GPNesia.com – Sejak bergabung dengan BMW, Danilo Petrucci mengaku belum pernah benar-benar menemukan kenyamanan penuh saat menunggangi M1000RR yang berstatus motor juara dunia tersebut. Namun, tanda-tanda kemajuan sempat terlihat di Sirkuit Assen, ketika pembalap asal Italia itu mulai merasakan adanya “chemistry” antara dirinya dan motor, yang tercermin dari hasil impresif pada sesi Superpole pagi hari dengan catatan waktu menembus posisi keempat.
Harapan itu sayangnya tidak bertahan lama. Balapan pertama di akhir pekan tersebut berubah menjadi mimpi buruk setelah Petrucci dijatuhi dua hukuman long lap penalty akibat dugaan jump start. Keputusan ini langsung mengubah jalannya lomba, meskipun pembalap dan tim telah meninjau ulang rekaman yang menurut mereka tidak menunjukkan pelanggaran jelas. Akibat penalti tersebut, Danilo Petrucci harus puas finis di posisi ke-18 setelah sempat terjatuh ke area kerikil saat menjalani eksekusi hukuman putaran panjang pertama.
Dalam keterangannya, Petrucci menegaskan bahwa ia sama sekali tidak merasa melakukan kesalahan saat start. Ia menyebut selama dua dekade kariernya di dunia balap, ia tidak pernah melakukan start lebih awal, dan yakin hal itu juga tidak terjadi di Assen. Ia menilai keputusan tersebut tidak didukung bukti yang kuat, dan menyayangkan dampaknya yang langsung menghancurkan peluang balapnya.
Menurutnya, setelah melihat ulang tayangan video, tidak ada indikasi jelas bahwa motornya bergerak sebelum lampu padam. Ia juga menyoroti bahwa tidak ada keuntungan posisi yang diperoleh dari momen tersebut. Namun, dua hukuman long lap di awal lomba praktis membuat peluang bersaing di grup depan hilang total, bahkan ia menyebut situasi itu membuat balapannya “hampir selesai sebelum benar-benar dimulai”.
Ketika menjalani penalti pertama, Danilo Petrucci mengalami kesulitan serius. Ia mengakui belum pernah mencoba area long lap sebelumnya di lintasan tersebut. Saat masuk ke jalur hukuman, ia kehilangan kendali pada bagian depan motor akibat kondisi lintasan dan langsung melebar hingga keluar jalur, yang semakin memperburuk posisinya di lomba.
Meski demikian, ada satu sisi positif yang masih bisa ia ambil dari hari yang sulit tersebut. Dalam kondisi hujan, Petrucci menyebut dirinya termasuk salah satu pembalap tercepat di lintasan. Ia mendapatkan informasi dari tim bahwa catatan waktunya di kondisi basah sangat kompetitif, bahkan menjadi yang terbaik di momen tersebut. Hal ini menjadi satu-satunya hal yang ia anggap sebagai titik terang di tengah hasil akhir yang mengecewakan.
Saat ditanya mengenai kemungkinan banding atau meminta klarifikasi ke Direksi Balapan, ia memilih untuk tidak melanjutkan protes formal. Menurutnya, keputusan yang sudah dibuat di tengah jalannya lomba sangat sulit untuk diubah, sehingga diskusi lebih lanjut tidak akan memberikan dampak berarti. Ia juga menyatakan bahwa dalam banyak kasus, keputusan komisi balapan jarang direvisi, sehingga ia memilih untuk menerima situasi tersebut meskipun tidak setuju.
Petrucci juga menjelaskan bahwa secara regulasi, hukuman jump start berlaku saat motor mulai bergerak sebelum lampu hijau. Namun, ia menegaskan kembali bahwa dalam pandangannya, motornya tidak bergerak pada momen tersebut. Ia bahkan tidak datang langsung ke ruang pengawas balapan untuk melihat ulang rekaman, karena merasa situasi sudah tidak dapat diubah lagi.
Lebih jauh, ia menilai sanksi yang dijatuhkan tidak proporsional. Ia membandingkan dengan insiden lain di lintasan yang biasanya hanya berujung pada pengembalian posisi, sementara dalam kasusnya ia langsung menerima dua hukuman long lap tanpa kepastian mutlak adanya pelanggaran. Menurut Danilo Petrucci, hal itu membuat keputusan tersebut terasa tidak adil.
Di luar kontroversi tersebut, ia tetap melihat potensi besar di lintasan Assen. Ia meyakini bahwa posisi lima besar sangat mungkin dicapai jika balapan berjalan normal tanpa penalti. Ia menilai performanya di kondisi hujan menunjukkan kecepatan yang kompetitif, meskipun ia melakukannya tanpa referensi langsung dari pembalap lain di depannya.
Hasil Superpole yang sempat menempatkannya di baris depan justru memperkuat rasa kecewa. Ia menjelaskan bahwa jika memulai dari posisi belakang, kehilangan hasil mungkin dianggap wajar. Namun ketika berada di kelompok terdepan dan kemudian kehilangan segalanya karena penalti, rasa frustrasi menjadi jauh lebih besar.
Dalam refleksinya, Danilo Petrucci menyebut hari tersebut sebagai salah satu hari terburuk dalam kariernya, meskipun ia menyampaikannya dengan nada ironi. Ia juga menyampaikan rasa kecewa yang mendalam kepada tim yang telah bekerja keras sepanjang akhir pekan. Bagi Petrucci, kombinasi antara potensi kecepatan dan keputusan penalti yang kontroversial menjadikan balapan di Assen sebagai pengalaman yang sangat pahit dalam musim ini.
Baca berita terbaru hari ini seputar MotoGP, Moto2, Moto3, F1 dan Otomotif di GPNesia.com melalui Google News + Facebook
