GP Nesia – Aston Martin bersama mitra pemasok mesin mereka, Honda, mengakui bahwa investigasi besar-besaran masih dilakukan untuk mengurai berbagai persoalan teknis yang membelit mobil AMR26 sejak awal musim Formula 1 2026.
Meski sejumlah kemajuan telah dicapai, mobil tersebut masih tertinggal sekitar dua detik dari catatan waktu tercepat pada sesi kualifikasi.
Permasalahan utama pada tahap awal musim datang dari sisi keandalan. Situasi itu membuat tim kesulitan memahami karakter mobil secara menyeluruh sekaligus memperbaiki beberapa titik lemah lain pada sistem penggerak.
Gangguan yang muncul mencakup getaran pada sasis, perpindahan gigi yang tidak stabil, hingga karakter pengereman mesin yang dinilai terlalu agresif.
Setelah menjalani akhir pekan yang sulit di Grand Prix Miami, Fernando Alonso secara terbuka menyebut area-area tersebut sebagai prioritas pembenahan menjelang GP Kanada 2026.
Menurut pembalap veteran asal Spanyol itu, karakter Sirkuit Gilles Villeneuve yang cepat dan agresif membuat pengendalian mobil menjadi faktor yang sangat penting.
Namun Alonso juga menegaskan bahwa perbaikan terhadap persoalan tersebut belum tentu langsung mendongkrak daya saing mobil secara signifikan.
“Tidak, saya rasa performanya tidak akan berubah,” ujar Alonso kepada sejumlah media termasuk Motorsport.com.
“Kami memang harus memperbaiki keandalan karena ada beberapa masalah yang kadang menghambat program kami di sesi latihan bebas sehingga sulit memaksimalkan waktu di lintasan. Kami juga harus meningkatkan kemampuan pengendalian mobil, membuat perpindahan gigi naik dan turun lebih halus, serta memperbaiki karakter pengereman mesin agar pembalap memiliki rasa percaya diri lebih besar saat menyerang tikungan.”
Meski demikian, Alonso menilai peningkatan rasa percaya diri tersebut kemungkinan hanya memberikan keuntungan waktu yang sangat kecil.
“Dalam hal kepercayaan diri, mungkin hanya sekitar sepersepuluh detik. Bukan dua atau tiga detik yang hilang. Jadi saya rasa itu tidak akan mengubah performa secara besar,” lanjutnya.
Musim 2026 menjadi periode penting bagi Aston Martin karena tim itu untuk pertama kalinya sejak akhir 2000-an mengembangkan girboks sendiri.
Pada era sebelumnya saat masih bernama Force India, tim menggunakan paket mesin dan transmisi dari McLaren serta Mercedes sejak 2009 sebelum akhirnya menjalin kerja sama eksklusif dengan Mercedes.
Kondisi tersebut membuat tantangan musim ini menjadi lebih kompleks. Performa pengendalian mobil dan kualitas perpindahan gigi sangat berkaitan dengan integrasi sistem mesin dan motor listrik yang bertugas mengelola energi baterai.
Situasi makin sulit karena mobil selesai dikembangkan dalam waktu yang mepet dan kemudian mengalami persoalan baterai serta getaran yang membatasi program pengujian.
Kepala insinyur Honda, Shintaro Orihara, mengatakan tim mulai melihat perkembangan positif terutama pada sisi baterai.
“Di Miami kami mendapatkan kemajuan yang baik dalam hal keandalan baterai, dan masalah baterai kini sudah teratasi. Fokus berikutnya adalah meningkatkan manajemen energi dan kemampuan berkendara,” ujarnya.
Orihara menjelaskan bahwa perubahan regulasi Formula 1 musim ini membuat perilaku mesin berbeda dibandingkan musim sebelumnya.
“Tahun lalu, pada bukaan throttle sebagian berarti beban mesin juga sebagian. Tetapi tahun ini, bahkan pada bukaan throttle sebagian atau fase pengereman mesin, beban operasional mesin tetap tinggi.”
Menurutnya, perubahan pola kerja tersebut menimbulkan perilaku baru yang sebelumnya tidak muncul.
“Karena itu ada perbedaan operasional yang cukup besar dibandingkan tahun lalu. Kami melihat beberapa karakteristik unik pada fase tersebut dan sedang bekerja untuk meningkatkan kemampuan pengendalian terutama saat penggunaan throttle sebagian dan pengereman mesin,” jelasnya.
Berbagai komplikasi yang dialami tim juga disebut berasal dari konsep desain agresif pada bagian belakang AMR26. Konsep itu merupakan hasil rancangan Adrian Newey yang bergabung dengan Aston Martin pada musim lalu.
Desain tersebut dibuat untuk meningkatkan performa aerodinamika di area diffuser yang masih menjadi titik vital mobil Formula 1 modern.
Untuk mewujudkan konsep itu, tim menerapkan sejumlah solusi teknis tidak biasa, termasuk penggunaan baterai dengan format dua tingkat serta penempatan motor listrik yang berbeda dibandingkan mayoritas mobil lain di grid.
Namun hingga kini, manfaat teoritis dari konsep tersebut belum benar-benar bisa dimaksimalkan akibat efek lanjutan dari persoalan keandalan.
Kepala petugas lintasan tim, Mike Krack, mengakui bahwa kompleksitas sistem penggerak generasi baru membuat pekerjaan pengembangan jauh lebih sulit dibanding era sebelumnya.
“Seluruh persoalan terkait pengendalian kendaraan, termasuk perpindahan gigi naik dan turun, sekarang jauh lebih rumit dibanding sebelumnya karena berbagai alasan,” kata Krack.
Ia menyoroti perubahan regulasi mengenai penurunan gigi transmisi serta peningkatan pemulihan energi listrik yang jauh lebih besar dibanding musim lalu.
“Kami juga masih baru dalam proyek ini, dan itu tidak boleh dilupakan. Jadi ini topik yang sangat kompleks dan kami terus mencoba memahaminya lebih baik.”
Krack menambahkan bahwa beberapa masalah utama yang sebelumnya menghambat jalannya program tim memang sudah berhasil diatasi. Namun setiap kali satu persoalan selesai, tantangan baru justru muncul.
“Topik transmisi ini sangat menantang dan akan terus menjadi tantangan. Kami juga melihat banyak pembalap dari tim lain mengeluhkan perpindahan gigi, dan saya pikir itu berkaitan dengan tuntutan baru pada sistem penggerak,” ujarnya.
Meski ada progres di berbagai sektor, tantangan terbesar tim tetap terletak pada performa keseluruhan mobil.
Sejak awal musim sudah terlihat bahwa unit tenaga yang digunakan masih kalah dibanding mesin Mercedes standar, terutama dalam hal tenaga kuda dan distribusi tenaga listrik. Situasi itu membuat selisih waktu yang disebut Alonso masih belum mampu dipangkas secara signifikan.
