GPNesia.com – Dunia MotoGP kerap menyajikan drama tidak hanya di atas trek, tapi juga di balik layar tim-tim pabrikan. Salah satu kisah paling menyentuh datang dari Paul Trevathan, sosok yang kini menduduki posisi strategis sebagai Crew Chief Pedro Acosta di KTM Factory Racing.
Pria Inggris ini baru saja menyaksikan salah satu momen terbermakna dalam karier kepelatihannya, ketika mantan anak asuhnya, Pol Espargaro, berhasil menaklukkan setan terbesarnya di sirkuit Portimao, Portugal.
Ikatan Emosional yang Terjalin Lama
Sejarah antara Trevathan dan Espargaro bukanlah cerita singkat. Keduanya telah menjalin kolaborasi erat sejak tahun-tahun awal proyek ambisius KTM di kelas premier MotoGP. Hasilnya? Lima podium berhasil diraih pembalap Spanyol tersebut, dengan pencapaian finis kelima di klasemen akhir 2020 menjadi bukti nyata sinergi mereka.
Meski Espargaro sempat mencoba peruntungan bersama Repsol Honda selama dua musim, takdir tampaknya mempertemukan kembali duo ini. Ketika Espargaro kembali ke KTM melalui Tech3, Paul Trevathan kembali dipercaya untuk mendampinginya. Harapan untuk melanjutkan performa apik mereka pun membumbung tinggi.
Momen Kelam yang Mengguncang
Namun, takdir berkata lain. Bencana menerjang saat sesi latihan menjelang pembuka musim 2023 di Portimao. Espargaro mengalami kecelakaan dahsyat yang nyaris mengakhiri karier balapnya. Diagnosis medis menunjukkan sepuluh patah tulang—mulai dari leher, tulang belakang, tulang rusuk, hingga rahang—ditambah cedera serius pada paru-paru setelah menabrak pembatas yang tidak dilindungi air fence.
Kerusakan tulang belakang membuat Espargaro kehilangan tinggi badan sebanyak 1,5 centimeter. Cedera rahang mengharuskannya menjalani prosedur pengikatan mulut dengan kawat selama sebulan penuh. Absen hingga setelah jeda musim panas, Espargaro hanya sesekali mampu mencetak poin saat ia mempersiapkan transisi kursi balapnya kepada wonderkid muda Pedro Acosta untuk musim 2024.
Comeback Penuh Determinasi
Peran Espargaro kini berganti menjadi pembalap penguji KTM, dengan delapan penampilan sebagai wild-card dan pengganti. Yang terbaru? Ia diminta menggantikan Maverick Vinales di Portimao November lalu—tempat yang sama di mana mimpi buruknya bermula.
“Saya sangat bangga pada Pol karena mampu menghadapi ketakutannya,” ungkap Paul Trevathan kepada Crash.net dengan nada haru. “[Portimao 2023] juga merupakan salah satu momen tergelap dalam karier saya.”
Direktur Motorsport KTM, Pit Beirer, menegaskan bahwa tidak ada tekanan sama sekali bagi Espargaro untuk menerima tawaran balapan di lokasi traumatis tersebut. Namun, tekad pembalap 34 tahun ini tak bisa dibendung.
“Pit memberi tahu saya bahwa ia benar-benar mendesak Pol, dengan mengatakan, ‘Apakah kamu benar-benar ingin melakukan ini? Jika kamu bilang tidak, tidak apa-apa’,” tutur Trevathan mengkonfirmasi percakapan internal tim. “Pol berkata, ‘Saya punya musuh bebuyutan yang perlu saya selesaikan dendamnya’. Dan ia tampil fantastis akhir pekan itu.”
Bukti Mental Juara Sejati
Comeback Espargaro di Portimao ternyata tidak mulus. Insiden kecil di menit-menit awal sesi latihan bebas sempat membuat jantung tim berdegup kencang. Namun, kecelakaan minor itu justru menjadi titik balik psikologis yang krusial.
“Secara psikologis, sangat penting untuk kembali ke pit box dengan motor saya setelah kecelakaan kecil pagi ini,” cerita Espargaro. “Itu memberi saya kepercayaan diri yang saya butuhkan untuk sisa hari ini, karena jelas, terakhir kali saya jatuh di sini cukup parah.”
Hasilnya? Posisi kelima di FP1, langsung lolos ke Q2 sebagai pembalap KTM terbaik kedua setelah Acosta, kemudian start kesepuluh yang dipertahankan baik di Sprint maupun Grand Prix utama.
“Sebagai seseorang yang datang [sebagai pengganti], jujur saja, ini benar-benar mengesankan,” puji Trevathan. “Saya pikir kami memiliki pembalap uji coba tercepat di dunia. Itu sudah jelas bagi semua orang.”
Yang lebih mencolok menurut Trevathan adalah transformasi karakter Espargaro: “Dan yang sangat saya sukai adalah ketenangan yang terpancar darinya sekarang saat dia berkuda, dan senyumnya. Karena dulu dia adalah orang yang sangat bersemangat dan [benar-benar merasakan] kecemasan dan segalanya. Sekarang tekanannya sudah hilang… Dia benar-benar menikmatinya.”
Babak Baru Karier
Memasuki 2026, Espargaro tetap setia sebagai pembalap tes dan cadangan KTM, sambil menjalani peran ganda sebagai komentator TV dan mentor bagi Dani Holgado—kandidat kuat juara Moto2. Sementara itu, Trevathan dan Acosta memulai musim dengan kemenangan Sprint di Portimao, menempatkan pembalap muda Spanyol itu di posisi ketiga klasemen jelang putaran Eropa di Jerez.
Kisah ini membuktikan bahwa di balik teknologi canggih dan data telemetry, MotoGP tetaplah tentang manusia—tentang keberanian menghadapi ketakutan, tentang ikatan antara mekanik dan pembalap, dan tentang semangat yang tak pernah padam meski badai menghantam.
Baca berita terbaru hari ini seputar MotoGP, Moto2, Moto3, F1 dan Otomotif di GPNesia.com melalui Google News + Facebook






