Guenther Steiner Terpesona Keberanian Pembalap MotoGP di Tugas Baru Bersama Tech3 KTM

Guenther Steiner KTM

GPNesia.com – Perjalanan karier Guenther Steiner di dunia motorsport kini memasuki babak baru yang sama sekali berbeda. Setelah bertahun-tahun berkecimpung di Formula 1 sebagai Team Principal Haas F1, pria berkebangsaan Italia-Amerika ini kini menjalani peran strategis di tim Tech3 KTM dalam kejuaraan MotoGP.

Pengalamannya menyaksikan langsung aksi para pembalap di Circuit of The Americas (COTA) pada akhir pekan Grand Prix Amerika Serikat telah membuka matanya terhadap realitas menegangkan yang selama ini mungkin hanya ia lihat dari layar televisi.

Kehadiran Guenther Steiner di tepi trek COTA bukan tanpa alasan. Tim yang kini diasuhnya secara tidak langsung baru saja meraih pencapaian membanggakan melalui Enea Bastianini, pembalap Italia yang sukses mengamankan podium pertama bagi Tech3 KTM di bawah struktur kepemilikan baru.

Penampilan Bastianini sangat mengesankan: finis ketiga pada balapan Sprint, kemudian melakukan pergerakan agresif dari posisi start ke-12 hingga berhasil finis keenam pada balapan utama. Bagi seorang manajer tim yang telah melihat berbagai dinamika balap di ajang F1, apa yang ditunjukkan pembalap MotoGP jelas meninggalkan kesan mendalam.

Dalam wawancara eksklusif dengan MotoGP.com, Guenther Steiner tak sungkan mengakui bahwa MotoGP merupakan pengalaman yang benar-benar baru baginya. Ia dengan tegas menyebut olahraga ini sebagai salah satu, jika bukan yang paling, menarik di dunia.

Yang membuatnya terkesima adalah tingkat kompetitivitas yang luar biasa dan betapa besar pengaruh kemampuan individu pembalap terhadap hasil balapan. Naik turunnya performa sangat bergantung pada sosok yang mengendara motor tersebut—sesuatu yang menurutnya membutuhkan karakteristik manusia yang berbeda dari kebanyakan orang.

“Menurut saya, Anda perlu berbeda untuk melakukan apa yang mereka lakukan,” ungkap Steiner dengan nada kagum.

“Maksud saya, apa yang mereka lakukan di atas motor itu luar biasa. Kita semua mengira kita tahu cara mengendarai motor. Tapi ketika Anda melihat apa yang mereka lakukan, itu bukan sekadar mengendarai motor! Ini adalah mengendarai mesin yang luar biasa, pada level yang sangat tinggi.”

Pernyataan tersebut mencerminkan apresiasi yang mendalam terhadap risiko ekstrem yang harus dihadapi setiap pembalap MotoGP.

Steiner menekankan bahwa meskipun penonton bisa menyaksikan aksi tersebut di layar kaca, membayangkan untuk benar-benar melakukannya adalah hal yang mustahil bagi manusia biasa.

Ia menyebut para pembalap ini sebagai “spesies khusus”—mereka yang sanggup jatuh, bangkit, lalu kembali naik motor untuk melanjutkan pertarungan.

Menatap Masa Depan Strategis

Meski masih dalam masa transisi dan adaptasi dengan peran barunya, Guenther Steiner sudah menunjukkan visi jangka panjang.

Ia mengakui bahwa enam bulan pertama lebih difokuskan untuk memahami orang-orang di dalam tim serta dinamika bisnis MotoGP.

Namun, fokus utamanya kini mulai bergeser menuju persiapan masa depan—khususnya mengantisipasi era baru yang akan dimulai tahun 2027.

“Saat ini saya sangat senang. Tentu saja, saya masih perlu banyak belajar,” tutur Steiner yang dikenal dengan kepribadiannya yang blak-blakan di paddock F1.

“Yang paling saya nikmati adalah ketika kami balapan dan memiliki momen-momen bagus dalam balapan. Kami belum memiliki banyak momen bagus di MotoGP. Kami hanya perlu bekerja keras untuk menjadi lebih baik.”

Steiner menegaskan bahwa keberhasilan sebuah tim adalah hasil kerja kolektif. Meski ia menikmati momen balapan, ia sadar bahwa kehadirannya bukanlah faktor penentu utama saat race berlangsung—kru teknis lah yang menjalankan operasional di pit lane.

Peran strategisnya lebih tertuju pada persiapan jangka panjang tim, termasuk evaluasi kontrak dan arah pengembangan teknologi.

Tantangan Kontrak dan Spekulasi Masa Depan

Situasi kontrak yang sedang dihadapi Tech3 KTM semakin menambah kompleksitas tugas Steiner. Kontrak kerjasama antara Tech3 dengan KTM akan berakhir pada akhir musim ini, dan kabar yang beredar mengaitkan tim ini dengan kemungkinan beralih ke Honda untuk menghadapi regulasi baru mesin 850cc dan ban Pirelli yang akan diterapkan.

Tidak hanya level tim, kontrak pembalap juga memasuki fase krusial. Enea Bastianini dan Maverick Vinales—yang terpaksa absen di COTA karena menjalani operasi bahu—sama-sama akan bebas kontrak akhir tahun ini. Bastianini dikaitkan dengan peluang kembali ke Gresini Ducati, sementara Vinales disebut-sebut sebagai kandidat kuat menggantikan Pedro Acosta di tim pabrikan KTM.

Dengan pengalaman bertahun-tahun menangani tim di ajang elit motorsport, kehadiran Guenther Steiner di Tech3 KTM diharapkan bisa memberikan perspektif baru dalam mengambil keputusan strategis. Apakah ia akan berhasil membawa tim ini melangkah lebih jauh di masa depan? Waktu yang akan menjawabnya.

Baca berita terbaru hari ini seputar MotoGP, Moto2, Moto3, F1 dan Otomotif di GPNesia.com melalui Google News + Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain GPNesia.com.
Exit mobile version