GP Nesia – Dalam lanjutan dinamika panas dunia Formula 1, Liam Lawson, pembalap muda Selandia Baru itu mengaku harus menerapkan kewaspadaan ekstra saat berhadapan langsung dengan Sergio Perez, terutama setelah insiden yang terjadi pada sprint Grand Prix Kanada 2026 di Circuit Gilles Villeneuve.
Situasi tersebut kembali menyorot hubungan kompetitif yang sudah lama memanas di antara keduanya sejak perubahan besar di jajaran tim Red Bull menjelang musim 2025.
Ketegangan yang terjadi tidak muncul secara tiba-tiba. Rivalitas keduanya berakar sejak keputusan Red Bull yang memberikan kesempatan kepada Perez—peraih enam kemenangan grand prix—untuk kembali ke kursi utama, sementara sang pembalap muda sebelumnya mengambil alih posisi tersebut dalam periode transisi yang penuh tekanan.
Sejak saat itu, persaingan untuk membuktikan diri sebagai kandidat kuat rekan Max Verstappen telah menjadi pemicu berbagai duel sengit di lintasan.
Persaingan tersebut semakin rumit ketika Perez kembali menjadi pembalap penuh waktu bersama Cadillac pada awal musim berikutnya.
Kehadirannya langsung menghidupkan kembali tensi lama yang sempat mereda.
Dalam Grand Prix Australia, keduanya sudah terlibat pertarungan intens dari bagian belakang grid, memperlihatkan bahwa hubungan kompetitif mereka belum benar-benar mereda.
Situasi serupa kembali terjadi di Kanada. Memulai sprint dari posisi paling belakang, pembalap Racing Bulls itu berusaha keras menembus barisan tengah.
Namun, di tengah upaya tersebut, ia kembali bertemu Perez dalam duel ketat yang berlangsung di lintasan sempit dan penuh tekanan.
Berbeda dengan insiden di Melbourne yang cenderung diredam secara komentar, kali ini Liam Lawson lebih terbuka dalam mengungkapkan pandangannya kepada media, termasuk RacingNews365.
Terkait insiden di Tikungan 13 yang bahkan tidak tertangkap kamera siaran, ia menjelaskan situasinya dengan cukup tegas.
Dalam keterangannya, ia menyebut bahwa kondisi balapan membuatnya harus lebih berhati-hati ketika berhadapan langsung dengan rivalnya tersebut.
“Tentunya, mencoba melewati lapangan dari belakang, dan saya harus berhati-hati saat balapan dengannya.”
Ia juga menambahkan bahwa gaya balap Perez yang agresif menjadi faktor utama dalam insiden tersebut.
Menurutnya, kontak di lintasan membuatnya memilih untuk tidak melanjutkan duel demi menghindari risiko kehilangan poin yang lebih besar.
“Dia cukup agresif, jadi pada akhirnya dia mendorong saya keluar, dan saya memutuskan untuk tidak membalapnya lagi. Itu tidak benar-benar sepadan untuk tidak mendapatkan poin. Tapi ya, sepertinya ini adalah hal yang terjadi ketika saya balapan dengannya.”
Dalam akhir balapan sprint tersebut, Perez dijatuhi penalti waktu 10 detik akibat manuver yang dinilai melanggar aturan.
Hukuman itu membuat posisinya turun dari P11 saat finis menjadi P14, sementara posisi tersebut kemudian diwarisi oleh rivalnya.
Dokumen resmi steward FIA menjelaskan kronologi kejadian secara rinci: mobil bernomor 30 mencoba melakukan overtaking terhadap mobil 11 di lintasan lurus sebelum Tikungan 13. Mobil 11 kemudian bergerak ke sisi kanan lintasan, sebelum kembali ke sisi kiri, yang menyebabkan mobil 30 terdorong keluar lintasan.
“Mobil 30 mencoba menyalip Mobil 11 di lintasan lurus sebelum Turn 13. Mobil 11 bergerak ke kanan lintasan, kemudian bergerak kembali ke kiri, memaksa Mobil 30 keluar dari lintasan.”
Insiden tersebut kembali mempertegas bahwa rivalitas keduanya belum menunjukkan tanda mereda. Dalam konteks persaingan yang semakin ketat di papan tengah hingga depan, setiap duel di lintasan kini memiliki konsekuensi besar, baik dari sisi poin maupun psikologis.
Di tengah sorotan publik dan tekanan kompetitif yang terus meningkat, hubungan antara dua pembalap ini tampaknya masih akan menjadi salah satu cerita paling menarik sepanjang musim, terutama jika keduanya kembali bertemu dalam situasi serupa di seri-seri berikutnya.







