GPNesia.com – Pembalap Spanyol, Iker Lecuona, mendapat kesempatan langka menggantikan Marc Marquez bersama Honda pada musim MotoGP 2023. Meski memiliki akses ke data salah satu pembalap terbaik di dunia, ia mengakui bahwa hal tersebut justru sulit dimanfaatkan.
Karier Iker Lecuona di MotoGP sendiri tidak berjalan mulus. Ia memulai debut pada 2019 bersama tim Tech3, lalu dipromosikan ke tim pabrikan KTM pada 2021. Namun, setelah hanya satu musim, ia kehilangan kursinya dan harus absen dari kelas utama selama satu tahun.
Kesempatan kembali datang pada 2023 ketika Iker Lecuona dipanggil Honda untuk menggantikan Marc Marquez di Jerez, menyusul cedera yang kembali dialami pembalap berjuluk “The Ant of Cervera” tersebut. Saat itu, Marquez sendiri tengah kesulitan mengeluarkan performa maksimal dari motor RC213V, namun tetap menunjukkan bakat luar biasa.
Gaya balap Marquez yang unik, terutama saat pengereman, telah lama menjadi sorotan. Bahkan pembalap seperti Jorge Lorenzo disebut kesulitan meniru data tersebut karena tingkat kepercayaan diri Marquez terhadap motornya sangat tinggi.
Fenomena ini juga menarik perhatian banyak pihak di paddock, termasuk kru teknis yang mengamati telemetri Marquez. Ia dikenal mampu mengendarai motor Honda dengan cara yang tidak bisa ditiru pembalap lain, dan bahkan hingga kini datanya di Ducati masih membuat banyak orang takjub.
Pada musim 2023, Marquez menjalani salah satu periode terberat dalam kariernya di MotoGP. Setelah mengalami enam kecelakaan di GP Jepang, ia memutuskan untuk meninggalkan Honda dan bergabung dengan Ducati. Meski menghadapi berbagai kesulitan, data performanya tetap mencerminkan kualitas kelas dunia.
Selama menggantikan Marquez di Jerez dan juga Joan Mir di Assen, Iker Lecuona sempat mempelajari data kedua pembalap tersebut. Namun, ia justru merasa telemetri Marquez tidak relevan untuk dirinya karena perbedaan gaya berkendara yang terlalu ekstrem.
“Saya harus mengatakan bahwa saya tidak banyak melihat data Marc. Karena memang benar, dia mengambil tikungan dengan cara yang sangat berbeda dari semua orang. Dia punya sesuatu yang ekstra, gaya berkendara yang sangat khas, yang hanya bekerja untuk dirinya sendiri,” ujarnya dalam Fast & Curious Podcast.
Ia menambahkan bahwa sulit memahami bagaimana Marquez mampu melakukan hal-hal yang tampak mustahil di lintasan. Keberanian saat memasuki tikungan dan sikap tanpa kompromi terhadap perilaku motor menjadi ciri khas pembalap tersebut.
“Saya mungkin hanya melihat telemetri Marquez satu atau dua kali, lalu saya merasa itu tidak ada gunanya. Saya akhirnya memilih mempelajari data pembalap lain seperti Joan Mir yang lebih halus, karena data Marc terasa tidak masuk akal,” lanjut Iker Lecuona, dikutip GPNesia dari motogpnews, Senin (20/4/2026).
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa keunggulan Marquez tidak hanya terletak pada pengereman, tetapi juga pada teknik memposisikan tubuh dan distribusi bobot yang sangat presisi. Hal ini menjadi faktor penting dalam MotoGP, terutama dengan penggunaan ban Michelin.
Menurutnya, meskipun pembalap lain bisa menyamai kekuatan pengereman Marquez, mereka tetap tidak mampu meniru cara masuk tikungan yang menjadi keunggulannya. Kombinasi antara kepercayaan diri, teknik, dan insting membuatnya mampu unggul hingga beberapa persepuluh detik di setiap tikungan.
“Marc memiliki gaya yang sangat berbeda dan unik. Jika ingin mengikutinya, Anda harus mengendarai motor seperti dia. Tapi setiap pembalap punya DNA dan gaya masing-masing,” jelasnya.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa bahkan dengan data terbaik sekalipun, tidak semua hal bisa direplikasi dalam balapan. Bagi Iker Lecuona, memahami batas kemampuan diri sendiri menjadi kunci, sekaligus menyadari betapa sulitnya mencapai level seperti Marc Marquez di lintasan MotoGP.
Baca berita terbaru hari ini seputar MotoGP, Moto2, Moto3, F1 dan Otomotif di GPNesia.com melalui Google News + Facebook







