Francesco Bagnaia Ungkap Tekanan dan Mimpi Besar Jelang MotoGP Italia 2026

Avatar photo
Francesco Bagnaia Bidik GP Catalunya 2026
FOTO: DUCATI.COM

GPNesia.com – Pembalap Ducati Lenovo Team, Francesco Bagnaia, membagikan pandangannya menjelang seri MotoGP Italia 2026 yang akan berlangsung di Mugello Circuit pada Minggu (31/5).

Rider yang akrab disapa Pecco itu berbicara mengenai perjalanan karier, tekanan sebagai pembalap, hingga pentingnya rasa takut di lintasan balap.

Francesco Bagnaia mengaku perjalanan kariernya bersama Ducati merupakan mimpi yang telah lama ia bangun sejak kecil.

Murid legenda MotoGP, Valentino Rossi, tersebut mengatakan dirinya selalu bercita-cita bergabung dengan Ducati dan meraih gelar juara dunia bersama tim pabrikan asal Italia itu.

“Ketika saya mulai balapan, saya selalu bermimpi untuk bergabung dengan Ducati dan memenangkan gelar dunia bersama mereka. Dan kami berhasil mewujudkannya. Namun sudah cukup lama, saya tidak berada dalam situasi seperti itu. Saya sangat merindukannya. Saya kehilangan banyak kepercayaan diri terhadap motor dan juga pada diri sendiri. Tetapi tidak ada pilihan lain. Itu bagian dari proses dan saya yakin kami akan kembali ke posisi itu. Saya hanya harus percaya pada prosesnya,” ujar Francesco Bagnaia.

Juara dunia MotoGP musim 2022 dan 2023 itu juga menyoroti besarnya pengorbanan yang harus dilakukan seorang pembalap demi mencapai level tertinggi dalam dunia balap motor.

Menurutnya, perjuangan tersebut tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh orang-orang terdekat yang selalu mendukung perjalanan kariernya.

“Saat kita berkompetisi, orang-orang yang paling banyak berkorban adalah orang-orang di sekitar kita, karena itu adalah passion saya. Jadi sejak masuk ke MotoGP, tujuan saya adalah menjadi juara dunia. Untuk mencapainya, saya melakukan semua yang diperlukan. Itulah mengapa, saya tidak pernah merasa kehilangan apa pun. Mungkin terdengar egois. Tetapi saya percaya bahwa untuk mencapai puncak, kita harus fokus dan orang-orang di sekitar kita harus memahaminya,” jelas pembalap berusia 28 tahun tersebut.

BACA JUGA:  Penurunan Performa Francesco Bagnaia Jadi Tanda Tanya Besar di MotoGP 2026

Baginya, MotoGP merupakan level tertinggi dalam olahraga balap motor. Persaingan ketat antar pembalap di lintasan membuat ajang tersebut memiliki sensasi yang tidak tergantikan.

Pecco menyebut dirinya memiliki karakter berbeda ketika sudah mengenakan helm dan berada di atas motor balap.

“Bagi saya, MotoGP adalah ekspresi tertinggi dari olahraga balap motor. Dua puluh dua pembalap bersaing sengit melawan batas, dan itu sungguh fantastis. Ketika saya berada di lintasan dan visor helm saya tertutup, saya menjadi lebih agresif. Ada sisi lain dari diri saya yang muncul di lintasan tapi tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Selain berbicara soal persaingan di lintasan, Pecco juga mengungkapkan momen paling menegangkan sebelum balapan dimulai.

Menurutnya, suasana di grid beberapa detik sebelum lampu start padam menjadi salah satu pengalaman paling intens bagi setiap pembalap.

“Saat semua orang pergi dan kita ditinggalkan sendirian dengan motor, kita mulai merasakan adrenalin yang luar biasa. Mulut terasa kering dan kita sangat gugup saat itu. Rasanya menakutkan, tapi bukan rasa takut yang sebenarnya. Namun kita tahu bahwa kita harus sempurna. Itu adalah salah satu momen paling intens yang kita alami saat balapan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Pecco menilai rasa takut justru menjadi elemen penting dalam dunia balap motor. Ia percaya setiap pembalap harus memahami batas kemampuan diri agar dapat tetap tampil kompetitif tanpa kehilangan kontrol di lintasan.

“Kita harus punya rasa takut saat balapan. Kita harus tahu di mana batasnya. Bagi saya, batasnya adalah rasa takut. Karena kita tahu betul bahwa ketika kita melebar, kita mulai takut cedera. Jadi rasa takut adalah bagian penting dari dunia balap motor dan kita membutuhkannya untuk mengetahui di mana limitnya,” jelasnya.

BACA JUGA:  Apa Itu MotoGP Guru? Game Prediksi Resmi MotoGP

Meski tekanan dan risiko selalu hadir dalam setiap balapan, pembalap Ducati tersebut mengaku ada kepuasan luar biasa ketika semua berjalan sempurna di lintasan. Sensasi itu, menurut Pecco, menjadi alasan utama para pembalap terus mengejar performa terbaiknya.

“Ketika kita mencetak waktu tercepat dalam time attack, ketika kita melakukan semuanya dengan sempurna, kita bisa merasakan sensasi yang luar biasa dan merasa seperti seorang super hero,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *