GPNesia.com – Uji coba alat komunikasi radio helm di MotoGP telah usai berlangsung hingga akhirnya mendapat catatan penting dari pembalap.
Ajang balap motor paling prestisius di dunia ini kini selangkah lebih dekat menuju era komunikasi digital yang lebih modern melalui pengembangan sistem komunikasi radio helm terbaru.
Inovasi tersebut mulai diuji secara serius dalam sesi tes resmi di Sirkuit Jerez, Spanyol, pekan ini, dan langsung memperoleh tanggapan dari para pebalap yang merasakannya di lintasan.
Perangkat radio helm ini dikembangkan selama beberapa tahun dengan tujuan utama meningkatkan standar keselamatan dalam balapan.
Pebalap andalan Monster Energy Yamaha, Fabio Quartararo, memberikan kesan positif setelah mencoba sistem tersebut.
Ia menilai ada kemajuan signifikan dalam pengembangan teknologi ini, meskipun masih terdapat sejumlah kekurangan yang perlu diperbaiki.
“Sejujurnya, mereka telah membuat langkah besar,” ujar Quartararo dikutip dari Crash.net, Jumat (1/5).
Meski demikian, juara dunia MotoGP 2021 itu mengungkapkan bahwa kualitas audio masih menjadi perhatian utama. Ia menyebut suara yang diterima sudah terdengar, tetapi belum cukup jelas untuk kondisi balap yang ekstrem.
“Tetapi masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar (suara) terdengar benar-benar jernih. Karena saya bisa mendengar, tapi belum terlalu jelas,” tambahnya.
Pengembangan teknologi radio helm ini memang mengalami perjalanan panjang.
Sebelumnya, MotoGP sempat menguji teknologi bone conduction atau hantaran tulang yang menyalurkan suara melalui getaran di tulang kepala pembalap.
Namun, pendekatan tersebut mendapat kritik dari sejumlah pebalap karena dianggap kurang nyaman.
Salah satu kritik datang dari Johann Zarco yang pada tes di Aragon tahun lalu mengeluhkan ketidaknyamanan perangkat tersebut.
Ia bahkan menyarankan agar MotoGP mengadopsi sistem komunikasi yang telah lebih matang digunakan di Formula 1.
Quartararo pun mengonfirmasi bahwa versi terbaru yang diuji di Jerez kini telah menggunakan sistem in-ear, di mana suara langsung masuk ke dalam telinga pembalap.
“Ini baru pertama atau kedua kalinya mereka melakukan tes. Tapi itu menyenangkan,” ujarnya.
Ia juga berencana untuk kembali mencoba perangkat tersebut dalam sesi pengujian berikutnya yang dijadwalkan berlangsung di Barcelona bulan depan.
Dari sisi pengembangan, Chief Sporting Officer Dorna Sports (MotoGP), Carlos Ezpeleta, menjelaskan bahwa sistem komunikasi ini nantinya akan terintegrasi dengan teknologi GPS yang lebih canggih.
Implementasi penuh GPS generasi terbaru tersebut ditargetkan mulai berlaku pada tahun 2027.
“Idenya adalah sistem ini ditandai secara GPS. Jadi, jika Anda mendekati area dengan bendera kuning, hujan, atau permukaan licin, sistem akan memperingatkan pembalap di trek lurus sebelum memasuki sektor tersebut,” jelas Ezpeleta.
Saat ini, sistem radio helm masih difokuskan pada komunikasi satu arah dari Race Direction kepada pembalap, khususnya dalam situasi darurat.
Namun, ke depan terbuka kemungkinan untuk mengembangkan komunikasi dua arah antara pembalap dan tim, seperti yang telah lama diterapkan di Formula 1.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya MotoGP mengejar ketertinggalan teknologi dari ajang balap mobil tersebut.
Di Formula 1, komunikasi radio dua arah telah menjadi standar sejak akhir 1980-an dan memainkan peran krusial dalam strategi balapan.
Perbedaan utama antara kedua ajang tersebut terletak pada kompleksitas penggunaan teknologi.
Di Formula 1, tim dapat memantau ribuan data sensor secara real-time dan memberikan instruksi teknis secara rinci, mulai dari pengaturan mesin hingga strategi penggunaan ban.
Sementara itu, di MotoGP tantangan teknis jauh lebih besar. Faktor kebisingan angin yang ekstrem serta pergerakan kepala pembalap yang sangat dinamis membuat implementasi sistem komunikasi menjadi lebih sulit.
Oleh karena itu, penggunaan radio helm saat ini masih difokuskan pada aspek keselamatan, demi menjaga konsentrasi pembalap yang melaju dengan kecepatan lebih dari 350 km/jam tanpa perlindungan kokpit.







