GPNesia.com – Pada ajang MotoGP 2026, performa gemilang dari Marco Bezzecchi kembali menegaskan dominasinya dalam seri ketujuh yang berlangsung di Italia.
Pabrikan asal Noale, Aprilia, menunjukkan konsistensi luar biasa sepanjang musim ini, dipimpin oleh penampilan impresif dari Marco Bezzecchi yang berhasil meraih kemenangan penting di depan publik sendiri.
Hingga tujuh seri pertama, Aprilia telah mengumpulkan lima kemenangan di balapan utama.
Dari jumlah tersebut, empat kemenangan diraih oleh Marco Bezzecchi, sementara satu kemenangan lainnya disumbangkan oleh rekan setimnya, Jorge Martin.
Catatan ini menempatkan Aprilia di posisi terdepan dibandingkan para pesaingnya, termasuk Ducati yang baru mengamankan dua kemenangan melalui tim satelit mereka.
Dua kemenangan Ducati masing-masing berasal dari Alex Marquez bersama BK8 Gresini Racing di GP Spanyol, dan Fabio Di Giannantonio dari Pertamina Enduro VR46 di GP Catalunya.
Meski demikian, fokus utama tetap tertuju pada performa Aprilia yang berhasil memutus dominasi panjang Ducati di MotoGP Italia.
Kemenangan di GP Italia 2026 menjadi momen bersejarah karena merupakan kemenangan pertama bagi Aprilia di lintasan kandang tersebut, sekaligus menghentikan rekor Ducati yang sebelumnya mendominasi tujuh dari delapan edisi terakhir balapan di Italia.
CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, memberikan apresiasi tinggi atas penampilan tanpa cela yang ditunjukkan oleh Marco Bezzecchi di balapan utama.
Menurutnya, sang pembalap mampu menjawab tekanan besar setelah sempat absen dari podium tertinggi dalam tiga seri sebelumnya.
Rivola Samakan Marco Bezzecchi dengan Jannik Sinner
Rivola bahkan menyamakan Bezzecchi dengan bintang tenis nomor satu dunia asal Italia, Jannik Sinner, yang dikenal memiliki karakter serupa dalam menghadapi tekanan besar.
“Yang paling saya sukai dari Marco adalah kemampuannya untuk memberikan yang terbaik tepat saat tekanan meningkat,” ujar Rivola, dikutip dari GPone.com.
“Dia hampir tidak seperti orang Italia pada umumnya, seperti Sinner, makin tinggi ekspektasi, makin dia mampu memberikan yang terbaik dari dirinya.”
Rivola juga menambahkan bahwa performa Bezzecchi sudah terlihat menonjol sejak GP Belanda di Assen, yang menjadi titik balik penting dalam perjalanan kariernya bersama Aprilia.
“Setelah apa yang dia lakukan di Assen, tekanan pasti meningkat, tetapi dia tampil sempurna,” lanjut Rivola.
Sejak meraih podium ganda di Belanda musim lalu, Marco Bezzecchi terus berkembang menjadi salah satu tumpuan utama Aprilia dalam menghadapi dominasi Ducati, termasuk persaingan sengit dengan Marc Marquez.
Dari pembalap yang sebelumnya kurang diunggulkan, bahkan dibandingkan rekan setimnya Jorge Martin, Marco Bezzecchi kini menjelma sebagai salah satu kandidat juara paling serius.
Namun, perhatian publik masih tertuju pada potensi duel panas antara Marco Bezzecchi dan Marc Marquez dalam kondisi terbaik mereka, terutama setelah insiden di GP Indonesia yang sempat mengubah peta persaingan.
Dalam kejadian tersebut, Marc Marquez mengalami cedera bahu setelah tertabrak oleh Bezzecchi yang terlambat melakukan pengereman saat mencoba bangkit dari start buruk.
Dampak insiden ini cukup panjang, bahkan membuat Marquez harus menepi hingga akhir musim dan menjalani operasi tambahan.
Masalah saraf pada bahu Marquez baru disadari belakangan, memperpanjang proses pemulihan sebelum akhirnya kembali tampil di GP Italia.
Kembalinya Marquez ke lintasan ditandai dengan hasil yang belum maksimal. Ia gagal naik podium meski sempat tampil agresif di Sprint Race, dan hanya mampu finis di posisi ketujuh pada balapan utama.
Meski demikian, Marquez menegaskan tidak menyimpan dendam terhadap insiden tersebut.
Di sisi lain, Massimo Rivola kembali menegaskan bahwa situasi tersebut tidak terjadi karena adanya kesengajaan dari Marco Bezzecchi.
Ia juga menyoroti motivasi besar yang muncul dari kembalinya Marquez ke kompetisi. “Marquez menjadi motivasi bagi semua orang,” ujar Rivola.
“Bersaing dan berusaha mengalahkan pembalap yang saya anggap sebagai yang terkuat saat ini adalah hal yang menambah nilai pada hasil yang diraih.”
Rivola menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa insiden yang melibatkan Marco Bezzecchi di masa lalu merupakan bagian dari dinamika balapan.
“Mengenai kecelakaan tahun lalu dengan Bezzecchi, Marco hanya sedang melaju sangat kencang dan salah menghitung jarak. Itu adalah insiden yang bisa terjadi dalam balapan,” tandasnya.
Keberhasilan Marco Bezzecchi yang bersinar ini sekaligus menegaskan bahwa ia merupakan salah satu pembalap yang patut diperhitungkan dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026, dan kehadirannya di lintasan selalu membawa kejutan dan semangat kompetisi yang tinggi.
