GPNesia.com – Pembalap Pertamina Enduro VR46 Racing Team, Fabio Di Giannantonio, menarik perhatian pada seri MotoGP Hungaria 2026 setelah mengungkap pendekatan unik dalam penggunaan paket aerodinamika yang terinspirasi dari Formula 1.
Metode tersebut ia terapkan saat menjalani akhir pekan balap di Balaton Park, dengan fokus pada fleksibilitas pemilihan fairing sesuai karakter lintasan.
Memulai sesi dengan spesifikasi aerodinamika Ducati versi 2026, Fabio Di Giannantonio kemudian mengambil keputusan untuk kembali menggunakan konfigurasi yang lebih lama pada hari Sabtu.
Keputusan ini mencerminkan pendekatan tidak konvensional, di mana ia tidak terpaku pada satu paket aero, melainkan menyesuaikannya dengan kondisi trek dan kebutuhan performa.
Dalam dunia MotoGP, sebagian besar pembalap biasanya memilih satu paket aerodinamika yang paling sesuai sejak awal dan mempertahankannya sepanjang akhir pekan.
Namun, Fabio Di Giannantonio justru melihat adanya keuntungan dari fleksibilitas tersebut, terutama ketika menghadapi sirkuit dengan karakter grip dan kecepatan yang berbeda.
Menurutnya, inspirasi dari Formula 1 berperan besar dalam cara ia memahami kompromi aerodinamika. Ia menilai bahwa setiap fairing memiliki kelebihan sekaligus konsekuensi yang harus dipertimbangkan secara situasional, bukan absolut.
“Dari sudut pandang saya, cara berpikir seperti di F1 sangat membantu. Satu paket aerodinamika bisa memberi keuntungan tertentu, tapi juga bisa mengorbankan aspek lain,” ungkap Fabio Di Giannantonio saat menjelaskan pendekatan teknisnya di Hungaria.
Ia menambahkan bahwa di beberapa lintasan, terutama dengan variasi grip dan kecepatan yang signifikan, timnya kini memiliki dua opsi aero yang sama-sama relevan namun dengan karakter berbeda.
Kondisi ini, menurutnya, membuat strategi pemilihan fairing menjadi lebih kompleks dan menyerupai “permainan jebakan” dalam menentukan pilihan terbaik.
Meski demikian, Fabio Di Giannantonio menegaskan bahwa data yang dimiliki tim saat ini cukup membantu dalam mengambil keputusan.
Ia menyebut bahwa evaluasi teknis mampu menunjukkan dengan jelas kapan sebuah paket aerodinamika benar-benar dibutuhkan atau justru tidak efektif digunakan.
Fabio Di Giannantonio Amankan Posisi Keempat
Di sisi performa, Fabio Di Giannantonio berhasil mengamankan posisi keempat saat kualifikasi di Balaton Park, meskipun sempat mengalami insiden kecelakaan pada awal sesi FP1.
Sayangnya, performanya menurun pada balapan sprint setelah start yang kurang optimal, membuatnya harus finis di posisi ke-10 dan keluar dari zona poin.
Ia juga mengakui adanya tantangan besar pada fase awal balapan, terutama terkait stabilitas bagian depan motor. Kondisi ban belakang dengan grip tinggi membuat bagian depan motor terasa lebih sulit dikendalikan, khususnya saat keluar dari tikungan awal.
“Awalnya tidak terlalu buruk, tetapi di tikungan pertama saya kesulitan mengontrol motor karena grip belakang sangat kuat, sehingga bagian depan menjadi kurang stabil di lap awal,” ujarnya.
Menurutnya, situasi tersebut biasanya lebih mudah dikendalikan ketika ia berada di barisan depan. Namun saat start dari posisi lebih belakang, tekanan balapan membuat kondisi tersebut menjadi lebih sulit dan ia justru lebih sering diserang oleh pembalap lain, bukan sebaliknya.
Ia juga menyoroti kesulitan untuk menyalip pembalap seperti Pecco dalam kondisi tersebut, karena karakter motor belum sepenuhnya berada pada titik optimal di awal lomba.
Insiden di sesi Q2 juga menjadi sorotan tersendiri. Dalam kecelakaan tersebut, Fabio Di Giannantonio mengaku beruntung karena mesin motornya tidak mati, sehingga ia tidak perlu kembali ke area belakang pembatas untuk menghidupkan ulang kendaraan.
Ia menjelaskan bahwa kondisi tangannya, yang masih dalam pemulihan akibat cedera jari dari insiden bersama Alex Marquez di Barcelona, membuatnya tidak akan mengambil risiko untuk mempertahankan genggaman pada motor saat terjatuh demi menjaga kopling tetap aktif.
“Saya terjatuh dan kehilangan kendali bagian depan, tetapi mesin masih menyala. Saya beruntung,” kata Fabio Di Giannantonio.
Ia menegaskan bahwa dalam kondisi fisik saat ini, keselamatan jari menjadi prioritas utama. Jika kembali terjatuh, ia memilih segera meninggalkan motor tanpa memaksakan diri mempertahankan posisi demi menghindari risiko cedera yang lebih serius.
Dengan pendekatan teknis yang semakin adaptif serta strategi aerodinamika yang fleksibel, Fabio Di Giannantonio menunjukkan bahwa MotoGP modern kini tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga kecerdasan dalam membaca kondisi teknis dan risiko di setiap lintasan.












