GP Nesia – Mantan pembalap Formula 1, David Coulthard, menyampaikan keyakinannya bahwa Max Verstappen akan tetap membela Red Bull hingga akhir kariernya di ajang F1.
Menurutnya, faktor utama yang membuat juara dunia empat kali itu bertahan adalah kebebasan yang diberikan tim untuk menjadi dirinya sendiri di dalam dan luar lintasan.
Verstappen saat ini memang masih terikat kontrak dengan Red Bull hingga akhir musim 2028. Namun, spekulasi mengenai masa depannya terus mencuat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk rumor yang sempat beredar pada 2025 terkait potensi pembicaraan dengan Mercedes.
Meski demikian, David Coulthard menilai pendekatan Red Bull tidak akan ditemukan di tim lain. Ia menyebut bahwa filosofi tim asal Milton Keynes tersebut sangat cocok dengan karakter Verstappen yang dikenal ekspresif dan independen.
“Tidak ada tim Formula 1 lain yang akan membiarkan Max menjadi dirinya sendiri,” demikian inti pandangan Coulthard dalam sebuah podcast Up To Speed.
Ia menegaskan bahwa McLaren, Ferrari, maupun Mercedes sekalipun tidak akan mampu memberikan ruang kebebasan yang sama kepada seorang pembalap seperti Verstappen, mengingat struktur investasi dan pendekatan manajemen pembalap yang berbeda di masing-masing tim.
Dalam penjelasannya, Coulthard juga mengaitkan filosofi tersebut dengan warisan pendiri Red Bull, Dietrich Mateschitz.
Ia mengenang pesan sederhana yang pernah ia terima saat pertama kali bergabung dengan tim, yakni untuk “menjadi diri sendiri”. Menurutnya, prinsip itu masih menjadi inti budaya Red Bull hingga saat ini, dan sangat cocok dengan karakter Verstappen.
Dari perspektif tersebut, Coulthard berpendapat bahwa spekulasi mengenai kemungkinan Verstappen hengkang sebaiknya tidak lagi dibesar-besarkan.
Ia bahkan menilai bahwa pembalap asal Belanda itu akan tetap bersama Red Bull untuk sisa kariernya di Formula 1.
Selain membahas masa depan Verstappen, David Coulthard juga memberikan pujian terhadap kemampuan sang juara dunia saat tampil di luar F1, termasuk ketika mengikuti ajang Nurburgring 24 Hours.
Dalam balapan ketahanan tersebut, Verstappen bersama rekan setimnya sempat memimpin sebelum akhirnya harus tersingkir akibat masalah poros penggerak mobil.
Coulthard membandingkan dominasi Verstappen di berbagai situasi dengan analogi lintas cabang olahraga.
Ia menyebut bahwa menjadi juara dunia di satu disiplin tidak serta-merta membuat seseorang kompetitif di disiplin lain, seperti halnya seorang spesialis squash yang belum tentu mampu bersaing dengan pemain tenis elite seperti Jannik Sinner, dan sebaliknya.
Ia juga melontarkan pandangan bahwa Verstappen tampak memiliki kemampuan adaptasi luar biasa terhadap berbagai jenis kendaraan. Bahkan, ia menyindir dengan ringan bahwa tidak akan terkejut jika Verstappen “bahkan kidal”, menggambarkan betapa alami kemampuan mengemudinya di berbagai kondisi dan kategori balap.
Pengalaman pribadi Coulthard saat pernah membalap di Nurburgring juga membuatnya memahami tingkat kesulitan sirkuit legendaris tersebut. Ia menyebut lintasan itu sebagai salah satu yang paling menakutkan di dunia balap, dengan tingkat komitmen dan risiko yang sangat tinggi.
Menurutnya, Nurburgring bukan sekadar tempat balapan biasa. Tantangannya jauh melampaui sirkuit modern Formula 1, terlebih dengan catatan bahwa sirkuit tersebut memiliki sejarah panjang insiden serius, termasuk kecelakaan fatal yang pernah terjadi di sana.
Coulthard menegaskan bahwa apa yang dilakukan Verstappen di sana bukan sekadar “hobi akhir pekan”, melainkan bentuk komitmen besar terhadap dunia balap yang sangat berbeda dari F1 modern. Ia menilai hanya sedikit pembalap F1 saat ini yang bersedia menerima tantangan serupa di lintasan tersebut.
Di akhir pandangannya, David Coulthard kembali menekankan bahwa kualitas Verstappen tidak hanya terletak pada prestasi di Formula 1, tetapi juga pada keberaniannya menjajal tantangan lintas kategori balap.
Hal inilah yang, menurutnya, semakin memperkuat alasan mengapa Red Bull menjadi tempat yang paling tepat bagi Verstappen untuk melanjutkan kariernya hingga masa mendatang.







