Matteo Bertelle Bangkit di Le Mans, Podium Ketiga Jadi Awal Baru

Matteo Bertelle Bangkit di Le Mans
Screenshot

GPNesia.com – Pembalap Level UP – MTA, Matteo Bertelle akhirnya kembali tersenyum setelah berhasil mengamankan podium ketiga pada ajang Moto3 Prancis 2026 di Sirkuit Le Mans.

Hasil tersebut terasa sangat spesial bagi pembalap muda asal Monselice, Italia, itu karena menjadi podium pertamanya usai melewati masa pemulihan panjang akibat cedera serius yang sempat membuatnya absen dari lintasan balap.

Balapan Moto3 di Le Mans berlangsung penuh drama dalam kondisi trek basah akibat hujan yang terus mengguyur lintasan.

Para pembalap dipaksa bertarung dalam situasi sulit selama 13 lap dengan fokus utama bertahan agar tetap bisa mencapai garis finis tanpa terjatuh.

Di tengah kondisi lintasan yang licin, Matteo Bertelle tampil cukup tenang dan mampu menjaga ritme balapnya hingga finis di posisi ketiga.

Pembalap bernomor 18 dari tim MTA itu mengaku podium tersebut terasa seperti melepaskan beban besar yang selama ini menghantui dirinya, baik secara fisik maupun mental.

Melalui unggahan di media sosial setelah balapan, Bertelle menggambarkan momen podium di Le Mans sebagai akhir dari masa sulit yang telah lama ia jalani.

Cedera yang dialaminya bukan hanya menghambat kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi kepercayaan dirinya saat kembali ke lintasan.

“Ini balapan yang sangat unik. Ini pertama kalinya kami balapan di lintasan basah sepanjang akhir pekan, tapi hasilnya bagus,” ujar Bertelle sambil tertawa usai balapan.

Ia juga memberikan pujian kepada timnya yang dianggap berhasil menyiapkan motor dengan pengaturan terbaik untuk kondisi hujan.

Menurutnya, ada beberapa sektor lintasan yang sangat sulit dikendalikan, tetapi ia tetap merasa nyaman sepanjang balapan berlangsung.

Emosi Matteo Bertelle mulai memuncak ketika memasuki lap terakhir. Ia mengaku tak mampu lagi menahan perasaan haru setelah melewati perjalanan panjang untuk kembali kompetitif di Moto3.

“Sebelum lap terakhir saya mulai menangis. Saya tidak tahu apakah saya sedang bermimpi atau ini nyata. Untungnya saya berhasil mencapai bendera finis. Itu benar-benar luar biasa,” katanya.

Saat ditanya mengenai apa yang dipikirkannya menjelang akhir balapan, Bertelle mengungkapkan bahwa target utamanya hanyalah menghindari kesalahan dan memastikan motor tetap berada di lintasan hingga finis.

Ia terus memperhatikan selisih waktu melalui dashboard motor sambil mendengarkan instruksi dari tim mengenai jarak dengan pembalap di belakangnya.

“Saya mencoba mengejar Fernandez karena selisih waktunya sedikit lebih besar. Tentu lebih baik finis kedua daripada ketiga. Tapi setelah mengambil dua atau tiga risiko, saya berpikir lebih baik membawa pulang podium ketiga. Pada lap terakhir saya berkata kepada diri sendiri untuk tenang dan tidak melakukan kesalahan,” tuturnya.

Meski sukses naik podium, pembalap Italia tersebut sempat merasa kecewa karena harus menjalani hukuman long lap penalty dari race direction.

Ia merasa sudah cukup kehilangan waktu ketika memberi jalan kepada pembalap lain, namun hukuman tetap diberikan.

“Sejujurnya saya tidak berpikir akan mendapat hukuman itu. Saya merasa sudah kehilangan cukup banyak waktu, tapi mungkin ternyata tidak cukup. Namun itu aturan dan kami harus menghormatinya,” ujarnya.

Bagi Matteo Bertelle, podium ketiga di Le Mans menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya. Hasil tersebut dianggap sebagai awal baru setelah melewati proses rehabilitasi yang berat selama beberapa bulan terakhir.

Ia mengakui performanya mulai kembali membaik sejak balapan di Austin. Namun cedera yang dialami sebelumnya sempat membuat kondisi tubuhnya berubah, terutama terkait berat badan yang cukup sulit dikontrol.

Dalam persaingan Moto3, faktor berat badan memang memiliki pengaruh besar terhadap performa motor di lintasan.

“Saya harus mencari area lain untuk mendapatkan keuntungan. Rekan setim saya bertubuh kecil dan di beberapa bagian lintasan dia bisa lebih mudah unggul,” kata Bertelle.

Selain pemulihan fisik, ia juga menekankan pentingnya dukungan mental selama masa penyembuhan. Menurutnya, terapi psikologis menjadi salah satu faktor penting yang membantunya kembali percaya diri setelah lama berada di rumah akibat cedera.

“Saya mulai merasa bebas lagi. Saya bekerja keras selama di rumah dan terapi psikologis sangat membantu. Saya sudah beberapa kali mengalami patah tulang sebelumnya, jadi saya tahu semuanya akan membaik. Masalah terbesar justru mental,” ungkapnya.

Kini kondisi fisiknya disebut terus membaik meski pola latihan yang dijalani berubah cukup drastis. Karena tidak lagi bisa rutin berlari, Bertelle memilih bersepeda sebagai metode utama menjaga kebugaran.

Tinggal di kawasan pegunungan membuatnya cukup menikmati latihan tersebut sambil menempuh perjalanan jarak jauh.

“Banyak pembalap juga berlatih dengan sepeda. Itu cara latihan yang sangat berguna,” katanya.

Ketika akhirnya memastikan podium ketiga di Le Mans, ada satu hal yang langsung muncul di benaknya, yakni rasa bangga karena tidak menyerah pada keadaan.

Setelah mengalami cedera, ia tetap memilih kembali membalap walaupun merasa belum sepenuhnya pulih.

“Saya ingin mendedikasikan hasil ini untuk diri saya sendiri dan semua orang yang membantu saya. Kalau hanya sendirian, mungkin saya sekarang ada di rumah sambil makan popcorn,” ucapnya sambil bercanda.

Add as preferred source on Google
Exit mobile version