GPNesia.com – Performa Gabriel Bortoleto pada Kualifikasi Grand Prix Formula 1 Monako 2026 berakhir mengecewakan setelah ia tersingkir di sesi Q1 akibat insiden yang membuat mobilnya menghantam pembatas.
Pembalap muda asal Brasil itu mengakui bahwa ia mengambil terlalu banyak risiko dan gagal membawa hasil maksimal bagi tim Audi di akhir pekan yang sebenarnya menjanjikan.
Sejak hari Jumat di Monte Carlo, Audi menunjukkan performa kompetitif. Tim tersebut bahkan terlihat sebagai kekuatan “terbaik di antara tim-tim di luar empat besar” berkat konsistensi kedua pembalapnya, Gabriel Bortoleto dan Nico Hülkenberg, yang selalu menembus posisi 10 besar dalam sesi latihan bebas.
Tren positif tersebut berlanjut hingga Sabtu. Dalam Free Practice 3, Bortoleto menutup sesi di posisi ketujuh, sementara rekan setimnya, Hülkenberg, berada di urutan ke-10. Hasil tersebut menumbuhkan optimisme tinggi di kubu Audi jelang kualifikasi.
Namun, harapan itu runtuh saat sesi Q1 berlangsung. Gabriel Bortoleto mengalami kecelakaan ketika mobilnya menyentuh dinding pembatas di area Nouvelle Chicane.
Benturan tersebut menyebabkan kerusakan pada suspensi mobil R26 hingga membuatnya berhenti di lintasan.
Meski catatan waktunya sempat cukup baik untuk melaju ke Q2, insiden itu membuatnya harus mengakhiri kualifikasi lebih awal di posisi ke-16.
Dalam evaluasinya, Gabriel Bortoleto tidak menutupi kekecewaannya. Ia mengakui bahwa keputusan untuk mendorong batas kemampuan mobil di Q1 justru menjadi kesalahan yang berujung fatal.
“Saya rasa saya tidak menjalani kualifikasi dengan baik. Tidak banyak yang bisa saya jelaskan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa strategi yang diambil terlalu agresif sejak awal sesi.
“Kami sudah tahu potensi masuk 10 besar sejak FP1, tetapi saya akhirnya terlalu memaksakan diri hingga menyentuh dinding dan merusak suspensi.”
Menjelang balapan hari Minggu, ia juga menyadari bahwa peluang untuk memperbaiki posisi di sirkuit Monaco yang terkenal sempit sangat kecil. Situasi ini membuatnya semakin menyesali hasil yang gagal diraih bersama tim.
“Monaco memang seperti ini, sulit untuk menyalip. Kami tidak menyerah, tetapi sayang sekali kami tidak bisa menempatkan mobil di posisi yang seharusnya pantas didapatkan tim,” kata Gabriel Bortoleto.
Ia juga menegaskan rasa penyesalan terhadap kerja keras tim yang menurutnya sudah sangat maksimal sepanjang akhir pekan.
“Saya benar-benar menyesal untuk mereka karena tim telah melakukan pekerjaan luar biasa. Mereka pantas berada di posisi 10 besar kualifikasi, dan saya tidak mampu mewujudkannya,” tambahnya.
Di sisi lain, Nico Hülkenberg berhasil mencapai Q2, namun hanya mampu mengamankan posisi ke-13. Hasil tersebut ia sebut sebagai sesuatu yang mengecewakan, meski situasi di lintasan cukup sulit akibat lalu lintas pada putaran terakhirnya.
Hülkenberg mengaku tidak menemukan peningkatan signifikan pada performa mobil. Ia menilai Audi justru kehilangan momentum ketika tim-tim lain mampu meningkatkan kecepatan di momen krusial kualifikasi.
Situasi itu membuatnya dan tim merasa sedikit kebingungan karena performa yang sebelumnya menjanjikan tidak dapat dipertahankan hingga akhir sesi.
