Jack Miller Tembus Q2, Yamaha V4 Tunjukkan Kemajuan di MotoGP Catalunya 2026

Jack Miller
FOTO: YAMAHA-RACING.COM

GPNesia.com – Performa positif Yamaha dengan mesin V4 kembali berlanjut pada rangkaian MotoGP Catalunya 2026, Jumat, setelah dua pembalap pabrikan garpu tala berhasil mengamankan tiket langsung ke Kualifikasi 2.

Setelah sebelumnya Fabio Quartararo tampil impresif di Le Mans, kali ini sorotan tertuju kepada Jack Miller yang sukses membawa tim Pramac tampil kompetitif di Barcelona.

Pembalap asal Australia itu mencatatkan waktu tercepat kesembilan pada sesi latihan, hanya terpaut sekitar 0,2 detik dari pemuncak klasemen sesi.

Hasil tersebut membuat Jack Miller merasa cukup puas karena Yamaha mulai menunjukkan perkembangan signifikan dengan proyek mesin V4 terbaru mereka.

“Ketika Anda mengatakan selisih dua persepuluh detik dan posisi kesembilan, itu bahkan terdengar tidak nyata!” ujar Miller sambil tersenyum kepada MotoGP.com seusai sesi latihan.

Miller mengaku langsung merasa nyaman sejak awal menjalani sesi di Sirkuit Catalunya. Menurutnya, lintasan Barcelona menjadi salah satu trek yang cukup familiar karena sebelumnya ia pernah mengendarai motor V4 di tempat tersebut.

“Saya merasa nyaman sejak awal di Barcelona. Ini adalah salah satu trek yang pernah kami kunjungi dan pernah saya lalui dengan V4 sebelumnya, jadi kami sudah memiliki gambaran kasar tentang kondisinya,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa karakter motor Yamaha saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan versi musim lalu. Namun secara keseluruhan, ia puas dengan perkembangan yang dirasakan sepanjang hari pertama.

“Jelas, motor ini sekarang sangat berbeda dari yang kami kendarai tahun lalu. Tapi secara umum, senang dengan hari ini, senang dengan kecepatannya,” lanjut pembalap Pramac tersebut.

Pada percobaan time attack terakhir, Miller memanfaatkan slipstream dari Marco Bezzecchi untuk memaksimalkan catatan waktunya. Strategi tersebut cukup membantu meski Yamaha masih mengalami kekurangan pada sektor kecepatan puncak.

“Lalu untuk serangan satu putaran terakhir, saya berhasil menempatkan Bez di depan saya dan benar-benar tancap gas,” katanya.

Jack Miller juga mengakui bahwa motor Yamaha masih tertinggal cukup jauh dalam hal top speed dibandingkan para rivalnya. Ia menyebut perbedaan kecepatan di lintasan lurus mencapai 11 hingga 12 km/jam.

“Jelas, kami masih kekurangan kecepatan di lintasan lurus. Saya rasa kami tertinggal sekitar 11-12 km/jam di alat pengukur kecepatan, tetapi untungnya di sini Anda hanya benar-benar menggunakan tenaga di lintasan lurus utama,” ungkapnya.

Menurut Miller, kondisi grip lintasan yang rendah justru membuat pembalap lebih fokus mencari traksi dibanding sekadar mengandalkan tenaga mesin.

“Di bagian lintasan lainnya, karena tidak ada cengkeraman, Anda hanya berusaha mencari traksi,” tuturnya.

Ia juga menilai kerja sama seluruh kru dan pembalap Yamaha mulai membuahkan hasil positif. Sejak sesi awal, mereka dinilai mampu menemukan setelan yang tepat untuk menjaga performa motor tetap stabil.

“Bersama dengan rekan-rekan, sejak awal hari ini kami berhasil menemukan celah dan menjaga agar motor tetap berada di celah tersebut,” kata Miller lagi.

Keberhasilan menembus Q2 dianggap sangat penting bagi perjalanan akhir pekan balap karena bisa menghindari sesi Q1 yang lebih berat.

“Sangat menyenangkan bisa melaju ke hari Sabtu, bukan langsung masuk Q1. Ini sangat membantu akhir pekan jika Anda bisa masuk Q2 dan memulai balapan dengan beberapa posisi lebih maju,” ucapnya.

Performa Miller hadir hanya beberapa hari setelah Fabio Quartararo sukses membawa Yamaha V4 finis di posisi keenam pada Grand Prix Prancis, yang menjadi salah satu hasil terbaik motor anyar tersebut sejauh ini.

Miller pun menegaskan bahwa proyek Yamaha masih terus berkembang dan membutuhkan proses panjang sebelum benar-benar mampu bersaing secara konsisten di barisan depan.

“Kami sedang membuat kemajuan, tentu saja. Saya tidak tahu apa yang diharapkan orang lain. Roma tidak dibangun dalam sehari,” ujar pembalap Australia itu.

Ia menambahkan bahwa pengembangan motor membutuhkan proses panjang berupa pengujian, evaluasi, dan penyesuaian berkelanjutan, termasuk bersama tim penguji Yamaha.

“Ini akan membutuhkan proses coba-coba, pengujian dan penyesuaian, serta upaya untuk melakukan yang terbaik, baik di akhir pekan balapan maupun bersama Augusto dan Dovi di tim uji coba,” katanya.

Miller bahkan menyebut hasil positif pada hari Jumat terasa seperti angin segar bagi seluruh insinyur Yamaha setelah melewati masa sulit dalam pengembangan motor.

“Saya tahu ini baru hari Jumat, tetapi ini seperti menghirup udara segar setelah masa yang sangat berat bagi semua insinyur yang terlibat,” ungkapnya.

Sementara itu, rekan setimnya Toprak Razgatlioglu menutup sesi latihan di posisi ke-19 tercepat. Meski begitu, jaraknya hanya sekitar 0,821 detik dari pemimpin sesi latihan yang ditempati pembalap KTM, Pedro Acosta.

Juara WorldSBK tersebut mengaku mengalami kesulitan besar pada sesi pagi karena minimnya cengkeraman ban di lintasan Catalunya.

“Pagi ini sungguh luar biasa – tetapi bukan dalam arti yang baik – karena jujur saja, saya merasa tidak memiliki cengkerangan sama sekali,” kata Toprak.

“Rasanya seperti sedang berkendara di atas es. Saya bahkan kembali ke pit dan bertanya kepada tim, ‘Apa ini? Apakah ada masalah dengan motornya atau treknya memang selalu seperti ini?’” lanjutnya.

Namun setelah memahami kondisi lintasan, Toprak mulai mencoba menyesuaikan gaya balapnya sedikit demi sedikit agar lebih cocok dengan karakter motor MotoGP.

“Namun pada akhirnya saya harus menerima bahwa memang seperti inilah kondisi treknya. Semua orang balapan dalam kondisi yang sama dan saya perlu beradaptasi lebih baik dengannya,” jelasnya.

Toprak juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengikuti Fabio Quartararo di lintasan dan belajar banyak dari cara juara dunia MotoGP 2021 itu menaklukkan tikungan.

“Saya mengikuti Fabio untuk beberapa waktu dan jujur saja saya banyak belajar dari mengamati bagaimana dia menghadapi tikungan,” katanya.

Dari pengamatan tersebut, ia menyadari bahwa dirinya perlu lebih percaya terhadap kemampuan ban depan motor MotoGP, sesuatu yang berbeda dibanding kebiasaannya di ajang Superbike.

“Saya mengerti bahwa saya perlu lebih mempercayai ban depan dan, berkat itu, pada akhirnya saya meningkat hampir satu detik,” ungkap Toprak.

Meski masih merasa aneh dengan karakter grip lintasan Catalunya, pembalap Turki itu menganggap pengalaman tersebut sebagai bagian penting dari proses adaptasinya di MotoGP.

“Meskipun begitu, saya cukup terkejut dengan betapa anehnya cengkerangan yang terasa di sini, tetapi pada saat yang sama ini juga menjadi pengingat bahwa saya perlu berhenti berpikir dengan kebiasaan Superbike lama saya dan terus beradaptasi dengan fase baru dalam karier saya dengan motor MotoGP ini,” ujarnya.

Toprak kini berharap dapat kembali membuat kemajuan pada sesi berikutnya setelah mendapatkan banyak pelajaran penting di hari pertama.

“Saya menantikan hari esok karena saya ingin mempraktikkan dengan lebih baik apa yang telah saya pelajari hari ini dan mudah-mudahan membuat langkah maju lainnya,” tutupnya.

Add as preferred source on Google
Exit mobile version