GPNesia.com – Persaingan di ajang MotoGP kembali menyisakan cerita panas setelah insiden antara pembalap muda Spanyol dan rider VR46, Fabio Di Giannantonio, pada Grand Prix Prancis.
Namun kini, suasana mulai mereda setelah Pedro Acosta memilih merespons dengan sikap yang lebih tenang dan diplomatis menjelang seri GP Catalunya 2026.
Insiden bermula ketika Di Giannantonio berhasil menyalip dan mengamankan posisi keempat di penghujung balapan.
Dalam momen tersebut, ia terlihat menoleh ke belakang tepat setelah melewati Acosta. Gestur itu kemudian memicu kemarahan karena dianggap sebagai bentuk kurang respek oleh pembalap KTM tersebut.
Emosi yang memuncak membuatnya sempat menyatakan akan “mengingat” kejadian itu.
Namun, Di Giannantonio memberikan klarifikasi bahwa tindakannya sama sekali bukan untuk memancing konflik psikologis.
Ia menegaskan bahwa dirinya hanya mengecek posisi motor KTM di belakangnya, bukan untuk menunjukkan sikap provokatif terhadap rivalnya.
Memasuki akhir pekan balapan berikutnya, Pedro Acosta akhirnya memberikan pandangan yang lebih dingin dan reflektif saat berbicara kepada sejumlah media, termasuk MARCA.
Ia menilai insiden tersebut seharusnya tidak perlu diperpanjang, mengingat situasinya hanya terjadi dalam perebutan posisi keempat, bukan podium.
“Yah, kurasa sudah saatnya kita melupakan ini. Kalau dipikir-pikir secara rasional, kita ini hanya berebut posisi keempat. Seharusnya kita malu, bukan hanya saya, tapi kami berdua, karena membuat drama untuk posisi seperti itu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dalam dunia balap, momen seperti itu terkadang justru menjadi bagian dari hiburan bagi penonton.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa secara substansi, perdebatan mengenai posisi tersebut tidak memberikan dampak besar dalam persaingan kejuaraan.
“Ini bagian dari bisnis. Sudah lama hal seperti ini tidak terjadi. Kalau itu bagus untuk tontonan, ya bagus untuk semua. Tapi sebenarnya tidak ada gunanya memperdebatkan posisi keempat,” lanjutnya.
Ketika ditanya mengenai hubungannya dengan pembalap Italia tersebut, Pedro Acosta menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki kedekatan khusus dengan siapa pun di grid MotoGP.
Ia memilih menjaga hubungan profesional tanpa ikatan personal yang terlalu dekat.
“Hubungan saya dengannya? Hanya hubungan yang menjaga kesopanan profesional. Saya tidak punya hubungan dekat dengan siapa pun di sini,” tegasnya.
Di balik dinamika tersebut, nama Acosta terus menjadi sorotan dalam paddock MotoGP.
Banyak pihak menilai ia memiliki potensi besar untuk menjadi wajah baru olahraga ini di masa depan, terutama setelah era dominasi beberapa juara dunia mulai memasuki fase akhir.
Bahkan, ia dikabarkan akan segera bergabung dengan tim pabrikan Ducati bersama kompatriotnya pada musim mendatang.
Performa Acosta sendiri juga menjadi bahan pembicaraan. Ia mencatat kemenangan perdana di kelas utama saat GP Thailand, di mana ia sukses mengalahkan Marc Márquez dalam duel Sprint yang berlangsung sengit.
Namun, dalam beberapa seri terakhir, konsistensinya sedikit menurun dengan hanya mengamankan satu podium dalam empat akhir pekan balapan terakhir.
Situasi ini juga mencerminkan tantangan KTM yang saat ini masih tertinggal dari Aprilia dan Ducati dalam persaingan teknis.
Menariknya, pembalap di posisi keempat klasemen sementara saat ini menjadi satu-satunya di antara sembilan besar yang tidak mengendarai motor dari dua pabrikan dominan tersebut, menambah kompleksitas persaingan musim ini.
Meski sempat memanas, kini tensi antara kedua pembalap mulai mereda. Sikap lebih terbuka yang ditunjukkan Pedro Acosta menjadi sinyal bahwa rivalitas di lintasan tetap bisa disikapi secara profesional tanpa memperpanjang konflik di luar arena balap.







