GPNesia.com – Dominasi Ducati di Kejuaraan Dunia Superbike 2026 terus menjadi sorotan. Pabrikan asal Borgo Panigale itu tampil nyaris tanpa tanding sepanjang musim, dan sosok yang dianggap berperan besar di balik keberhasilan tersebut adalah Marco Zambenedetti.
Kepala proyek Superbike Ducati itu kini mulai menikmati hasil dari pengembangan panjang yang dilakukan bersama timnya terhadap Panigale generasi terbaru.
Dalam putaran balap di Most, Marco Zambenedetti berbicara terbuka mengenai kondisi terkini Ducati, termasuk menjawab kritik yang diarahkan kepada tim pabrikan Italia tersebut.
Ia juga memberikan penjelasan detail terkait persoalan swingarm yang sempat muncul pada seri Assen dan menimbulkan perhatian di paddock Superbike.
Menurut Marco Zambenedetti, proyek Panigale terbaru memang masih tergolong baru, namun motor tersebut langsung menunjukkan daya saing tinggi sejak awal musim.
Ia mengakui masih ada sejumlah detail teknis yang perlu disempurnakan, tetapi perkembangan yang ditunjukkan Ducati dinilai sudah sangat positif.
“Meskipun proyek ini masih baru, Panigale ini langsung terbukti kompetitif. Tentu saja masih ada banyak detail yang perlu diperbaiki, tetapi saya juga senang melihat tim-tim swasta kami semakin mendekat dan berkembang. Data dari tim pabrikan tentu membantu mereka, tetapi mereka juga memiliki pembalap yang sangat baik sehingga hasilnya akan meningkat seiring waktu,” ujarnya seperti dikutip dari GPOne.
Ketika ditanya mengenai sejauh mana pengembangan motor baru Ducati dibandingkan potensi maksimalnya, Marco Zambenedetti memperkirakan performa Panigale saat ini sudah melampaui 90 persen dari kapasitas yang diinginkan tim.
“Sulit untuk mengatakannya secara pasti, tetapi saya pikir kami sudah melewati 90 persen dari potensi motor ini,” katanya.
Salah satu topik yang paling banyak dibicarakan adalah masalah swingarm yang terjadi di Assen. Ducati sebelumnya diketahui melakukan perubahan komponen pada beberapa motor setelah ditemukan indikasi keretakan pada bagian tersebut.
Marco Zambenedetti menjelaskan bahwa Ducati memang memperkenalkan teknologi baru pada swingarm Panigale, sehingga tim terus mendorong batas pengembangan di setiap area motor. Namun, dalam proses tersebut muncul persoalan yang harus segera ditangani demi keselamatan pembalap.
“Di Assen kami mengalami beberapa masalah dan memutuskan mengganti beberapa bagian swingarm untuk semua pembalap. Antara Assen dan Balaton, kami menarik seluruh swingarm milik para pembalap, memperkuatnya, lalu mengembalikannya dengan komponen baru. Tujuannya meningkatkan kekakuan dan fleksibilitas, tetapi yang paling penting adalah menjamin keamanan karena itu selalu menjadi prioritas utama kami,” jelasnya.
Awalnya Ducati menduga masalah hanya terjadi pada swingarm motor yang mengalami kecelakaan. Namun setelah pemeriksaan lebih lanjut dilakukan sepanjang akhir pekan balap, tim menemukan adanya retakan kecil bahkan pada komponen yang tidak pernah terjatuh.
“Awalnya kami berpikir demikian, tetapi kemudian kami menyadari ada retakan kecil juga pada swingarm yang tidak pernah mengalami crash. Karena itu kami memutuskan melakukan tindakan tambahan dan memperkuat seluruh area terkait,” ungkapnya.
Terkait area motor yang masih memiliki ruang pengembangan, ia mengakui cuaca menjadi hambatan utama tim dalam melakukan pengujian sejumlah pembaruan teknis. Ducati saat ini masih menyimpan beberapa komponen baru yang belum sempat diuji secara optimal di lintasan.
“Karena cuaca, kami tidak bisa mengerjakan setelan dan beberapa bagian pengembangan yang sudah kami siapkan. Untuk saat ini beberapa pembaruan masih tertunda. Saya berharap mulai minggu depan kami bisa fokus pada setelan serta komponen rangka,” katanya.
Selain membahas aspek teknis, Marco Zambenedetti juga menanggapi kritik terkait dominasi Ducati di Superbike. Dalam beberapa musim terakhir, Ducati beberapa kali mendapatkan penalti regulasi demi menjaga keseimbangan persaingan. Namun menurutnya, dampak hukuman tersebut sebenarnya cukup besar terhadap performa motor.
“Saya masih ingat berapa kali kami dikenai sanksi dan saya tidak setuju jika dikatakan tidak ada yang berubah, karena dampaknya terhadap tenaga motor bagi pembalap memang nyata. Namun tetap saja, sangat mudah menang ketika pihak lain tidak melakukan cukup banyak peningkatan performa. Sejujurnya selain BMW, saya belum melihat perkembangan besar dari pabrikan lain,” tegasnya.
Ia juga mengaku kecewa karena ada anggapan beberapa tim hanya berharap Ducati terkena penalti tambahan dibanding meningkatkan performa motor mereka sendiri.
“Mungkin ada pihak yang memutuskan untuk tidak meningkatkan motor, teknisi, bahkan pembalap mereka, lalu hanya mengeluh terhadap mereka yang bekerja dengan baik seperti kami,” ujarnya.
Meski demikian, Ducati disebut tetap terbuka untuk berdiskusi dengan pabrikan lain demi menjaga daya tarik kejuaraan. Menurutnya, jika minat terhadap Superbike menurun maka nilai investasi seluruh pabrikan juga akan ikut terdampak.
“Kami di sini untuk mempromosikan produk kami dan jika kejuaraan kehilangan peminat maka investasi juga kehilangan nilainya. Kami terbuka berdiskusi dengan pabrikan lain dan memahami kesulitan mereka, mungkin dengan memberi sedikit kelonggaran regulasi. Tetapi konsepnya harus jelas, semua pihak harus kembali bekerja. Performa tidak bisa diberikan secara gratis karena itu tidak menghormati mereka yang sudah bekerja keras seperti kami atau BMW,” katanya.
Marco Zambenedetti memperkirakan persaingan di Superbike akan menjadi lebih kompetitif mulai musim depan. Ia menilai sejumlah pabrikan kemungkinan mulai mengejar ketertinggalan dan meningkatkan kualitas proyek mereka.
“Saya pikir tahun depan situasinya akan lebih baik,” ucapnya.
Di sisi lain, hubungan Ducati Superbike dengan proyek MotoGP juga semakin erat, terutama menjelang penggunaan ban Pirelli di kelas utama pada masa mendatang. Ducati disebut sudah berbagi banyak data dan analisis teknis terkait karakteristik ban tersebut.
“Ada kolaborasi yang kuat dan para insinyur sudah berbagi banyak analisis mengenai ban. Di awal tahun kami mentransfer sebanyak mungkin pengalaman ke departemen MotoGP. Sekarang mereka sudah memiliki cukup informasi dan mulai bekerja secara mandiri terkait karakteristik ban Pirelli yang nantinya digunakan di MotoGP,” jelasnya.
Saat diminta pendapat mengenai kemungkinan penerapan sistem penyeimbangan teknis seperti konsep Next Generation di Supersport, Marco Zambenedetti menegaskan dirinya tidak tertarik dengan pendekatan tersebut.
“Saya tidak tertarik dengan metode seperti itu. Kami tidak bisa membicarakan apa yang dibahas di MSMA, tetapi seperti yang sudah saya katakan, saya memang tidak tertarik dengan pendekatan semacam itu,” tutup Marco Zambenedetti.
