GPNesia.com – Persaingan sengit diprediksi tersaji pada ajang Moto3 Prancis 2026 yang akan digelar akhir pekan ini di Sirkuit Le Mans.
Salah satu sorotan utama tertuju pada duel pembalap Asia Tenggara antara rider Malaysia dan Indonesia, di mana Hakim Danish disebut memiliki catatan lebih unggul dibandingkan debutan sensasional Veda Ega Pratama.
Veda Ega Pratama menjadi salah satu kejutan terbesar pada musim Moto3 2026. Meski baru menjalani musim debut, pembalap Indonesia itu mampu menunjukkan konsistensi yang mengesankan dalam empat seri awal.
Performa stabil tersebut membuatnya bertahan di posisi keenam klasemen sementara Moto3 2026, sebuah capaian yang cukup mencuri perhatian di tengah ketatnya persaingan kelas ringan Grand Prix.
Namun, tantangan besar sudah menantinya di seri Prancis. Selain harus menghadapi karakter sirkuit Le Mans yang teknikal dan tidak mudah diprediksi, Veda juga akan bersaing langsung dengan rival sesama Asia Tenggara yang memiliki pengalaman lebih matang di lintasan tersebut.
Duel antara keduanya sejatinya sudah terbangun sejak Red Bull MotoGP Rookies Cup 2025. Saat itu, Veda Ega Pratama berhasil menutup musim dengan status runner-up, sedangkan Hakim Danish harus puas di peringkat ketiga klasemen akhir.
Meski demikian, perbedaan pengalaman dan jam terbang di lintasan internasional mulai terlihat ketika keduanya melangkah ke level yang lebih tinggi.
Hakim Danish memiliki keunggulan signifikan dalam hal pengalaman, terutama di Sirkuit Le Mans. Pembalap muda asal Terengganu, Malaysia itu telah lebih lama berkecimpung di kompetisi balap junior Eropa.
Ia tercatat tampil di European Talent Cup sejak 2021 hingga 2023, sebelum melanjutkan karier di Red Bull MotoGP Rookies Cup pada 2023 sampai 2025.
Tidak hanya itu, ia juga turun di FIM JuniorGP World Championship pada 2024 dan 2025, yang semakin memperkaya pengalamannya menghadapi berbagai karakter sirkuit dunia.
Pengalaman panjang tersebut membuat Hakim Danish lebih terbiasa dengan tekanan balapan di level Eropa, termasuk di Le Mans yang dikenal memiliki kombinasi tikungan cepat dan perubahan kondisi lintasan yang sulit diprediksi.
Adaptasi yang telah terbangun selama bertahun-tahun menjadi modal penting dalam menghadapi seri Moto3 Prancis 2026.
Sementara itu, Veda Ega Pratama memiliki jalur karier yang berbeda. Ia tidak pernah turun di European Talent Cup dan baru bergabung dalam Red Bull MotoGP Rookies Cup pada musim 2024 hingga 2025, sebelum kemudian naik ke FIM JuniorGP World Championship.
Meski perkembangannya terbilang cepat, pengalaman Veda di lintasan Eropa masih relatif terbatas dibandingkan rivalnya dari Malaysia tersebut.
Dalam catatan performa di Le Mans, perbedaan pengalaman itu terlihat cukup jelas. Selama berkarier di Red Bull MotoGP Rookies Cup, Veda hanya dua kali tampil di Le Mans pada musim 2024.
Saat itu, ia finis di posisi ke-10 pada race pertama dan naik ke posisi ke-7 pada race kedua, sebuah hasil yang cukup solid untuk pembalap muda.
Sebaliknya, Hakim Danish sudah enam kali turun di Le Mans selama tiga musim berbeda di Red Bull MotoGP Rookies Cup.
Pada musim 2023, ia menempati posisi ke-19 pada race pertama dan gagal finis di race kedua. Namun performanya meningkat drastis pada musim 2024 ketika ia berhasil finis keenam dan meraih podium ketiga di race kedua.
Puncaknya terjadi pada musim 2025, saat ia sukses mengamankan dua podium kedua pada kedua race di seri Le Mans, yang mempertegas dominasinya di sirkuit tersebut.
Melihat tren tersebut, banyak pengamat menilai bahwa pengalaman dan konsistensi menjadi faktor yang bisa membuat Hakim Danish lebih diunggulkan di Moto3 Prancis 2026.
Meski begitu, Veda Ega Pratama tetap dianggap memiliki potensi besar untuk memberikan kejutan, mengingat adaptasinya yang cepat di musim debutnya.
Dengan modal pengalaman yang berbeda, pertarungan keduanya di Le Mans dipastikan akan menjadi salah satu sorotan utama akhir pekan ini.
Balapan ini bukan hanya soal perebutan poin, tetapi juga pembuktian siapa yang lebih siap menghadapi tekanan di level Grand Prix yang semakin kompetitif.
