GPNesia.com – Legenda balap motor dunia Giacomo Agostini kembali menjadi sorotan setelah memberikan pandangannya terkait kekuatan motor MotoGP terbaru.
Dalam penilaiannya, ia menyebut Ducati 2026 sebagai motor “pemenang” dibandingkan Aprilia maupun Yamaha, meski peta persaingan musim ini menunjukkan hasil yang lebih kompleks di lintasan.
Komentar tersebut datang di tengah kondisi Ducati yang justru tidak sedominasi beberapa musim sebelumnya.
Pabrikan asal Borgo Panigale itu masih kesulitan mempertahankan konsistensi kemenangan, sementara Aprilia justru melesat di puncak klasemen berkat performa impresif Marco Bezzecchi dan Jorge Martin.
Meski begitu, Giacomo Agostini tetap menempatkan Ducati sebagai acuan utama dalam hal performa motor.
Ia bahkan secara terbuka mengakui bahwa jika tujuan utamanya adalah menang, maka pilihannya tetap jatuh kepada Ducati, bukan Yamaha maupun MV Agusta yang pernah menjadi bagian dari sejarah kariernya.
Dalam wawancara dengan MotoSprint Italia, Agostini ditanya motor mana yang paling ingin ia kendarai dari jajaran MotoGP saat ini.
Tanpa ragu, ia memilih Ducati, meski tetap mengakui bahwa kemenangan di era modern tidak hanya bergantung pada pembalap semata.
“Itu tergantung, untuk apa mengendarainya? Untuk balapan? Untuk menang? Maka saya pilih Ducati,” ujar Agostini.
Ia menegaskan bahwa seorang pembalap pada akhirnya ingin menggunakan motor yang bisa membawanya ke kemenangan, terlepas dari merek yang digunakan.
Menurutnya, faktor utama bukanlah nama pabrikan, melainkan kemampuan motor tersebut untuk menempatkan pembalap di posisi terdepan. Ia menambahkan bahwa dalam dunia balap, yang terpenting adalah hasil akhir, bukan sekadar reputasi merek.
Meski memberikan pujian tinggi kepada Ducati, Agostini juga menyoroti kondisi MotoGP modern yang menurutnya terlalu bergantung pada teknologi dan pengelolaan ban.
Ia merasa bahwa peran pembalap semakin berkurang dalam menentukan hasil balapan. Dalam pandangannya, pembalap seharusnya memiliki pengaruh lebih besar terhadap kemenangan.
Ia menyoroti bahwa saat ini strategi seperti penghematan ban menjadi faktor krusial, yang justru mengurangi esensi balapan kecepatan murni.
“Pembalap harus memiliki lebih banyak pengaruh terhadap kemenangan. Sekarang ada masalah tenaga dan manajemen ban. Ini balapan kecepatan, bukan balapan ketahanan,” tegas Giacomo Agostini.
Ia juga menyoroti bahwa perbedaan performa antar pembalap kini terlalu bergantung pada kondisi motor.
Dalam satu balapan, seorang rider bisa bersaing di podium, namun di seri berikutnya tertinggal jauh hanya karena perubahan kecil pada performa mesin atau setelan motor.
Bagi Agostini, kondisi ini membuat MotoGP kehilangan elemen paling menarik bagi penonton, yaitu pertarungan murni antar pembalap.
Ia menilai bahwa publik lebih tertarik pada karakter dan kemampuan individu pembalap, bukan sekadar dominasi mesin.
“Sekarang banyak yang menang, kenapa? Karena jika ada masalah kecil saja, kamu bisa langsung tertinggal jauh. Kita terlalu bergantung pada motor,” ujar Giacomo Agostini menambahkan.
Legenda yang berasal dari era ketika kemampuan pembalap lebih dominan ini menilai bahwa MotoGP modern telah bergeser menjadi olahraga yang sangat teknis. Menurutnya, hal tersebut membuat peran pembalap tidak lagi sebesar dulu dalam menentukan hasil akhir.
Meski begitu, ia tetap menegaskan bahwa Ducati saat ini memiliki paket terbaik di grid MotoGP, bahkan jika Aprilia sedang berada dalam performa puncak. Pandangan ini memperkuat keyakinannya bahwa Ducati masih menjadi standar tertinggi dalam kompetisi modern.
Kini, pandangannya kembali memicu diskusi mengenai keseimbangan antara teknologi dan kemampuan pembalap dalam MotoGP era sekarang, di tengah persaingan ketat antara Ducati, Aprilia, dan pabrikan lainnya.







