Mobil Listrik Mogok di Jalan? Begini Cara Mengatasinya

Avatar photo
Mobil Listrik Mogok Picu Tabrakan Maut di Bekasi Timur

GPNesia.com – Kasus mobil listrik mogok dan sulit dipindahkan seperti yang terjadi pada VinFast VF e34 di kawasan Bekasi kembali menjadi perhatian publik.

Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan keadaan darurat pada kendaraan listrik tidak bisa disamakan dengan mobil berbahan bakar konvensional.

Selain memahami penyebab kendaraan berhenti beroperasi, pengemudi juga dituntut mengetahui prosedur evakuasi yang tepat agar tidak menimbulkan risiko tambahan di jalan raya.

Pendiri EV Safe sekaligus dosen di National Battery Research Institute, Mahaendra Gofar, menegaskan bahwa langkah awal ketika kendaraan listrik mengalami gangguan adalah memeriksa kondisi sistem kelistrikan dasar, terutama aki 12 volt yang kerap dianggap sepele oleh pengguna.

Menurutnya, meskipun mobil listrik memiliki baterai utama bertegangan tinggi sebagai sumber tenaga utama, banyak sistem vital tetap bergantung pada suplai daya dari aki 12V.

Sistem seperti electronic shifter, kontrol elektronik, hingga modul keamanan tidak akan berfungsi jika aki tersebut melemah atau habis.

“Kalau aki 12 volt lemah atau tidak punya daya, sistem tidak bisa aktif. Akibatnya mobil tidak dapat dipindahkan ke posisi netral,” ujar Mahaendra dikutip dari Kompas.com, Selasa (28/4).

Ia menjelaskan bahwa kondisi ini sering tidak disadari oleh pengguna kendaraan listrik baru, karena mereka mengira seluruh sistem kendaraan akan tetap bekerja selama baterai utama masih menyimpan daya.

Padahal, ada mekanisme distribusi listrik yang membuat sistem kecil tetap sangat bergantung pada aki tambahan.

Berbeda dengan kendaraan bermesin bensin yang relatif mudah didorong saat mogok, mobil listrik memiliki sistem keamanan yang membuat roda bisa tetap terkunci ketika daya hilang. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa evakuasi tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

Dalam kondisi normal, kendaraan listrik hanya dapat dipindahkan dengan cara didorong jika sudah berada pada posisi netral (N).

Namun, untuk mencapai posisi tersebut, sistem kendaraan harus dalam keadaan aktif. Ketika tidak ada daya sama sekali, maka sistem penguncian tidak dapat dilepaskan.

“Kalau tidak ada power, tidak ada cara cepat untuk melepas penguncian. Jadi kendaraan tetap terkunci,” jelasnya.

Untuk kondisi seperti ini, salah satu metode awal yang umum digunakan oleh petugas adalah jump starter atau jump pack.

Perangkat ini berfungsi memberikan suplai daya sementara ke aki 12V sehingga sistem kendaraan dapat kembali menyala dalam kondisi terbatas.

Setelah sistem kembali aktif, meskipun kendaraan tidak sepenuhnya bisa dihidupkan, transmisi biasanya sudah bisa dipindahkan ke posisi netral.

Langkah ini memungkinkan kendaraan untuk digeser ke tempat yang lebih aman atau dinaikkan ke kendaraan derek.

“Biasanya petugas akan mencoba jump start terlebih dahulu. Walaupun mobil belum tentu bisa hidup normal, setidaknya bisa di-shift ke posisi N supaya dapat dipindahkan,” kata Mahaendra.

Di beberapa negara, perangkat jump pack bahkan telah menjadi perlengkapan standar pada mobil derek yang menangani kendaraan listrik. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses evakuasi ketika terjadi insiden di jalan.

Ketika kondisi mobil listrik mogok tidak dapat diatasi hanya dengan bantuan jump starter, maka langkah berikutnya adalah menggunakan jasa derek profesional. Namun, tidak semua metode penarikan kendaraan cocok untuk mobil listrik.

Beberapa model kendaraan listrik tidak disarankan untuk ditarik dengan roda tetap menyentuh permukaan jalan, karena berpotensi memengaruhi sistem penggerak dan komponen elektronik.

Oleh karena itu, metode flatbed towing atau derek gendong menjadi pilihan yang lebih aman dan direkomendasikan.

Dalam metode ini, seluruh kendaraan diangkat ke atas truk derek sehingga tidak ada roda yang berputar di jalan. Cara ini dinilai lebih aman untuk menjaga integritas sistem penggerak listrik dan menghindari kerusakan tambahan.

Mahaendra juga menekankan pentingnya edukasi bagi pengemudi kendaraan listrik, terutama terkait langkah-langkah darurat.

Ia menyebut bahwa pemahaman dasar seperti mengenali tanda-tanda aki 12V melemah, membawa perangkat jump starter, hingga mengetahui prosedur evakuasi sangat penting untuk mengurangi risiko di lapangan.

“Yang paling penting jangan panik. Pahami dulu kondisi kendaraan, lalu lakukan langkah yang aman sesuai prosedur,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dengan semakin meningkatnya jumlah pengguna kendaraan listrik di Indonesia, kebutuhan edukasi teknis menjadi semakin mendesak. Tidak hanya bagi pengemudi, tetapi juga bagi petugas jalan dan operator derek agar mampu menangani situasi darurat dengan benar.

Dalam situasi seperti mobil listrik mogok, respons cepat yang tepat dapat menentukan keamanan pengemudi, kendaraan, serta pengguna jalan lainnya. Karena itu, pemahaman teknis dasar menjadi bagian penting dalam ekosistem kendaraan listrik yang terus berkembang di Tanah Air.

Add as preferred source on Google

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain GPNesia.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *