Lance Stroll Ikut GT World Challenge di Paul Ricard

Avatar photo
Lance Stroll Ikut GT World Challenge di Paul Ricard

GPNesia.com – Pembalap Formula 1 Lance Stroll kembali menjadi sorotan setelah mengambil langkah tak biasa di tengah musim balap yang sedang berlangsung.

Ia memanfaatkan jeda tidak terduga pada bulan April untuk turun di ajang GT World Challenge, sebuah keputusan yang membuatnya bergabung dengan sejumlah rivalnya di lintasan berbeda dari kejuaraan utama.

Keterlibatan ini menjadi menarik karena ia tidak hanya sekadar hadir, tetapi benar-benar turun sebagai pembalap aktif di kategori GT3 yang memiliki karakter balap sangat berbeda dari Formula 1.

Langkah ini sekaligus menunjukkan bagaimana para pembalap modern semakin fleksibel dalam mencari pengalaman tambahan di luar kalender utama mereka.

Keputusan tersebut, menurut pengakuannya, lahir secara spontan ketika ia masih berada di Suzuka. Pada suatu makan malam bersama beberapa teman pada Sabtu malam, pembicaraan berkembang ke arah bagaimana mereka bisa memanfaatkan jeda sekitar satu bulan akibat beberapa balapan yang dibatalkan.

Dari diskusi santai itu, ide untuk turun di balapan ketahanan GT World Challenge kemudian mengerucut dengan cepat.

Proses realisasinya berjalan sangat singkat karena mendapat dukungan dari Jean-Michel Baert, pemilik tim Comtoyou Racing, yang bergerak cepat mengatur seluruh kebutuhan teknis dan administratif hanya dalam waktu sekitar satu minggu. Tanpa koordinasi cepat tersebut, proyek ini tidak akan terwujud tepat waktu.

Dalam ajang tersebut, Lance Stroll akan berkompetisi pada putaran pembuka GT World Challenge yang berlangsung selama enam jam di Sirkuit Paul Ricard, Prancis.

Sirkuit ini dikenal sebagai salah satu trek modern yang pernah menjadi tuan rumah Grand Prix Formula 1 Prancis, dengan karakter lintasan yang luas, cepat, dan teknis.

Ia akan mengendarai Aston Martin Vantage AMR GT3 EVO yang dioperasikan oleh tim Belgia, Comtoyou Racing. Balapan ketahanan ini menuntut konsistensi, kerja sama tim, serta manajemen ban dan bahan bakar yang sangat berbeda dibandingkan balapan sprint Formula 1.

Menariknya, sebelum melakukan uji coba di Nürburgring pekan sebelumnya, ia mengaku sudah hampir satu dekade tidak mengendarai mobil GT.

Kondisi ini membuat adaptasinya menjadi tantangan tersendiri, meski bukan hal asing bagi pembalap profesional yang terbiasa beradaptasi cepat.

Dalam konteks yang lebih luas, situasi ini juga mengingatkan pada langkah Max Verstappen yang tengah bersiap mengikuti ajang Nürburgring 24 Hours, menunjukkan tren baru di mana pembalap F1 mulai menjajal ketahanan GT di sela jadwal padat mereka.

Dalam proyek ini, Lance Stroll akan berbagi mobil dengan mantan pembalap Marussia F1, Roberto Merhi, serta pembalap Aston Martin Academy, Mari Boya.

Kombinasi ini menghadirkan perpaduan pengalaman yang unik antara mantan pembalap F1, talenta muda akademi, dan pembalap aktif F1.

Target yang dipasang cukup ambisius, yakni meraih podium. Meski demikian, ia menyadari bahwa peluang kemenangan di Formula 1 jauh lebih sulit diraih dibandingkan di kategori GT yang lebih terbuka secara kompetitif, terutama dalam balapan ketahanan yang penuh variabel.

Ia menilai bahwa di Formula 1, kesempatan untuk menang sangat terbatas karena dominasi tim tertentu dan tingkat persaingan yang sangat ketat.

Sebaliknya, di GT World Challenge, meski kompetisinya juga tinggi, peluang untuk meraih hasil maksimal tetap terbuka jika strategi, setup mobil, dan komunikasi tim berjalan dengan baik.

Pandangan ini menjadi salah satu alasan utama yang mendorongnya untuk mencoba tantangan baru di luar F1, sekaligus menjadi motivasi tambahan dalam karier balapnya.

Dari sisi kalender, peluang untuk melanjutkan partisipasi di GT World Challenge masih terbuka sepanjang musim. Selain putaran Monza yang menjadi satu-satunya opsi pada paruh awal tahun, ia berpotensi mengikuti hingga lima putaran terakhir.

Namun, hal ini berarti beban jadwal yang sangat padat, dengan sembilan akhir pekan balapan dalam rentang sepuluh minggu antara Grand Prix Belanda pada 23 Agustus hingga Grand Prix São Paulo pada 8 November. Kondisi ini tentu membutuhkan manajemen fisik dan mental yang sangat disiplin agar performa tetap stabil di dua kejuaraan berbeda.

Perbedaan karakter mobil juga menjadi aspek yang ia soroti. Mobil GT memiliki downforce lebih rendah dan tenaga yang tidak sebesar mobil Formula 1, tetapi menawarkan kelincahan lebih tinggi dalam beberapa situasi.

Pembalap dapat lebih agresif dalam melewati kerb dan mengikuti mobil lain dengan jarak lebih dekat, terutama dalam kondisi lalu lintas padat. Hal ini memberikan sensasi balap yang berbeda dibandingkan Formula 1 yang lebih steril dalam jarak antar mobil.

Lance Stroll menegaskan bahwa pengalaman mengemudi tetap menjadi inti dari semua kategori balap yang ia jalani. Baik di Formula 1, GT, maupun karting, pendekatan mentalnya tetap sama: fokus pada performa dan menikmati waktu di balik kemudi.

Perbedaannya hanya terletak pada intensitas media dan lingkungan kerja, di mana balapan GT menawarkan suasana yang lebih santai dengan lebih banyak waktu di garasi untuk berinteraksi langsung dengan tim. Bagi dirinya, pengalaman ini menjadi kesempatan untuk memperkaya keterampilan sekaligus menikmati kembali esensi balap yang lebih sederhana namun kompetitif.

Baca berita terbaru hari ini seputar MotoGP, Moto2, Moto3, F1 dan Otomotif di GPNesia.com melalui Google News + Facebook