GPNesia.com – Beberapa hari menjelang kembalinya kejuaraan dunia MotoGP pada seri keempat di Jerez 2026, pembalap asal Spanyol tersebut membuka cerita panjang tentang perjalanan kariernya dalam sebuah wawancara mendalam bersama podcast “Imagin” dan “Tengo un Plan”.
Dalam sesi tersebut, Marc Marquez yang telah meraih sembilan gelar juara dunia itu menelusuri berbagai fase penting hidupnya di lintasan balap, mulai dari keputusan besar meninggalkan Honda hingga beradaptasi dengan Ducati, serta refleksi tentang rasa takut, cedera, dan kemungkinan pensiun yang kini semakin terasa dekat, lebih karena kondisi fisik daripada dorongan mental.
Ia menggambarkan bagaimana angka-angka prestasi yang telah diraihnya terasa begitu besar hingga memunculkan perasaan reflektif. Namun, bagi dirinya, dunia balap bukan sekadar statistik. Ia menegaskan bahwa yang membuatnya terus bertahan adalah gairah kompetisi, bukan sekadar mengendarai motor.
Menurutnya, sensasi menang dan bertarung di lintasan adalah bentuk “ketagihan adrenalin” yang sulit digantikan oleh hal lain. Bahkan dalam sesi tes, ia mengaku mudah bosan hingga pernah kehilangan fokus, berbeda dengan akhir pekan balapan yang selalu penuh intensitas dan tekanan tinggi.
Perjalanan kariernya juga diwarnai momen penting saat pertama kali mencoba motor Ducati di Valencia. Saat itu, ia mengaku merasakan tekanan luar biasa karena publik mempertanyakan apakah dirinya masih mampu tampil cepat dengan motor baru tersebut.
Rasa gugup itu menjadi salah satu titik paling emosional dalam kariernya, ditambah keraguan pribadi yang sempat muncul mengenai kemampuannya beradaptasi. Namun, ia berhasil membuktikan diri setelah bergabung dengan tim Gresini dan memulai babak baru bersama Ducati.
Keputusan meninggalkan Honda menjadi salah satu pilihan paling sulit dalam hidupnya. Ia menggambarkan hubungan panjangnya dengan pabrikan Jepang itu seperti kisah cinta yang tidak lagi sehat untuk dipertahankan. Meski secara emosional berat, keputusan itu diambil dengan pertimbangan rasional demi masa depan kariernya.
Marc Marquez menegaskan bahwa dirinya tidak lagi melihat “lingkaran” kariernya di Honda sebagai sesuatu yang belum selesai, karena menurutnya fase itu sudah tertutup secara pribadi, terutama setelah periode sulit akibat cedera pada 2020.
Dalam perjalanannya, ia juga menyoroti tekanan besar yang dihadapi atlet profesional di era media modern. Ia menyampaikan pesan tegas bahwa performa adalah jawaban utama dalam dunia balap: berikan motor kompetitif, dan ia akan menunjukkan kemampuannya.
Di balik semua itu, ia mengakui bahwa keputusan besar dalam kariernya sering kali lebih dipengaruhi oleh hati yang terikat pada tim lama, meski pada akhirnya akal sehat menjadi penentu utama.
Topik rasa takut juga menjadi bagian penting dari refleksinya. Menurutnya, ketakutan di lintasan balap bisa menjadi kelemahan sekaligus kekuatan.
Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai pembalap yang cenderung mengabaikan risiko, namun pengalaman cedera membuatnya belajar untuk lebih menghitung bahaya.
Meski demikian, naluri bertarungnya tetap dominan, yang sering kali mendorongnya mengambil risiko tinggi baik dalam latihan maupun balapan sesungguhnya. Proses ini, menurutnya, dibantu oleh tim dan pengalaman panjang yang membentuk kedewasaannya sebagai atlet.
Marc Marquez juga menyinggung bahwa dalam dunia balap, bakat saja tidak cukup. Dibutuhkan keberanian dan sedikit “kegilaan” untuk mampu bersaing di kecepatan ekstrem hingga ratusan kilometer per jam, melakukan manuver berbahaya, dan bertarung ketat di lintasan.
Namun, ia menekankan bahwa bukan pembalap paling nekat yang selalu menang, melainkan mereka yang mampu mengendalikan keberanian tersebut secara tepat.
Hubungan pribadinya dengan sang adik, Alex Marquez, juga menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya. Ia menyebut Alex bukan hanya saudara kandung, tetapi juga rekan sekaligus sahabat terbaik dalam dunia balap.
Keduanya kerap berbagi perjalanan, pengalaman, serta saling membantu berkembang sebagai pembalap dan individu. Tahun-tahun terakhir bahkan dianggap sebagai salah satu periode paling berkesan dalam karier mereka berdua.
Ketika membahas masa depan, ia mengakui bahwa pensiun adalah sesuatu yang pasti akan terjadi. Namun, ia menegaskan tidak ingin mengakhiri karier dengan perasaan tidak tuntas.
Ia ingin pensiun dalam keadaan tenang karena telah memberikan segalanya di lintasan, meskipun mungkin tidak selalu berakhir dengan sempurna. Baginya, keputusan untuk berhenti akan lebih dipengaruhi oleh kondisi fisik, terutama setelah serangkaian cedera yang ia alami dalam beberapa tahun terakhir.
Ia juga menyadari bahwa masa kejayaan finansialnya di dunia MotoGP merupakan hasil dari performa dan konsistensi.
Menurutnya, sistem kontrak dalam dunia balap sangat erat dengan hasil di lintasan—semakin tinggi prestasi, semakin besar pula apresiasi yang diterima. Namun ia menegaskan bahwa uang bukanlah motivasi utama dalam kariernya, melainkan konsekuensi dari kemenangan dan kerja keras.
Baca berita terbaru hari ini seputar MotoGP, Moto2, Moto3, F1 dan Otomotif di GPNesia.com melalui Google News + Facebook







