Alvaro Bautista Soroti Beban Tambahan yang Dinilai Tak Adil

alvaro bautista barni spark racing team

GPNesia.com – Pembalap asal Spanyol, Alvaro Bautista, semakin menunjukkan adaptasi positif bersama Ducati Panigale V4 R versi terbaru. Meski masih dibayangi aturan beban tambahan yang dinilai memberatkannya, ia tetap mampu tampil kompetitif dengan finis di posisi keempat pada Balapan 2, bahkan mengungguli rekan setimnya, Yari Montella.

Performa tersebut tidak lepas dari sejumlah penyesuaian teknis yang dilakukan tim sejak sesi pagi. Bautista mengungkapkan bahwa perubahan kecil pada motor memberikan dampak signifikan terhadap performanya, terutama di awal balapan. Ia merasa lebih nyaman dan mampu mengurangi ketertinggalan sejak lap-lap awal, sesuatu yang sebelumnya menjadi kendala utama.

“Pagi ini kami melakukan sedikit penyesuaian pada motor untuk mencoba tidak terlalu tertinggal di lap-lap awal. Saya merasa lebih baik sejak Superpole Race dan di Balapan 2 perubahan tersebut jelas berhasil, karena saya tidak terlalu tertinggal di lap-lap awal dan memiliki feel yang lebih normal,” ujar Alvaro Bautista.

Meski demikian, ia tetap menyoroti dampak signifikan dari tambahan bobot sekitar 7 kg yang diterapkan padanya. Menurutnya, secara fisika hal tersebut tidak mungkin diabaikan karena memengaruhi inersia motor dan meningkatkan tuntutan fisik saat berkendara. Ia juga menilai aspek keselamatan menjadi taruhan besar dalam kondisi tersebut.

“Fisika adalah fisika: motor memiliki inersia lebih besar, lebih sulit, dan lebih menuntut fisik untuk dikendarai, jadi semuanya selalu lebih rumit. Bagi saya ini juga soal keamanan, karena setiap kali saya jatuh, motor membutuhkan ruang lebih luas untuk berhenti dan ini sangat berbahaya bagi pembalap lain,” jelasnya seperti GPNesia kutip dari GPOne, Senin (20/4/2026).

Alvaro Bautista Soroti Beban Tambahan

Lebih lanjut, Alvaro Bautista menegaskan bahwa aturan tersebut tidak adil karena hanya diterapkan padanya di grid. Ia bahkan menyebut aturan itu dibuat khusus untuk membatasi performanya. Menurutnya, jika tujuan regulasi adalah menyeimbangkan kompetisi, maka seharusnya fokus diarahkan pada pengembangan motor oleh pabrikan lain, bukan membebani satu pembalap secara spesifik.

Ia juga mempertanyakan efektivitas aturan tersebut, mengingat dominasi Ducati tetap berlanjut dengan menempatkan enam motor di barisan depan. Baginya, hasil balapan tidak akan berubah signifikan meski aturan dihapus, kecuali mungkin terjadi variasi posisi di antara para pembalap.

Selain faktor performa, Bautista menyoroti perbedaan karakter fisik antar pembalap yang turut memengaruhi dampak beban tambahan. Ia membandingkan dirinya dengan Nicolò Bulega yang memiliki postur lebih besar dan dinilai lebih mampu mengatasi distribusi bobot di atas motor. Kondisi ini membuatnya merasa semakin dirugikan karena keterbatasan fisik dan ruang gerak.

Dalam pernyataannya, ia bahkan menyampaikan kritik bernada provokatif terhadap logika aturan tersebut. Ia menyebut bahwa jika benar ingin adil, maka pembalap lain yang sedang dominan juga seharusnya dikenai penyesuaian serupa.

Meski tetap berharap adanya perubahan regulasi di masa depan, Bautista mengaku tidak terlalu optimistis. Ia menilai keputusan sering kali dibuat tanpa mempertimbangkan kondisi nyata di lintasan, terutama pada kecepatan tinggi yang bisa mencapai 300 km/jam.

Situasi ini menjadi kontras dibanding musim-musim sebelumnya yang lebih kompetitif dan dinamis. Kini, perhatian pun mulai beralih pada kemungkinan perubahan lain, termasuk potensi penggunaan ban Michelin di masa depan, yang diharapkan dapat membawa dinamika baru dalam persaingan.

Namun untuk saat ini, perjuangan Bautista menghadapi beban tambahan masih menjadi sorotan utama, baik dari sisi performa maupun keselamatan di ajang balap motor dunia.

Baca berita terbaru hari ini seputar MotoGP, Moto2, Moto3, F1 dan Otomotif di GPNesia.com melalui Google News + Facebook

Exit mobile version