GPNesia.com – Jika pemimpin klasemen Kejuaraan Dunia Superbike, Nicolo Bulega, memutuskan pindah ke MotoGP setelah musim ini, tim pabrikan Ducati akan menghadapi kebutuhan mendesak untuk mencari figur pemimpin baru. Hal tersebut diungkapkan oleh bos Aruba, Stefano Cecconi, dalam sebuah wawancara eksklusif yang menyoroti dinamika penting di dalam tim.
Waktu menjadi faktor krusial. Dalam beberapa minggu ke depan, keputusan terkait pabrikan dan pergerakan pasar pembalap akan sangat menentukan arah masa depan tim tertua di paddock tersebut.
Ducati berada dalam posisi yang mengharapkan keberlanjutan dominasi, sementara para pesaing justru mewaspadai potensi kekuatan tersebut.
Nicolo Bulega tampil luar biasa di Kejuaraan Dunia Superbike 2026. Setelah tiga balapan pertama, ia sudah mengoleksi keunggulan 69 poin atas rekan setimnya di Aruba, Iker Lecuona, yang berada di posisi kedua.
Dominasi ini bukan sesuatu yang baru, karena pembalap asal Italia tersebut telah menunjukkan konsistensi tinggi dalam beberapa musim terakhir.
Ia bahkan mencatatkan 13 kemenangan beruntun, menyamai rekor yang sebelumnya dipegang oleh Toprak Razgatlioglu di Assen.
Sebagai bentuk apresiasi atas performanya, Bulega diberi kesempatan menjajal motor MotoGP tahun lalu. Ia menggantikan Marc Marquez yang cedera pada Grand Prix Portimao dan Valencia. Dalam kesempatan tersebut, Bulega mampu menunjukkan performa impresif sejak awal.
Target utama Bulega untuk musim 2026 adalah meraih gelar juara Superbike. Selain itu, mulai awal Mei di Mugello, ia dijadwalkan untuk menguji motor MotoGP dengan spesifikasi mesin 850cc yang baru.
Keunggulan Bulega tidak hanya terletak pada kecepatannya, tetapi juga pada kemampuannya beradaptasi dengan ban Pirelli yang akan digunakan di MotoGP mulai 2027.
Selama beberapa bulan terakhir, peluang promosi ke MotoGP tampak hampir pasti bagi Bulega. Namun, hingga kini belum ada kepastian mengenai langkah tersebut. Situasi ini membuat berbagai spekulasi terus berkembang.
“Manajer saya pindah ke Jerez, jadi mungkin keadaan akan berubah menguntungkan saya,” ujar Bulega seperti dikutip dari Speedweek.
Ia menambahkan bahwa pembicaraan dengan beberapa tim MotoGP akan segera dilakukan, meskipun ia menyadari bahwa persaingan sangat ketat karena terbatasnya kursi yang tersedia.
Bulega juga menegaskan bahwa tetap bertahan di Superbike bukanlah hal yang buruk. Ia merasa nyaman berada di kejuaraan tersebut dan menganggap paddock Superbike seperti keluarga. Baginya, kegagalan pindah ke MotoGP bukanlah sebuah bencana.
Di sisi lain, Ducati Corse melihat Bulega sebagai aset besar dalam mempertahankan dominasi di Superbike, terutama selama pembalap papan atas seperti Marc Marquez masih terikat kontrak di MotoGP.
Jika peluang ke MotoGP tidak terwujud, Ducati diperkirakan akan berupaya keras mempertahankan Bulega sebagai andalan utama mereka.
Bos Aruba, Stefano Cecconi, mengaku belum terlalu memikirkan skenario pengganti jika Bulega benar-benar hengkang. Ia lebih menekankan pentingnya motivasi dalam memilih pembalap.
“Saya belum tahu siapa yang akan tersedia dari paddock GP atau Superbike. Selain itu, poin penting bagi saya adalah motivasi. Saya tidak ingin siapa pun dari MotoGP yang tidak senang berada di Superbike atau yang menganggapnya sebagai Rencana B,” jelas Stefano Cecconi.
Ia menambahkan bahwa dirinya ingin bekerja dengan pembalap yang benar-benar memiliki keinginan kuat untuk berada di Superbike. Bahkan, ia mengaku pernah berdiskusi dengan pembalap Moto2 yang tampak tidak memiliki antusiasme penuh untuk berkarier di kejuaraan tersebut.
“Iker Lecuona adalah orang paling bahagia di dunia ketika kami sepakat untuk bekerja sama,” lanjut Stefano Cecconi, menegaskan pentingnya komitmen emosional seorang pembalap terhadap tim.
Sementara itu, beberapa nama seperti Jack Miller, Franco Morbidelli, dan Alex Rins diperkirakan tidak akan lagi berada di grid MotoGP musim depan. Jika memenuhi kriteria yang diinginkan, mereka berpotensi dipertimbangkan sebagai pengganti.
Namun demikian, Stefano Cecconi menegaskan bahwa pilihan tidak terbatas pada pembalap MotoGP atau Moto2 saja. Ia juga mempertimbangkan faktor perubahan regulasi ban pada 2027, yang dapat memengaruhi performa pembalap secara signifikan.
“Kita belum tahu seberapa dekat karakter ban Michelin di masa depan dengan ban saat ini. Tidak ada jaminan bahwa pembalap yang cepat sekarang akan tetap cepat nanti,” tutup Stefano Cecconi.
Dengan berbagai kemungkinan yang masih terbuka, masa depan Ducati di Superbike maupun potensi pergerakan Bulega ke MotoGP menjadi salah satu topik paling menarik untuk disimak dalam waktu dekat.
