GPNesia – Persaingan internal di garasi Yamaha menjadi salah satu kisah paling panas dalam sejarah MotoGP modern, terutama ketika Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi berada dalam satu tim dengan tensi yang hampir tidak pernah mereda.
Rivalitas dua pembalap elite ini bahkan disebut sebagai salah satu konflik rekan setim paling sengit yang pernah terjadi di ajang Grand Prix.
Sejak Rossi bergabung kembali ke Yamaha menjelang musim 2013, situasi di dalam tim pabrikan Jepang itu berubah drastis.
Rossi, yang saat itu sudah mengoleksi tujuh gelar juara dunia, kembali setelah periode sulit bersama Ducati. Namun kehadirannya justru memicu dinamika baru karena Jorge Lorenzo sudah lebih dulu menjadi figur dominan di Yamaha.
Dalam pengakuannya melalui dokumenter Decoded yang tayang di kanal YouTube Duralavita, Jorge Lorenzo mengungkap bahwa kondisi psikologis dan reputasi Rossi saat itu berada di titik rendah.
Ia menyebut bahwa sang legenda Italia datang kembali ke Yamaha setelah masa yang tidak berjalan baik di Ducati, bahkan dengan posisi yang jauh berbeda dibanding masa kejayaannya sebelumnya.
Menurut Lorenzo, Yamaha pada saat itu berada dalam situasi sulit untuk memilih antara mempertahankan dirinya atau menerima kembali Rossi.
Namun keputusan pabrikan akhirnya jelas: keduanya akan berada dalam satu tim tanpa mengorbankan posisi Lorenzo yang sudah membawa dua gelar dunia berturut-turut untuk Yamaha.
Ia pun merasa berada di posisi puncak sebagai pembalap utama tim.
Dalam penuturannya, Jorge Lorenzo menggambarkan bahwa nilai tawar Rossi saat kembali ke Yamaha berada “di titik terendah”.
Ia bahkan menyebut bahwa sang juara dunia tujuh kali itu kembali dengan kondisi harus menerima kontrak yang jauh lebih rendah dibandingkan dirinya, meskipun tetap membawa nama besar di dunia MotoGP.
Ketegangan antara keduanya tidak berhenti di level manajemen, tetapi juga merembet ke lintasan balap.
Dalam beberapa musim awal kebersamaan mereka, Yamaha justru menjadi panggung dominasi tiga pembalap utama, yakni Dani Pedrosa, Marc Marquez, dan Lorenzo sendiri.
Rossi, menurut Lorenzo, masih mampu bersaing, tetapi tidak berada di level dominasi seperti sebelumnya dan lebih sering berada di posisi belakang dalam beberapa seri.
Situasi ini semakin kompleks karena era baru MotoGP mulai muncul dengan kehadiran Marc Marquez yang langsung memberikan dampak besar sejak debutnya di kelas utama.
Marquez berhasil merebut gelar juara dunia di musim debutnya dan kembali mempertahankan performa luar biasa pada musim berikutnya, menjadikannya salah satu rival terkuat yang pernah dihadapi Lorenzo sepanjang kariernya.
Meski demikian, Jorge Lorenzo tetap menilai bahwa persaingan paling berat dalam hidupnya bukanlah dengan Rossi, melainkan dengan Marquez.
Menurutnya, pembalap muda Spanyol itu membawa standar baru dalam kompetisi MotoGP modern dengan agresivitas dan konsistensi yang sulit ditandingi.
Puncak rivalitas Lorenzo dan Rossi terjadi pada musim 2015, ketika keduanya bersaing langsung memperebutkan gelar dunia dalam situasi yang penuh ketegangan.
Musim tersebut menjadi salah satu yang paling kontroversial dalam sejarah MotoGP, dengan pertarungan yang tidak hanya terjadi di lintasan, tetapi juga di luar arena balap.
Pada akhirnya, hubungan antara Lorenzo dan Rossi tetap dikenang sebagai salah satu dinamika paling intens di dunia balap motor.
Meski keduanya pernah berbagi garasi yang sama, kisah mereka di Yamaha menjadi bukti bahwa persaingan internal dapat melahirkan konflik, tekanan, sekaligus momen-momen ikonik yang membentuk sejarah MotoGP modern.
Baca berita terbaru hari ini seputar MotoGP, Moto2, Moto3, F1 dan Otomotif di GPNesia.com melalui Google News + Facebook
