Mobil Murah Ramah Lingkungan Tertekan, Penjualan LCGC 2025 Anjlok Tajam

Mobil Murah Ramah Lingkungan

GPNesia.com – Pasar mobil murah ramah lingkungan atau yang dikenal dengan istilah Low Cost Green Car (LCGC) kembali menjadi sorotan publik di Indonesia.

Segmen kendaraan yang sejak awal dirancang untuk menghadirkan mobilitas terjangkau sekaligus efisien bahan bakar ini justru menghadapi tekanan besar sepanjang tahun 2025, dengan penurunan penjualan yang cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya.

LCGC sendiri merupakan kategori kendaraan yang lahir dari kebijakan otomotif nasional, di mana mobil jenis ini mendapatkan pengecualian atau keringanan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Syarat utamanya adalah kendaraan harus diproduksi di dalam negeri dengan tingkat komponen lokal (TKDN) tertentu, sehingga harga jualnya bisa ditekan agar lebih terjangkau masyarakat luas.

Namun dalam perkembangan terbaru, data industri menunjukkan bahwa pasar mobil murah ramah lingkungan sedang tidak dalam kondisi baik.

Sepanjang 2025, distribusi wholesale LCGC tercatat hanya mencapai 122.686 unit. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 30,6 hingga 31 persen dibandingkan tahun 2024, yang sebelumnya masih berada di level yang jauh lebih tinggi.

Penurunan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Pada awal tahun 2025, tepatnya kuartal pertama, segmen LCGC sempat menunjukkan performa yang relatif stabil dengan rata-rata pengiriman di atas 12 ribu unit setiap bulan.

Namun memasuki kuartal kedua hingga akhir tahun, grafik penjualan mulai melemah dan hanya bertahan di kisaran 8 hingga 9 ribu unit per bulan.

Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa sektor ini masih menjadi bagian penting dalam strategi industri otomotif nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyampaikan bahwa pemerintah tetap memberikan perhatian khusus terhadap pemulihan pasar kendaraan di segmen ini.

“Kalau kita bicara mengenai segmen mobil murah dan ramah lingkungan atau LCGC, ini juga sama mengalami tekanan penjualan wholesale LCGC pada tahun 2025 mencapai 122.686 unit, turun 30,6% pada tahun sebelumnya, dan pemerintah dalam hal ini tentu akan tetap memberikan perhatian pada pemulihan pasar LCGC melalui pemberian insentif fiskal yang efektif,” ujar Agus Gumiwang dalam ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, menjelaskan bahwa program LCGC masih memiliki keterkaitan erat dengan kebijakan besar pemerintah dalam pengembangan kendaraan rendah emisi atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV).

Menurutnya, kebijakan tersebut masih berjalan dalam kerangka regulasi jangka panjang yang berlaku hingga tahun 2031. Artinya, keberadaan LCGC sebagai bagian dari transisi menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan masih akan terus dipertahankan dalam beberapa tahun ke depan.

“Kalau LCGC kan saat ini memang masih ada program LCEV,” kata Setia Diarta. Ia menambahkan, “Ini program kan sampai 2031, perpresnya nanti 2031.”

Terkait insentif fiskal, pemerintah saat ini masih menerapkan skema pajak yang berlaku sesuai regulasi yang ada. Konsumen LCGC tetap dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), namun dengan tarif yang lebih rendah dibandingkan kendaraan berbasis mesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) pada segmen lainnya.

“Iya (PPnBM dikenakan 3 persen),” jelas Setia Diarta saat menjawab pertanyaan mengenai tarif pajak yang berlaku.

Jika dilihat dari data retail, kondisi pasar mobil murah ramah lingkungan juga menunjukkan tren yang serupa. Sepanjang 2025, penjualan retail hanya mencapai 130.799 unit. Angka ini turun sekitar 27 persen dibandingkan tahun 2024 yang masih mampu mencatatkan 178.726 unit.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada distribusi pabrikan ke dealer, tetapi juga pada tingkat pembelian langsung oleh konsumen akhir. Dengan kata lain, daya serap pasar terhadap LCGC mengalami penurunan yang cukup luas di berbagai lini.

Di tengah tekanan tersebut, pemerintah tetap menilai bahwa keberadaan LCGC masih penting sebagai salah satu pilar kendaraan terjangkau di Indonesia.

Selain mendukung mobilitas masyarakat, segmen ini juga dinilai berperan dalam upaya pengurangan emisi karbon melalui efisiensi bahan bakar yang lebih baik dibandingkan kendaraan konvensional di kelas tertentu.

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, masa depan mobil murah ramah lingkungan akan sangat bergantung pada kombinasi kebijakan insentif, kondisi ekonomi masyarakat, serta kemampuan industri otomotif dalam beradaptasi terhadap perubahan tren pasar.

Pemerintah pun berharap pemulihan sektor ini dapat terjadi melalui dukungan kebijakan fiskal yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Baca berita terbaru hari ini seputar MotoGP, Moto2, Moto3, F1 dan Otomotif di GPNesia.com melalui Google News + Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain GPNesia.com.
Exit mobile version