu.
“Dulu saya seperti Raul Fernandez. Saat di 250cc saya sering melakukan manuver terlalu agresif dan pernah mendapat penalti. Dari situ saya belajar memilih momen menyalip dengan lebih baik dan menghindari kontak langsung dengan lawan,” ungkapnya.
Menurutnya, Fernandez adalah salah satu pembalap paling agresif di grid, namun tetap harus memiliki batas. Ia juga mempertanyakan tidak adanya penalti dari Race Direction atas insiden tersebut.
Acosta sempat memimpin sebelum insiden akhir
Pedro Acosta sempat memimpin jalannya balapan meski hanya beberapa lap. Ia mampu memberikan tekanan besar kepada para rival, termasuk Di Giannantonio, sebelum akhirnya terjatuh di lap terakhir setelah tersenggol Ai Ogura.
“Acosta kembali berada di posisi terdepan. Overtake penting dilakukan Di Giannantonio yang membuatnya berada di posisi ideal untuk tikungan berikutnya, dan Acosta tidak bisa merebutnya kembali,” jelas Jorge Lorenzo.
Barcelona disebut sangat berbahaya di awal balapan
Lebih jauh, Lorenzo menilai Sirkuit Barcelona memiliki tingkat risiko tinggi terutama pada fase awal balapan. Kecepatan mendekati 300 km/jam diikuti pengereman keras dalam jarak sempit menciptakan situasi yang sangat rawan kecelakaan.
“Kita datang dengan kecepatan hampir 300 km/jam lalu tiba-tiba harus mengerem dalam kondisi ramai. Hanya ada satu racing line antara tikungan 1 dan 2. Di awal lap, pembalap masih mencari titik pengereman sehingga risiko kontak sangat tinggi,” jelasnya.
Sebagai solusi, ia menyarankan pengurangan kecepatan saat memasuki tikungan pertama agar situasi lebih terkendali. “Jika kita datang 40 hingga 50 km/jam lebih lambat, semuanya bisa jauh lebih presisi,” tutupnya.







