GPNesia.com – Pembalap McLaren, Oscar Piastri, melontarkan candaan bahwa dirinya atau rekan setimnya, Lando Norris, mungkin tidak akan tetap berada di tim berwarna papaya tersebut jika persaingan internal mereka dalam perebutan gelar Formula 1 musim lalu berubah menjadi situasi yang “buruk”.
Pernyataan ini disampaikan sebagai refleksi ringan dari dinamika ketat namun tetap sehat di dalam tim berbasis Woking itu.
Dalam sebuah wawancara di High Performance Podcast, Oscar Piastri menegaskan bahwa hubungan dirinya dengan Norris tidak mengalami perubahan meski tekanan perebutan gelar semakin meningkat.
Ia menilai kemampuan keduanya untuk memisahkan urusan di lintasan dan di luar lintasan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas tim.
“Sejujurnya saya tidak merasa ada yang berubah. Kami berdua cukup baik dalam memisahkan apa yang terjadi di lintasan dan di luar lintasan,” ujar Piastri.
Ia juga menambahkan bahwa aktivitas pemasaran yang harus mereka jalani bersama tetap berjalan seperti biasa tanpa perubahan signifikan, bahkan hubungan keduanya disebut semakin membaik di penghujung musim dibandingkan enam bulan pertama saat mereka masih saling menyesuaikan diri.
Pada akhir musim, Oscar Piastri harus puas tertinggal 13 poin dari Lando Norris dalam klasemen perebutan gelar, yang juga melibatkan Max Verstappen yang sempat bangkit ke posisi kedua.
Sebagai pemenang sembilan grand prix, Piastri menyoroti bagaimana dirinya dan Norris menunjukkan kedewasaan serta ketenangan dalam menghadapi tekanan kompetisi internal yang ketat tersebut.
“Kami menghabiskan begitu banyak waktu bersama setiap tahun, jadi sebenarnya tidak banyak yang berubah. Kami sama-sama tahu situasinya, sama-sama ingin saling mengalahkan, dan hanya satu yang bisa menang. Kami paham itu semua,” ungkapnya.
Dalam pernyataan yang bernada candaan, Oscar Piastri bahkan mengatakan bahwa jika suasana internal menjadi buruk, mungkin saja salah satu dari mereka tidak akan berada di sana lagi mengenakan warna oranye McLaren.
Namun ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak pernah terjadi karena hubungan mereka tetap terjaga dengan baik.
“Jika itu benar-benar menjadi buruk, mungkin ada pertanyaan apakah salah satu dari kami masih duduk di sini memakai warna oranye,” katanya sambil tertawa.
Ia juga menekankan bahwa menjaga dinamika tim tetap sehat adalah hal yang sangat penting ke depan. Menurutnya, meski musim berjalan tidak selalu sesuai harapan sejak awal tahun, situasi bisa saja menjadi jauh lebih buruk jika konflik internal tidak dikelola dengan baik.
“Kalau tidak dijaga, bisa saja jadi 10 kali lebih buruk untuk waktu yang lama. Kami berdua sadar akan hal itu,” tambahnya.
Sepanjang musim, beberapa momen krusial terjadi di lintasan seperti di Kanada, Singapura, dan Austin, termasuk sejumlah insiden nyaris tabrakan antara keduanya. Namun semua kejadian tersebut disebut cepat diselesaikan secara internal tanpa berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
Piastri menegaskan bahwa dalam perebutan gelar, terutama antar rekan setim, sering kali muncul dinamika permainan psikologis atau upaya menyembunyikan strategi. Namun ia menilai dirinya dan Norris tidak terlibat dalam pola seperti itu.
“Kami memang beberapa kali bertemu di lintasan, tapi tidak pernah sampai ke arah permainan seperti itu. Dalam perebutan gelar antar rekan setim, biasanya ada unsur taktik atau saling menyembunyikan sesuatu. Tapi kami tidak seperti itu,” jelasnya.
Ia juga menggambarkan bagaimana konflik kecil bisa dengan mudah berkembang menjadi siklus balas-membalas jika tidak dikendalikan. Menurutnya, hal tersebut pernah terlihat pada tim lain di masa lalu, sehingga penting bagi McLaren untuk menghindari situasi serupa.
“Tidak butuh banyak untuk masuk ke siklus seperti ‘saya lakukan ini, jadi kamu balas’. Dan itu bisa terus meningkat,” ujarnya.
Oscar Piastri menambahkan bahwa jika pun terjadi kesalahan di lintasan, hal tersebut tidak pernah dilakukan dengan sengaja.
Ia juga memberikan apresiasi kepada tim McLaren yang berhasil menjaga situasi tetap terkendali dan mencegah potensi konflik berkembang lebih jauh, sesuatu yang menurutnya pernah terjadi antara rekan setim di era sebelumnya.
“Bahkan kalau kami merasa melewati batas, kami tidak pernah harus berhadapan secara langsung dengan cara yang buruk. Kami bisa mengakui kesalahan, dan tim juga memastikan kami bertanggung jawab. Jadi sistemnya berjalan dengan baik untuk menjaga suasana tetap sehat,” tutupnya.







