Awal musim MotoGP 2026 menjadi mimpi buruk bagi tim pabrikan asal Italia, Ducati. Tiga seri pertama telah menunjukkan performa yang jauh dari ekspektasi.
Mantan pembalap MotoGP, Ruben Xaus, memberikan analisisnya terkait penyebab krisis ini, yang menurutnya bukan hanya soal pembalap, tetapi juga masalah internal tim.
Tiga Seri Awal yang Mengecewakan
Enam pembalap Ducati yang berlaga di tiga seri awal MotoGP 2026 belum ada satupun yang mampu meraih kemenangan. Bahkan, rekor podium pun nyaris nihil, dengan hanya satu pencapaian podium oleh Fabio Di Giannantonio di MotoGP Brasil 2026, yang berhasil finis di posisi ketiga. Sementara itu, bintang tim pabrikan, Marc Marquez, masih belum mampu naik podium di ketiga balapan yang digelar.
Hasil ini jelas menjadi alarm bagi Ducati. Pasalnya, tim yang biasanya mendominasi lintasan dengan motor berteknologi canggih dan strategi matang, kini justru terlihat buntu. Ruben Xaus menilai bahwa masalah utamanya terletak pada kurangnya koordinasi dan arah pengembangan motor yang tidak seragam di antara semua tim yang menggunakan Ducati.
Masalah Internal Tim dan Kurangnya Soliditas
Menurut Xaus, setiap tim yang menggunakan Ducati berjalan dengan strategi dan tujuan masing-masing, sehingga menciptakan situasi yang tidak harmonis. Tim pabrikan Ducati Lenovo memiliki agenda sendiri, sementara tim satelit Pertamina Enduro VR46 Racing dan tim independen Gresini Racing juga punya prioritas berbeda.
“Ducati semacam jalan sendiri-sendiri. Alex (Marquez) ke mana, Marc (Marquez) jalan sendirian, Pecco (Francesco Bagnaia) jalan sendiri,” ujar Xaus, mengutip dari Motosan pada Sabtu (4/4/2026). Ia menambahkan bahwa VR46 tampak seperti berada di jalur berbeda, sementara Franco Morbidelli sedikit terputus dari tim lainnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa koordinasi antar tim Ducati tidak maksimal, sehingga setiap pembalap tidak dapat saling mendukung dalam pengembangan motor maupun strategi balapan. Padahal, di era modern MotoGP, kolaborasi antara tim pabrikan dan tim satelit sangat penting untuk meraih hasil konsisten.
Kesulitan Adaptasi Marc Marquez
Selain masalah internal tim, Xaus juga menyoroti performa Marc Marquez yang belum kembali ke podium. Menurutnya, pembalap asal Spanyol ini kesulitan beradaptasi dengan arah pengembangan motor Ducati yang berbeda dari musim sebelumnya.
“Mungkin tahun lalu Marc bisa mengeluarkan potensinya di atas motor, tetapi hari ini motor itu berevolusi ke arah yang membuatnya kesulitan,” jelas Xaus. Hal ini menunjukkan bahwa meski Marc Marquez dikenal sebagai pembalap yang cepat beradaptasi, perubahan teknis pada motor musim ini menjadi tantangan yang signifikan.
Selain aspek teknis, faktor kehidupan pribadi juga disebut Xaus memengaruhi performa Marc. Tahun ini, hubungan kakak-beradik Marquez berubah karena mereka tidak lagi tinggal bersama, sehingga latihan bersama yang rutin sebelumnya tidak dapat dilakukan. Xaus menekankan bahwa kebiasaan latihan bersama ini penting untuk menjaga mental dan fokus mereka di lintasan.
Pandangan Ruben Xaus tentang Masa Depan Ducati
Ruben Xaus mengingatkan bahwa Ducati memiliki potensi untuk bangkit jika masalah koordinasi dan adaptasi bisa diatasi. Masa libur tiga pekan sebelum seri keempat bisa menjadi momen penting bagi tim untuk menyesuaikan strategi dan menyelaraskan arah pengembangan motor.
“VR46 dan tim pabrikan harus bisa menyamakan tujuan. Hanya dengan soliditas dan koordinasi, Ducati bisa kembali kompetitif,” kata Xaus. Dengan perbaikan yang tepat, kombinasi antara pengalaman pembalap dan teknologi Ducati tetap memiliki peluang besar untuk mendominasi lintasan.
Seri Keempat: Momentum Bangkit
MotoGP Spanyol 2026 akan menjadi ujian penting bagi Ducati. Balapan ini digelar di Sirkuit Jerez-Angel Nieto, Jerez de la Frontera, Spanyol, pada 24-26 April. Seri ini diharapkan menjadi titik balik bagi tim pabrikan Italia tersebut. Marc Marquez dan rekan-rekannya tentu ingin menunjukkan bahwa hasil buruk tiga seri awal hanyalah sebuah kecelakaan kecil dalam perjalanan panjang musim 2026.
Strategi, adaptasi pembalap, dan koordinasi antar tim akan menjadi kunci. Jika semua elemen ini bisa disatukan, bukan tidak mungkin Ducati kembali mendominasi, sebagaimana reputasi mereka di MotoGP selama bertahun-tahun.
Kesimpulan
Krisis awal musim MotoGP 2026 menyoroti masalah yang lebih dalam dari sekadar performa pembalap. Menurut Ruben Xaus, ketidakselarasan arah pengembangan motor dan kurangnya koordinasi antar tim menjadi faktor utama. Ditambah dengan kesulitan Marc Marquez beradaptasi dengan perubahan motor, Ducati harus segera menemukan solusi.
Libur mini sebelum seri keempat memberikan waktu bagi tim untuk mengevaluasi dan memperbaiki masalah. Seri MotoGP Spanyol 2026 akan menjadi momentum penting bagi Ducati untuk membalikkan keadaan. Jika koordinasi dan adaptasi berjalan dengan baik, tim Italia ini masih memiliki peluang besar untuk kembali ke jalur kemenangan.
Baca berita terbaru hari ini seputar MotoGP, Moto2, Moto3, F1 dan Otomotif di GPNesia.com melalui Google News + Facebook







