GPNesia.com – Upaya Honda Racing Corporation untuk merombak total kekuatan mereka di Kejuaraan Dunia Superbike 2026 belum menunjukkan hasil menggembirakan.
Setelah empat tahun bekerja sama dengan Iker Lecuona dan Xavi Vierge tanpa kemajuan signifikan, pabrikan Jepang itu mengambil langkah drastis dengan mengganti kedua pembalap sekaligus merombak struktur tim inti.
Harapannya, kombinasi baru dapat membawa perubahan besar bagi performa Honda di lintasan.
Musim ini, Honda mengandalkan Somkiat Chantra dan Jake Dixon sebagai ujung tombak, serta menghadirkan Jonathan Rea—juara dunia dengan rekor gemilang—sebagai pembalap uji.
Secara teori, susunan ini menjanjikan lompatan performa. Namun, kenyataan di lapangan justru jauh dari ekspektasi.
Masalah sudah muncul bahkan sebelum musim dimulai. Chantra mengalami cedera saat latihan di Sirkuit Sepang, yang memaksanya menunda debut hingga seri pembuka Eropa di Portimão.
Belum sempat menemukan ritme, pembalap asal Thailand itu kembali mengalami cedera di Assen dan harus absen.
Sementara itu, Dixon belum juga tampil akibat kecelakaan saat uji coba di Phillip Island. Situasi makin rumit karena Jonathan Rea baru bisa menjalankan perannya secara penuh pada Januari setelah pulih dari kecelakaan di balapan Superpole pada final musim di Jerez.
Performa Honda di Sirkuit Balaton Park akhir pekan lalu mencerminkan kondisi tim saat ini. Chantra hanya mampu start dari posisi ke-21 dan finis di urutan ke-19, ke-19, serta ke-15 dalam tiga balapan.
Selisih waktu yang mencapai 55, 25, dan 53 detik dari pemimpin lomba menunjukkan gap besar—sekitar 2,5 detik per lap.
Hasil posisi ke-15 pun tidak sepenuhnya murni, karena terbantu oleh lima pembalap yang gagal finis serta penalti putaran panjang ganda yang diterima Álvaro Bautista dari Ducati.
Meski begitu, ada sedikit sinyal positif dari performa Chantra. Ia mampu memperbaiki catatan waktu di hampir setiap sesi, kecuali Superpole.
Pembalap Honda itu menjelaskan bahwa kondisi lintasan yang lebih panas saat kualifikasi memengaruhi performanya. Saat memacu motor secara maksimal, ia merasakan selip roda yang lebih besar, terutama saat keluar tikungan.
Tim kemudian melakukan penyesuaian pada setelan motor dan sistem elektronik menjelang balapan pertama.
Perubahan tersebut memberi sedikit peningkatan, meski belum cukup untuk menjaga konsistensi kecepatan sesuai target.
Pada Balapan Superpole, modifikasi lanjutan kembali memberikan rasa yang lebih baik, terutama dalam hal konsistensi lap.
Namun, tantangan kembali muncul di Balapan 2. Chantra mengaku mengalami kesulitan pada lap awal akibat selip roda belakang.
Seiring berjalannya lomba, ia mulai menemukan ritme dan bahkan mencatatkan waktu lap terbaiknya di akhir pekan tersebut.
Ia menilai ada kemajuan kecil, termasuk keberhasilan finis di zona poin, meski mengakui bahwa Honda masih jauh dari posisi ideal.
Realita pahit terlihat jelas di klasemen sementara. Setelah seri di Hungaria, pembalap uji Tetsuta Nagashima justru menjadi wakil Honda terbaik dengan menempati posisi ke-19 dan mengoleksi tujuh poin.
Pembalap Jepang itu sebelumnya menggantikan Chantra di Phillip Island dan mencatat hasil terbaik tim musim ini dengan finis di posisi ke-11 pada balapan kedua.
Sementara itu, Yuki Kunii yang mengendarai motor Honda lainnya di Balaton Park tidak mampu memberikan kejutan. Pembalap berusia 23 tahun tersebut harus puas finis di posisi terakhir dalam ketiga balapan.
Dengan berbagai kendala yang dihadapi, perjalanan Honda di musim 2026 masih penuh tanda tanya. Perombakan besar yang diharapkan menjadi titik balik justru belum mampu mengangkat performa tim.
Kini, satu-satunya opsi adalah terus bekerja keras sambil berharap potensi yang dirancang sejak awal musim akhirnya bisa terwujud di paruh kedua kejuaraan.







