GPNesia.com – Performa pembalap muda Indonesia Veda Ega Pratama pada musim debutnya di ajang Moto3 2026 langsung menyita perhatian publik balap motor dunia.
Tanpa bekal jam terbang tinggi di kelas tersebut, ia justru mampu mencatatkan hasil yang melampaui ekspektasi bersama Honda Team Asia dengan meraih podium lebih awal di musim perdananya.
Pembalap asal Gunungkidul, Yogyakarta itu menunjukkan adaptasi yang sangat cepat saat memasuki level kejuaraan dunia.
Banyak pihak dibuat tercengang karena ia tidak membutuhkan waktu panjang untuk menyesuaikan diri dengan kerasnya persaingan Moto3, yang dikenal sangat ketat dan penuh pengalaman dari para pembalap senior.
Pada awal kiprahnya sebagai rookie musim 2026, Veda Ega Pratama langsung mencatatkan hasil impresif. Dalam seri kedua musim tersebut, ia berhasil finis di posisi ketiga pada Moto3 Brasil 2026.
Capaian ini menjadi sorotan besar karena diraih tanpa pengalaman sebelumnya di kelas Moto3, namun ia mampu bersaing langsung dengan pembalap-pembalap yang sudah lebih dulu memahami karakter kompetisi.
Menariknya, pada musim ini terdapat tiga debutan dengan status minim pengalaman, yakni Veda Ega Pratama, Leo Rammerstorfer, dan Rico Salmela.
Kondisi ini berbeda dengan sejumlah rookie lain seperti Brian Uriarte, Hakim Danish, Jesus Rios, Casey O’Gorman, dan Zen Mitani yang telah lebih dulu mencicipi persaingan Moto3 pada musim sebelumnya.
Namun di antara para pendatang baru tersebut, justru Veda Ega Pratama menjadi nama yang paling menonjol.
Ia bahkan mampu mengungguli beberapa pembalap yang sudah lebih lama berada di kelas Moto3. Keberhasilannya mengamankan podium lebih cepat dari perkiraan banyak pengamat membuatnya menjadi salah satu sorotan utama sejak awal musim.
Di sisi lain, dari delapan pembalap berpengalaman di kelas Moto3 yang telah lebih dahulu tampil, masih ada yang belum pernah meraih podium. Salah satunya adalah Joel Esteban dari tim Level UP – MTA.
Pembalap asal Spanyol tersebut telah berkompetisi sejak debutnya pada 2024 dan beberapa kali nyaris menembus tiga besar, namun selalu gagal mengamankan posisi podium.
Esteban sendiri tercatat tiga kali finis di posisi keempat, masing-masing pada Moto3 Prancis 2024, Moto3 Australia 2025, dan Moto3 Portugal 2025.
Pada musim 2026 ini, ia kembali bersaing langsung dengan Veda Ega Pratama, terutama dalam dua seri terakhir di Amerika Serikat dan Spanyol.
Di Moto3 Amerika, Esteban mengalami kecelakaan saat bersaing ketat di posisi enam dan tujuh, tepat ketika Veda juga mengalami insiden highside pada lap kelima.
Sementara pada seri Jerez, Spanyol, Esteban kembali menyaksikan performa impresif pembalap Indonesia tersebut.
Dalam balapan itu, Veda melesat dari posisi ke-17 hingga finis di urutan keenam, meninggalkan persaingan ketat dengan Esteban di lintasan.
Joel Esteban sendiri sudah mengenal kemampuan Veda Ega Pratama sejak ajang JuniorGP 2025, di mana ia menutup musim di posisi tiga besar klasemen dengan catatan satu kemenangan dan dua podium. Ia kemudian mengungkapkan kekecewaannya atas hasil balapan yang tidak sesuai harapan.
“Saya tidak puas dengan hasilnya. Setelah akhir pekan yang bagus di Jerez, balapan ini menjadi rumit,” ujar Esteban, dikutip dari laman resmi tim Level UP – MTA.
“Saya tidak merasa nyaman di tikungan-tikungan cepat dan kehilangan banyak waktu di sektor itu,” tambahnya.
Sementara itu, pembalap lain yang masih berjuang meraih podium perdana adalah Scott Ogden dari CIP Green Power. Pembalap asal Inggris tersebut telah debut di Moto3 sejak 2022, namun hingga akhir musim 2025, hasil terbaiknya baru mencapai posisi ke-15 klasemen.
Pada Moto3 Spanyol musim ini, Ogden hanya mampu finis di posisi ke-16 meski memulai balapan dari grid ke-13 tanpa berhasil meraih poin.
“Akhir pekan ini cukup rumit. Kami bekerja dengan sangat baik selama sesi latihan dan saya merasa nyaman kemarin saat kualifikasi,” ujar Ogden, dikutip dari laman resmi CIPMoto.
“Namun, dalam balapan, saya mengalami lebih banyak kesulitan dan saya harus mencari tahu alasannya,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa timnya akan menganalisis data secara menyeluruh untuk memperbaiki performa di seri berikutnya.
“Kami akan menganalisis data secara mendetail selama sesi uji coba untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan. Tujuannya adalah terus bekerja sama untuk berkembang dan kembali lebih kuat di balapan-balapan berikutnya,” tutup pembalap berusia 22 tahun itu.
Dengan capaian awal yang begitu menjanjikan, nama Veda Ega Pratama kini menjadi salah satu pusat perhatian di Moto3 musim 2026.
Keberhasilannya menunjukkan bahwa adaptasi cepat di level tertinggi balap motor dunia bukan hal yang mustahil bagi talenta muda Indonesia.
Seiring berjalannya musim, Veda Ega Pratama semakin memperkuat reputasinya sebagai rookie paling menjanjikan, sekaligus membuka harapan baru bagi perkembangan prestasi balap motor Indonesia di kancah internasional.







