GPNesia.com – Mantan pebalap Formula 1, Johnny Herbert, memberikan pandangan tegas kepada juara dunia tujuh kali, Lewis Hamilton, terkait masa depan kariernya di ajang balap paling bergengsi tersebut.
Herbert menekankan bahwa sang legenda perlu bersikap jujur pada dirinya sendiri mengenai kapan waktu yang tepat untuk mengakhiri karier.
Sebagai salah satu nama terbesar dalam sejarah F1, Lewis Hamilton telah menyamai rekor Michael Schumacher dengan tujuh gelar juara dunia.
Ia juga memegang rekor kemenangan balapan terbanyak serta pole position terbanyak sepanjang sejarah Formula 1, menjadikannya salah satu pebalap paling sukses yang pernah ada.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, perjalanan Hamilton tidak selalu mulus. Sejak gagal meraih gelar dunia kedelapan secara kontroversial pada 2021, ia belum kembali mampu bersaing secara konsisten dalam perebutan gelar juara dunia.
Kondisi tersebut berlanjut hingga ia mengambil keputusan besar dengan meninggalkan Mercedes dan bergabung dengan Ferrari pada musim 2025.
Musim pertamanya bersama tim Kuda Jingkrak itu menjadi periode tersulit dalam kariernya. Penampilannya jauh dari ekspektasi dan disebut sebagai musim terburuk sepanjang karier panjangnya di Formula 1.
Meski demikian, awal musim 2026 menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Lewis Hamilton berhasil meraih podium pertamanya bersama Ferrari pada Grand Prix China, sebuah pencapaian yang menandai titik balik setelah periode sulit.
Meski begitu, posisinya di klasemen sementara masih belum ideal. Setelah tiga seri awal musim, ia masih berada di belakang kedua pebalap Mercedes serta rekan setimnya sendiri, Charles Leclerc.
Situasi ini menunjukkan bahwa persaingan internal maupun eksternal masih menjadi tantangan besar baginya.
Hamilton sendiri diketahui telah menandatangani kontrak multi-tahun dengan Ferrari sejak 2024 dan sempat menyatakan bahwa ia masih memiliki komitmen jangka panjang bersama tim barunya tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya masih memiliki motivasi tinggi dan belum berpikir untuk pensiun dalam waktu dekat.
Namun, Johnny Herbert menilai ada fase yang harus dihadapi setiap pebalap, termasuk Hamilton. Dalam sebuah podcast, Herbert menyampaikan bahwa kejujuran terhadap diri sendiri menjadi faktor penting ketika performa mulai tidak lagi sama seperti masa kejayaan.
Menurut Herbert, setiap atlet pada akhirnya akan merasakan perubahan, terutama ketika harus bersaing dengan generasi baru yang lebih muda dan semakin kompetitif.
Ia menekankan bahwa Lewis Hamilton kini berada dalam situasi di mana ia harus berhadapan dengan rekan setim yang lebih muda serta gelombang pebalap baru yang terus berkembang.
Herbert juga menyinggung bahwa dalam sejarah Formula 1, setiap era selalu menghadirkan pebalap yang semakin lengkap dan kompetitif, mulai dari generasi Fittipaldi, Stewart, Clark, hingga era modern seperti Schumacher dan Hakkinen. Pola tersebut, menurutnya, terus berulang dan membuat persaingan semakin sulit bagi generasi sebelumnya.
Ia menambahkan bahwa pada titik tertentu, setiap pebalap akan menyadari bahwa performa mereka tidak lagi semudah dulu.
Pengalaman pribadi Herbert di akhir kariernya menjadi salah satu alasan ia menekankan pentingnya pengakuan terhadap perubahan tersebut.
Meski demikian, Herbert tetap mengakui bahwa Lewis Hamilton masih memiliki motivasi tinggi dan terus berusaha mendorong dirinya hingga batas maksimal.
Namun, ia kembali menegaskan bahwa keputusan untuk bertahan atau berhenti harus datang dari kejujuran pribadi, bukan tekanan eksternal.
Pandangan Herbert ini menambah panjang diskusi mengenai masa depan Hamilton di Formula 1, di tengah upayanya untuk kembali bersaing di papan atas bersama Ferrari.
Hingga kini, Lewis Hamilton masih menjadi salah satu figur paling berpengaruh di dunia balap, tetapi pertanyaan tentang kapan ia akan mengakhiri kariernya mulai semakin sering muncul di tengah ketatnya persaingan generasi baru. [crash.net]







