GPNesia.com – Fenomena naik-turunnya performa pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, kembali menjadi bahan diskusi hangat di kalangan pengamat MotoGP Tanah Air.
Perbedaan mencolok antara hasil latihan bebas, kualifikasi, dan balapan utama disebut menjadi pola yang terus berulang dan menarik perhatian publik balap Indonesia.
Pembalap yang membela Honda Team Asia tersebut kerap mengalami kesulitan pada sesi kualifikasi, yang berujung pada posisi start kurang menguntungkan.
Namun, kondisi tersebut justru sering berbanding terbalik dengan performanya saat balapan utama yang cenderung lebih kompetitif dan agresif.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan penggemar: mengapa kecepatan impresif yang terlihat pada hari Minggu seolah tidak muncul pada hari Jumat dan Sabtu?
Pengamat MotoGP Indonesia, Hendry Wibowo, menilai hal tersebut berkaitan erat dengan pendekatan teknis yang diterapkan tim di garasi.
Berdasarkan penjelasan yang ia dapatkan dari ayah Veda, Sudarmono (Bang Momon), Honda Team Asia disebut sangat aktif melakukan eksperimen teknis di setiap sesi.
Perubahan itu mencakup berbagai aspek mekanis motor yang terus disesuaikan dari satu sesi ke sesi berikutnya.
“Honda Team Asia ini selalu melahirkan inovasi baru pada motor di setiap sesinya. Entah itu perubahan pada sistem suspensi atau komponen krusial lainnya. Hal ini menuntut Veda untuk terus menerus menyesuaikan gaya balapnya dalam waktu yang sangat singkat,” ujar Hendry Wibowo dalam program YouTube Morning Zone by Okezone.
Ia menambahkan bahwa pola pengembangan yang terlalu cepat ini dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, tim berupaya mengejar batas performa tertinggi, namun di sisi lain, pembalap harus beradaptasi dengan set-up baru dalam waktu singkat.
“Kalau kita belajar dari seri Catalunya kemarin, mungkin development yang dilakukan Honda Team Asia di saat latihan bebas sampai kualifikasi tidak terlalu cocok dengan adaptasi gaya balap Veda,” lanjutnya.
Dalam beberapa kesempatan lain, Hendry juga menyinggung performa di Brasil yang justru menunjukkan hasil lebih stabil karena pengembangan motor sudah sesuai sejak awal akhir pekan balap.
Pola adaptasi cepat ini kembali terlihat pada balapan Moto3 Italia 2026 di Sirkuit Mugello, Scarperia e San Piero, pada Minggu 31 Mei 2026.
Veda Ega Pratama harus memulai balapan dari posisi ke-13 akibat hasil kualifikasi Moto3 yang kurang ideal.
Meski demikian, pembalap muda tersebut langsung tampil agresif sejak awal lomba dengan melesat ke posisi keenam pada putaran pertama.
Di depan, persaingan ketat dipimpin oleh Hakim Danish dan Joe Kelso yang sempat menguasai jalannya balapan di lap awal.
Seiring berjalannya race, dinamika kelompok besar membuat posisi Veda sempat naik turun dan menghadapi persaingan ketat di tengah rombongan. Namun, konsistensinya tetap terjaga hingga garis finis.
Pada akhirnya, Veda Ega Pratama berhasil finis di posisi kedelapan dan mengamankan tambahan lima posisi dari grid start.
Hasil tersebut memperkuat reputasinya sebagai pembalap dengan karakter kuat di race pace, meski masih perlu peningkatan di sesi kualifikasi.
Balapan sendiri dimenangkan oleh Brian Uriarte, disusul Alvaro Carpe di posisi kedua, dan Hakim Danish yang melengkapi podium di tempat ketiga.
Kondisi ini kembali mempertegas bahwa perjalanan karier Veda Ega Pratama di ajang Moto3 masih menyimpan potensi besar, terutama jika konsistensi antara set-up motor dan gaya balap dapat diselaraskan sejak awal akhir pekan balap.






