GPNesia.com – Aprilia menilai bahwa persaingan musim ini di MotoGP sangat dipengaruhi oleh karakter ban Michelin, terutama pada kompon medium yang disebut lebih menguntungkan mereka dibanding Ducati.
CEO Aprilia, Massimo Rivola, bahkan menyebut bahwa kondisi ini bisa membuat Ducati terlihat “kesulitan” dalam balapan utama, meski keunggulan Aprilia belum tentu bertahan lama.
Pernyataan tersebut muncul di tengah tren kontras antara dua pabrikan besar itu pada awal musim 2026.
Ducati yang selama beberapa musim terakhir dikenal dominan justru mengalami periode tanpa kemenangan yang cukup panjang menurut standar mereka, bahkan tercatat sebagai paceklik terburuk sejak rentang 2010 hingga 2016 ketika mereka tidak meraih kemenangan Grand Prix selama lebih dari lima tahun.
Dalam lima balapan terakhir, tim asal Bologna itu belum sekalipun naik ke puncak podium balapan utama.
Sebaliknya, Aprilia tampil sangat konsisten. Pabrikan Noale tersebut berhasil mencatat lima kemenangan Grand Prix beruntun melalui Marco Bezzecchi, termasuk dua seri penutup musim 2025 dan tiga seri awal 2026.
Lebih impresif lagi, Bezzecchi mencatat rekor baru dengan memimpin setiap lap dalam lima Grand Prix terakhir, sebuah dominasi yang jarang terjadi di era modern MotoGP.
Tidak hanya di level kemenangan, Aprilia juga menunjukkan kekuatan di klasemen. Bezzecchi kini memimpin klasemen sementara dengan 81 poin, sementara rekan setimnya Jorge Martin berada di posisi kedua dengan 77 poin menjelang Grand Prix Spanyol akhir pekan ini.
Di sisi lain, Ducati belum mampu tampil stabil. Fabio Di Giannantonio dari VR46 menjadi pembalap Ducati terbaik sejauh ini, namun ia hanya berada di posisi keempat klasemen dengan 50 poin, tertinggal dari Pedro Acosta (KTM) yang mengoleksi 60 poin.
Satu-satunya podium Grand Prix Ducati musim ini juga baru datang dari Di Giannantonio lewat finis ketiga di Brasil.
Meski begitu, Ducati masih menunjukkan kekuatan di sesi Sprint Race. Marc Marquez sempat tampil kompetitif dengan finis kedua di Buriram setelah penalti, lalu memenangkan Sprint di Brasil.
Hal ini menjadi indikasi bahwa performa Ducati masih kuat pada kondisi tertentu, terutama dengan ban soft Michelin.
Menurut Massimo Rivola, karakter ban menjadi faktor kunci yang membedakan performa kedua pabrikan tersebut.
Ia menilai Ducati lebih efektif dalam Sprint karena pemanfaatan ban soft, sementara Aprilia lebih unggul dalam balapan utama dengan kompon medium.
“Ducati jelas belum hilang dari persaingan. Mereka bahkan finis pertama dan kedua di Sprint,” ujar Massimo Rivola dalam pernyataannya kepada Motorsport.com.
Ia menambahkan bahwa Ducati memiliki sedikit keunggulan pada ban soft, sedangkan Aprilia lebih efisien pada ban medium terutama dalam manajemen degradasi.
Ia juga menekankan bahwa kondisi ini bisa membuat Ducati tampak kesulitan di akhir balapan, namun situasi tersebut belum tentu permanen. “Perbedaan itu mungkin hanya sementara. Saya pikir musim ini akan sangat menarik,” lanjutnya.
Persaingan juga semakin menarik dengan hadirnya Pedro Acosta dari KTM yang terus menunjukkan performa konsisten.
Ia finis kedua di Thailand dan bahkan meraih podium ketiga di beberapa seri, termasuk di Amerika. Acosta sendiri sempat mengalami momen kontroversial di Sprint Buriram setelah merasa tidak sepenuhnya “meraih kemenangan murni” akibat penalti yang diterima Marc Marquez.
Di sisi Ducati, Di Giannantonio kembali menjadi pembalap terbaik mereka di beberapa seri Grand Prix meski selisih waktu dengan Bezzecchi cukup besar.
Di Thailand misalnya, ia finis sebagai Ducati terdepan di posisi keenam, tertinggal lebih dari 16 detik dari pemenang balapan.
Di Brasil dan Amerika, selisihnya tetap berada di kisaran beberapa detik dari Aprilia yang sedang berada dalam performa puncak.
Menutup analisisnya, Massimo Rivola menegaskan bahwa musim ini masih sangat panjang dan belum ada kepastian siapa yang akan mendominasi.
Ia percaya bahwa dinamika ban, strategi, serta konsistensi akan menjadi penentu utama dalam perebutan gelar dunia.
Dengan kondisi saat ini, Aprilia memang sedang berada di atas angin, namun Ducati diyakini belum sepenuhnya tersingkir dari persaingan.
Dan seperti yang ditegaskan Massimo Rivola, keseimbangan kekuatan bisa berubah kapan saja seiring berjalannya musim MotoGP 2026.







