Enea Bastianini Bidik Podium di Jerez Usai Momentum Austin

Avatar photo
Enea Bastianini

GPNesia.com – Pembalap MotoGP, Enea Bastianini, memanfaatkan jeda tiga minggu kompetisi untuk memulihkan energi dengan cara sederhana: beristirahat dan memancing.

Kini, ia tiba di Sirkuit Jerez dengan misi mempertahankan performa positif yang ditunjukkan pada balapan terakhir di Texas.

Sebagai satu-satunya wakil tim Tech3 akibat absennya Maverick Vinales, pembalap berusia 28 tahun itu bertekad melanjutkan tren kompetitifnya.

Mengandalkan ban belakang standar yang juga digunakan saat balapan di Austin, Enea Bastianini akan memulai akhir pekan dari kepercayaan diri tinggi.

Ia sebelumnya finis keenam di GP Amerika Serikat dan bahkan sempat meraih posisi ketiga pada Sprint, meski terbantu penalti yang diterima Pedro Acosta.

Menjelang balapan di Jerez, sorotan tidak hanya tertuju pada performanya di lintasan, tetapi juga pada masa depannya di MotoGP, terutama terkait bursa transfer musim 2027. Bastianini mengakui bahwa ia tengah mempertimbangkan berbagai opsi.

“Tak perlu dikatakan bahwa saya memikirkan musim depan. Saya sedang mencari solusi terbaik bagi saya. Kita lihat saja nanti,” ujarnya.

Ketika ditanya soal peluang kembali ke Ducati atau bergabung dengan Aprilia Trackhouse, ia menjawab singkat, “Saya memiliki kontrak dengan KTM. Ini adalah kontrak yang bisa dibicarakan. Saya tidak bisa mengatakan lebih dari itu. Kenyataannya, saya sedang mempertimbangkan banyak hal. Saya mungkin akan mengejutkan kalian.”

Fokus utamanya tetap pada balapan akhir pekan ini. Ia secara terbuka menargetkan podium di Jerez.

“Apa yang ingin saya raih akhir pekan ini? Podium! Kami berhasil meraihnya di Sprint, dan itu tetaplah podium. Saya rasa di Austin kami juga melakukan pekerjaan yang baik pada hari Minggu. Sekarang kami berada di Jerez setelah jeda panjang dan kami siap,” katanya.

Namun, tantangan di lintasan diprediksi tidak akan mudah. Ia menilai Aprilia dan Ducati masih menjadi kekuatan utama musim ini.

“Aprilia selalu berada di depan, bukan hanya dengan Bezzecchi tetapi juga pembalap lain. Ducati juga sangat dekat. Situasinya kemungkinan akan seperti ini sepanjang musim,” jelasnya.

Meski demikian, ia melihat peluang dari detail kecil yang bisa membuat perbedaan besar.

“Tujuan saya adalah memulai dengan perasaan yang baik di lintasan. Jika awal akhir pekan tidak berjalan baik, akan sulit membalikkan keadaan. Kami selalu menunggu hari Jumat untuk memahami arah kami.”

Harapan besar juga datang dari perubahan teknis yang mulai menunjukkan hasil sejak balapan di Austin. Pergantian ban menjadi faktor penting yang membuatnya lebih kompetitif.

“Di dua balapan pertama kami menggunakan ban yang tidak memungkinkan kami cepat. Sejak Austin, ketika kami mengganti ban, kami jauh lebih dekat dengan para pesaing,” ungkapnya seperti GP Nesia kutip dari gpone.com, Jumat (24/4/2026).

Balapan di Texas juga menjadi titik balik bagi rasa percaya dirinya saat mengendarai motor KTM RC16. Ia mengakui sebelumnya kesulitan memahami batas kemampuan motor.

“Sebelum Austin saya tidak puas. Namun di sana sesuatu berubah, saya merasa nyaman dan bisa mendorong hingga batas maksimal,” ujarnya.

Kondisi di Jerez juga menghadirkan tantangan tersendiri karena ia harus berjuang tanpa rekan setim. Absennya Vinales membuatnya kehilangan referensi penting selama akhir pekan balapan.

“Di Austin saya merindukan rekan setim saya. Kami saling membantu. Tanpa Maverick, mungkin akan sedikit lebih sulit, tetapi di sisi lain bisa lebih sederhana jika kami membutuhkan bantuan dari tim lain,” katanya.

Di luar performa, Enea Bastianini juga menyoroti isu keselamatan yang kembali menjadi perhatian setelah beberapa insiden dan keputusan kontroversial dalam balapan sebelumnya, termasuk pemendekan GP Brasil. Ia menilai diskusi di Komisi Keamanan belum menghasilkan perubahan nyata.

“Ada Komisi Keamanan, tetapi sangat sulit merasa puas dengan hasilnya. Kita banyak bicara, tapi tidak selalu ada perubahan. Saya sedikit kecewa,” ujarnya. Bahkan ia mengaku jarang menghadiri pertemuan tersebut karena tidak melihat dampak signifikan.

Menurutnya, perlu ada langkah konkret, termasuk kemungkinan membentuk asosiasi pembalap yang lebih kuat, mirip dengan IRTA untuk tim.

“Ini soal keamanan. Kita harus melakukan sesuatu yang berbeda. Kita tidak bisa hanya berbicara, kita harus menyelesaikan masalah,” tegasnya.

Ia juga mengakui bahwa tidak semua pembalap memiliki tingkat kepedulian yang sama terhadap isu ini, yang membuat upaya kolektif menjadi lebih sulit.

“Ini tidak bisa jatuh dari langit. Kita harus yang berbicara dan memutuskan langkah selanjutnya,” tambahnya.

Bastianini menutup dengan penegasan bahwa keselamatan harus tetap menjadi fondasi utama olahraga ini.

“Olahraga kita sudah berkembang dalam hal keamanan, tetapi masih banyak yang bisa dilakukan. Kita harus menggunakan masa lalu sebagai acuan untuk memperbaiki masa depan,” pungkasnya.

Add as preferred source on Google

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain GPNesia.com.