Jorge Martin menandai satu tahun sejak momen yang nyaris mengakhiri kariernya di MotoGP, setelah kecelakaan mengerikan yang membuatnya terbaring di lintasan dan tertabrak Ducati Fabio Di Giannantonio.
Cedera yang dialami membuat Jorge Martin sempat mempertimbangkan untuk pensiun dini, namun perlahan-lahan ia kembali ke performa terbaiknya, sama seperti saat menjuarai dunia sebelumnya bersama tim satelit Ducati.
Proses comeback Jorge Martin dimulai dari sisi mental. Ia harus memutuskan hubungan emosional dengan motor yang sempat mencelakakannya, meski Aprilia terbukti sangat kompetitif di tangan Marco Bezzecchi.
Ingatan akan crash di uji coba Sepang, yang memaksanya absen di seluruh pramusim, serta kecelakaan di Losail yang hampir menghentikan kariernya, masih terlalu segar. Tak kalah penting, cedera saat latihan sebelum musim baru juga membuatnya absen di tiga balapan pembuka.
Sejak awal musim ini, Martin dan Aprilia menekankan suasana positif di garasi. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa upaya keluar dari tim pada 2025 meninggalkan luka yang sulit sembuh.
Yamaha kemudian mendekati Martin ketika jelas bahwa Fabio Quartararo telah memilih Honda untuk memimpin proyek mereka mulai 2027.
Tawaran finansial melebihi €6 juta per tahun membuat Martin menerima kesempatan bergabung dengan pabrikan Jepang yang selalu ia impikan.
“Sejak kecil, Jorge selalu mengagumi produsen Jepang, terutama Yamaha. Jadi ketika mereka datang, mencapai kesepakatan menjadi prioritasnya,” kata seorang anggota dekat Martin kepada Autosport.
Dengan masa depan aman, fokus berikutnya Martin adalah mengatasi cedera bahu dan tulang pergelangan yang ia derita sejak kecelakaan di Motegi, yang membuatnya melewatkan empat balapan tambahan.
Saran dari Marc Marquez membuat Martin mengubah metode pemulihannya dan menempatkan dirinya dalam perawatan tim medis Marquez.
Sebelum akhir tahun, Martin menjalani operasi rahasia agar fit untuk uji coba awal 2026 di Malaysia, meski target ini terlalu optimistis.
Debutnya dengan Aprilia RS-GP baru terjadi saat uji coba dua hari di Thailand, seminggu sebelum musim dimulai.
Musim ini memberikan apa yang penggemar Martin tunggu: dua finis kedua (Brasil dan Austin) dan kemenangan sprint (Austin) membuatnya memimpin klasemen sementara di Texas pada Sabtu sore.
Setahun setengah setelah terakhir kali, Jorge Martin kembali menjadi tolok ukur kecepatan di kejuaraan.
“Comeback Jorge adalah salah satu yang terbesar dalam sejarah olahraga. Setelah semua yang dialaminya, pencapaian ini benar-benar luar biasa,” ujar Pedro Acosta, yang berbagi manajemen dengan Jorge Martin.
Sadar akan prestasinya—dan usaha yang dibutuhkan untuk bangkit dari cedera parah—Jorge Martin sempat berlutut di parc ferme Circuit of the Americas untuk berdoa, sebuah tindakan yang jarang ia lakukan.
“Saya selalu beriman sejak kecil. Ini cara saya berterima kasih kepada keluarga, terutama nenek saya yang selalu mendoakan saya,” kata Jorge Martin kepada Autosport.
Pengabdian neneknya, Pili dan Juli, sungguh luar biasa. “Mereka berkorban, misal menahan diri dari cokelat dari awal sampai akhir musim, hanya meminta agar tidak terjadi apa-apa pada saya,” jelas Jorge Martin, yang saat ini menempati posisi kedua klasemen, empat poin di belakang rekan setimnya Bezzecchi.
Dengan perjalanan Jorge Martin selama setahun terakhir, jelas bahwa keyakinan dan tekadnya membuahkan hasil, menjadikannya salah satu comeback paling menginspirasi di MotoGP 2026.
Baca berita terbaru hari ini seputar MotoGP, Moto2, Moto3, F1 dan Otomotif di GPNesia.com melalui Google News + Facebook
